Nama: Lusmelia Riyanti
NPM: 2211031114
Kelas: AKT C
A. Menurut saya, sistem etika perilaku politik saat ini belum sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Hal itu dikarenakan sampai saat ini, masih banyak terdapat kasus-kasus pelanggaran sistem etika dalam kegiatan berpolitik. Contoh kasus-kasus pelanggaran tersebut, seperti terdapat pada artikel berikut:
https://www.cnbcindonesia.com/market/20220817183001-17-364517/ini-daftar-3-kasus-korupsi-terbesar-ri-nyaris-samai-blbi/amp
Kasus-kasus tersebut merupakan kasus pelanggaran sistem etika berupa tindakan korupsi. Pertama, terdapat kasus yang dilakukan oleh Surya Darmadi dengan kerugian negara ditaksir mencapai Rp 78 triliun lalu, mega korupsi Asabri dengan nilai Rp 23 triliun. Terakhir, ada pula Jiwasraya dengan kerugian negara masing-masing Rp 17 triliun. Kasus-kasus di atas melanggar sistem etika dalam berpolitik karena tindakan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam Pancasila. Pada sila pertama Pancasila, dikatakan bahwa korupsi sangat bertentangan dengan ajaran agama. Semua agama sepakat bahwa mengambil hak yang bukan miliknya dan menimbulkan kerugian bagi banyak orang merupakan perbuatan yang dilarang dan berdosa. Perilaku korupsi tidak mencerminkan keadilan dalam memperlakukan manusia, tidak menghargai manusia karena telah mengambil hak milik orang lain, yang mana hal itu tidak sesuai dengan sila kedua. Lalu, mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum sehingga dapat dikatakan melanggar sila persatuan Indonesia.
Sumber :
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Formil/article/viewFile/2974/2509
B. Menurut saya, etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal saya masih belum mencerminkan etika dan nilai Pancasila. Hal tersebut dapat dilihat dari cara berprilaku dan berbicara anak muda yang kasar dan tidak bermoral, seperti ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, mereka terkadang menggunakan bahasa yang kasar dan tidak jarang menggertak. Tidak memberi salam atau sekadar tersenyum kepada dosen/guru saat bertemu dengan mereka. Kebanyakan dari anak muda hanya melewati dosen/guru ketika berpapasan, tak jarang ada juga yang menghindari dosen/guru saat bertemu. Merokok di tempat umum juga tidak mencerminkan etika dan nilai Pancasila, karena tidak semua orang tahan dengan asap rokok dan ketika seseorang merokok di tempat umum, hal itu akan sangat mengganggu orang-orang yang tidak tahan dengan asap rokok sehingga perokok melakukan hal yang melanggar sila kedua. Terakhir, yaitu tawuran antar siswa. Tawuran merupakan kegiatan yang tidak mencerminkan nilai dari sila pertama sampai sila kelima. Orang yang tawuran tidak segan melukai orang lain, sehingga tidak mencerminkan manusia yang beradab. Saat tawuran siswa juga tidak mengamalkan sila keempat karena menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan berdiskusi untuk mencapai hasil yang diinginkan kedua belah pihak.
Solusi dari dekadensi moral yang terjadi saat ini, yaitu dengan pendidikan karakter dan moral yang dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah. Melalui pendidikan tersebut diharapkan generasi muda dapat memahami bagaimana cara bersikap yang benar sesuai dengan nilai-nilai dalam sila Pancasila. Namun, sebenarnya cara mengatasi dekadensi moral itu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Ketika diri sendiri sadar bahwa yang dilakukan salah dan tidak sesuai dengan nilai pada Pancasila, lama-kelamaan akan mulai merubah sikap yang tidak sesuai nilai Pancasila tersebut. Memberikan pendidikan karakter dan moral kepada generasi muda sangat penting karena cara menyadarkan bahwa yang dilakukan salah selain dari diri sendiri juga perlu diingatkan oleh orang lain disekitar. Pengawasan oleh orangtua juga sangat penting, karena kegiatan anak-anak banyak dihabiskan di rumah bersama keluarga sehingga jika orangtua pengawasi perkembangan karakter anak diharapkan anak dapat bersikap sesuai dengan nilai dalam sila-sila Pancasila.
