གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Okta Saputri 2213031011

EKONDUS A2025 -> DISKUSI

Okta Saputri 2213031011 གིས-
Nama: Okta Saputri
NPM: 2213031011

Menurut saya, setelah menyimak video tersebut, bisa disimpulkan bahwa Industry 5.0 adalah tahap lanjutan dari Industry 4.0 yang tidak hanya menekankan otomatisasi dan efisiensi, tetapi juga kolaborasi antara manusia dan teknologi. Kalau di Industry 4.0 pabrik pintar (smart factory) lebih banyak berfokus pada mesin, robot, dan sistem otomatis, maka di Industry 5.0 justru manusia kembali menjadi pusat dari proses industri. Di dalam video dijelaskan bahwa teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), robot kolaboratif (cobots), dan Internet of Things (IoT) bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membantu dan meningkatkan kemampuan manusia agar bekerja lebih kreatif dan produktif. Jadi, manusia dan mesin bekerja bersama sebagai satu tim.

Kaitannya dengan topik perkuliahan Smart Factories & Industry 5.0, saya melihat bahwa konsep pabrik pintar ke depan akan semakin manusiawi dan berkelanjutan. Smart factory tidak hanya soal kecepatan produksi atau efisiensi biaya, tapi juga tentang menciptakan lingkungan kerja yang aman, ramah, dan memberikan nilai tambah bagi pekerja dan masyarakat. Selain itu, Industry 5.0 juga menekankan pentingnya sustainability (keberlanjutan) dan resilience (ketahanan industri). Artinya, pabrik tidak hanya harus canggih, tapi juga tahan terhadap perubahan global, seperti krisis energi atau disrupsi teknologi. Jadi, bisa disimpulkan bahwa masa depan industri bukan hanya soal teknologi pintar, tetapi bagaimana teknologi itu bisa digunakan untuk memperkuat peran manusia dan menciptakan keseimbangan antara efisiensi, kreativitas, dan tanggung jawab sosial.

EKONDUS A2025 -> DISKUSI

Okta Saputri 2213031011 གིས-
Nama: Okta Saputri
NPM: 2213031011

Esensi artikel “The Impact of Globalization to Business and the World Economy” karya Herbert Nnamdi Okoye dan Linda Chika Nwaigwe adalah bahwa globalisasi merupakan kekuatan utama yang menghubungkan dunia secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Penulis menggambarkan globalisasi sebagai proses kembalinya dunia pada “komunitas tanpa batas,” di mana perdagangan, teknologi, dan komunikasi menjadi penggerak utama interaksi global. Artikel ini menyoroti bahwa kemajuan teknologi informasi berperan besar dalam mempercepat arus barang, jasa, dan informasi antarnegara. Misalnya, sistem elektronik dan internet memungkinkan transaksi bisnis internasional berlangsung secara instan dan efisien. Selain dampak ekonomi, penulis juga membahas dimensi sosial globalisasi mendorong persatuan melalui olahraga dan musik, serta memerangi diskriminasi ras dan agama. Di sisi lain, globalisasi juga membawa tantangan seperti ketimpangan ekonomi, konflik antarbangsa, dan dominasi negara industri terhadap negara berkembang.

Secara konseptual, artikel ini memandang globalisasi sebagai pedang bermata dua, yang artinya membuka peluang kolaborasi, inovasi, dan kemajuan industri, tetapi juga dapat memicu ketergantungan dan marginalisasi ekonomi di dunia ketiga. Namun demikian, penulis menegaskan bahwa manfaat globalisasi lebih besar daripada risikonya, asalkan dikelola dengan etika, solidaritas internasional, dan semangat kemanusiaan. Intinya, globalisasi menurut Okoye dan Nwaigwe bukan hanya fenomena ekonomi, tetapi juga gerakan moral untuk membangun dunia yang lebih adil dan tanpa sekat.