Nama: Rosita
NPM: 2217011058
Jurnal ini membahas relevansi kearifan budaya lokal dalam mempertahankan identitas bangsa Indonesia di tengah globalisasi. Konsep identitas nasional ditekankan sebagai sesuatu yang dinamis, terbentuk dari kesadaran kolektif masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok etnis dengan sistem budaya yang beragam. Multikulturalisme menjadi aspek penting dalam menjaga keberagaman tanpa mengorbankan persatuan. Dalam konteks ini, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi prinsip utama dalam memahami integrasi budaya di Indonesia.
Kearifan lokal dipaparkan sebagai elemen budaya yang memiliki peran sentral dalam membangun integrasi sosial. Konsep ini berakar dari nilai-nilai tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan global. Salah satu poin penting yang dikemukakan adalah bagaimana tradisi dan budaya lokal, seperti gotong royong, dapat menjadi dasar dalam membangun solidaritas sosial.
Namun, jurnal ini kurang menggali lebih jauh tantangan utama dalam mempertahankan kearifan lokal di era globalisasi. Misalnya, bagaimana media sosial dan budaya pop modern dapat mengikis nilai-nilai tradisional. Walaupun disebutkan bahwa budaya lokal harus direvitalisasi, tidak ada strategi konkret yang diajukan untuk melakukan hal tersebut dalam konteks kebijakan nasional atau pendidikan.
NPM: 2217011058
Jurnal ini membahas relevansi kearifan budaya lokal dalam mempertahankan identitas bangsa Indonesia di tengah globalisasi. Konsep identitas nasional ditekankan sebagai sesuatu yang dinamis, terbentuk dari kesadaran kolektif masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok etnis dengan sistem budaya yang beragam. Multikulturalisme menjadi aspek penting dalam menjaga keberagaman tanpa mengorbankan persatuan. Dalam konteks ini, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi prinsip utama dalam memahami integrasi budaya di Indonesia.
Kearifan lokal dipaparkan sebagai elemen budaya yang memiliki peran sentral dalam membangun integrasi sosial. Konsep ini berakar dari nilai-nilai tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan global. Salah satu poin penting yang dikemukakan adalah bagaimana tradisi dan budaya lokal, seperti gotong royong, dapat menjadi dasar dalam membangun solidaritas sosial.
Namun, jurnal ini kurang menggali lebih jauh tantangan utama dalam mempertahankan kearifan lokal di era globalisasi. Misalnya, bagaimana media sosial dan budaya pop modern dapat mengikis nilai-nilai tradisional. Walaupun disebutkan bahwa budaya lokal harus direvitalisasi, tidak ada strategi konkret yang diajukan untuk melakukan hal tersebut dalam konteks kebijakan nasional atau pendidikan.