NPM: 2211031114
Kelas: AKT C
A. Menurut saya, sistem etika perilaku politik saat ini belum sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Hal itu dikarenakan sampai saat ini, masih banyak terdapat kasus-kasus pelanggaran sistem etika dalam kegiatan berpolitik. Contoh kasus-kasus pelanggaran tersebut, seperti terdapat pada artikel berikut:
https://www.cnbcindonesia.com/market/20220817183001-17-364517/ini-daftar-3-kasus-korupsi-terbesar-ri-nyaris-samai-blbi/amp
Kasus-kasus tersebut merupakan kasus pelanggaran sistem etika berupa tindakan korupsi. Pertama, terdapat kasus yang dilakukan oleh Surya Darmadi dengan kerugian negara ditaksir mencapai Rp 78 triliun lalu, mega korupsi Asabri dengan nilai Rp 23 triliun. Terakhir, ada pula Jiwasraya dengan kerugian negara masing-masing Rp 17 triliun. Kasus-kasus di atas melanggar sistem etika dalam berpolitik karena tindakan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam Pancasila. Pada sila pertama Pancasila, dikatakan bahwa korupsi sangat bertentangan dengan ajaran agama. Semua agama sepakat bahwa mengambil hak yang bukan miliknya dan menimbulkan kerugian bagi banyak orang merupakan perbuatan yang dilarang dan berdosa. Perilaku korupsi tidak mencerminkan keadilan dalam memperlakukan manusia, tidak menghargai manusia karena telah mengambil hak milik orang lain, yang mana hal itu tidak sesuai dengan sila kedua. Lalu, mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum sehingga dapat dikatakan melanggar sila persatuan Indonesia.
Sumber :
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Formil/article/viewFile/2974/2509
B. Menurut saya, etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal saya masih belum mencerminkan etika dan nilai Pancasila. Hal tersebut dapat dilihat dari cara berprilaku dan berbicara anak muda yang kasar dan tidak bermoral, seperti ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, mereka terkadang menggunakan bahasa yang kasar dan tidak jarang menggertak. Tidak memberi salam atau sekadar tersenyum kepada dosen/guru saat bertemu dengan mereka. Kebanyakan dari anak muda hanya melewati dosen/guru ketika berpapasan, tak jarang ada juga yang menghindari dosen/guru saat bertemu. Merokok di tempat umum juga tidak mencerminkan etika dan nilai Pancasila, karena tidak semua orang tahan dengan asap rokok dan ketika seseorang merokok di tempat umum, hal itu akan sangat mengganggu orang-orang yang tidak tahan dengan asap rokok sehingga perokok melakukan hal yang melanggar sila kedua. Terakhir, yaitu tawuran antar siswa. Tawuran merupakan kegiatan yang tidak mencerminkan nilai dari sila pertama sampai sila kelima. Orang yang tawuran tidak segan melukai orang lain, sehingga tidak mencerminkan manusia yang beradab. Saat tawuran siswa juga tidak mengamalkan sila keempat karena menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan berdiskusi untuk mencapai hasil yang diinginkan kedua belah pihak.
Solusi dari dekadensi moral yang terjadi saat ini, yaitu dengan pendidikan karakter dan moral yang dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah. Melalui pendidikan tersebut diharapkan generasi muda dapat memahami bagaimana cara bersikap yang benar sesuai dengan nilai-nilai dalam sila Pancasila. Namun, sebenarnya cara mengatasi dekadensi moral itu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Ketika diri sendiri sadar bahwa yang dilakukan salah dan tidak sesuai dengan nilai pada Pancasila, lama-kelamaan akan mulai merubah sikap yang tidak sesuai nilai Pancasila tersebut. Memberikan pendidikan karakter dan moral kepada generasi muda sangat penting karena cara menyadarkan bahwa yang dilakukan salah selain dari diri sendiri juga perlu diingatkan oleh orang lain disekitar. Pengawasan oleh orangtua juga sangat penting, karena kegiatan anak-anak banyak dihabiskan di rumah bersama keluarga sehingga jika orangtua pengawasi perkembangan karakter anak diharapkan anak dapat bersikap sesuai dengan nilai dalam sila-sila Pancasila.