NAMA : BERLI ANTA ATRIZKI
NPM : 2217051076
KELAS : D
PRODI : S1 ILMU KOMPUTER
Pada Oktober 2013, terjadi konflik antara warga Indonesia dan Timor Leste di perbatasan karena pembangunan jalan baru yang merusak tiang-pilar perbatasan dan zona bebas. Konflik ini berlanjut setelah insiden penggiringan sapi dan melibatkan ratusan warga di kedua belah pihak. Hal serupa terjadi sebelumnya pada 2012 di perbatasan Timor Tengah Utara-Oecussi. Pada tahun 2005, kedua negara sepakat bahwa zona bebas tidak boleh dikuasai secara sepihak.
Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab konflik komunal antara Indonesia dan Timor Leste di perbatasan antara kedua negara. Pertama, masalah delimitasi perbatasan antara kedua negara belum selesai karena masih ada 4% perbatasan darat yang belum disepakati, dan masih ada tiga segmen batas yang dipersengketakan. Kedua, terdapat perbedaan interpretasi mengenai zona netral yang ada di perbatasan kedua negara, di mana Indonesia menganggap zona netral sebagai wilayah yang belum ditetapkan statusnya sebagai milik Indonesia atau Timor Leste, sementara Timor Leste menganggapnya sebagai wilayah Timor Leste yang digunakan sebagai kawasan koordinasi keamanan antara TNI dan PBB serta fasilitasi pembangunan pasar bagi warga perbatasan dan tempat rekonsiliasi antara masyarakat eks Timtim dengan masyarakat Pasabe. Ketiga, masih terdapat sentimen negatif antarwarga Indonesia dengan warga Timor Leste yang dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai masa lalu dan perbedaan kepentingan dalam perebutan sumberdaya seperti lahan kebun dan sapi. Meskipun sebenarnya, masyarakat Timor Tengah Utara dan Oecussi berasal dari nenek moyang yang sama dan memiliki hubungan kekerabatan yang lama.
1. Bagaimanakah tanggapanmu mengenai isi artikel dan hal positif apa yang bisa kamu ambil setelah membaca artikel tersebut?
analisis saya, artikel tersebut memberikan gambaran tentang kondisi konflik di perbatasan Indonesia-Timor Leste yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti belum tuntasnya delimitasi perbatasan, perbedaan interpretasi mengenai zona netral, dan sentimen negatif antarwarga kedua negara. Hal positif yang bisa diambil dari artikel tersebut adalah pentingnya penyelesaian masalah perbatasan secara diplomatis dan damai, serta perlunya meningkatkan hubungan sosial budaya antarwarga kedua negara agar dapat memperkuat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan.
2. Bagaimanakah menurut pendapatmu dan apa yang terjadi dengan wilayah dan bangsa Indonesia jika tidak memiliki konsepsi wawasan nusantara?
Apabila Indonesia tidak mengadopsi konsep Wawasan Nusantara, mungkin akan sulit bagi negara tersebut untuk memahami pentingnya menjaga integritas wilayahnya yang terdiri dari ribuan pulau dengan keberagaman budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Ada kemungkinan terjadinya perpecahan dan pertikaian antarwilayah di Indonesia yang dapat mengancam kesatuan bangsa dan kedaulatan negara. Namun, dengan memahami konsep Wawasan Nusantara, Indonesia dapat membangun kesadaran bersama bahwa setiap wilayah memiliki peran penting dalam keutuhan dan kemajuan bangsa, serta menjaga hubungan yang harmonis antarwilayah dengan memperhatikan kepentingan bersama.
3. Bagaimanakah konsepsi wawasan nusantara dalam mencegah timbulnya konflik seperti artikell diatas?
Konsep Wawasan Nusantara memandang Indonesia sebagai satu kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau dengan keanekaragaman budaya dan bahasa yang berbeda, tetapi memiliki kesatuan sebagai satu bangsa. Konsep ini membantu mencegah konflik antarwilayah dengan membangun kesadaran bersama akan pentingnya setiap wilayah dalam keutuhan dan kemajuan bangsa. Konsep Wawasan Nusantara juga mengatasi perbedaan dan kesenjangan antarwilayah dengan memperhatikan kepentingan bersama, serta mengedepankan nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan gotong royong dalam membangun bangsa yang kuat dan mandiri.