Arya Maysa Pratama_2217011150
གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Arya Maysa Pratama
NAMA: Arya Maysa Pratama
NPM: 2217011150
KELAS: C
NPM: 2217011150
KELAS: C
Jurnal ini ditulis oleh Agus Maladi Irianto dan membahas tantangan integrasi nasional Indonesia dalam menghadapi etnosentrisme, konflik kepentingan, serta dampak otonomi daerah. Penulis menelusuri dinamika politik dari Orde Lama hingga Reformasi, menunjukkan bagaimana sentralisme Orde Baru dan desentralisasi pasca-Reformasi memengaruhi kohesi sosial. Jurnal ini relevan karena Indonesia, sebagai negara multikultural, rentan terhadap disintegrasi jika identitas etnis atau daerah dipertentangkan dengan identitas nasional. Integrasi nasional diperlukan untuk mengatasi etnosentrisme (sikap mengunggulkan budaya sendiri) dan konflik identitas yang mengancam persatuan. Otonomi daerah justru memperkuat etnosentrisme, misalnya melalui pendirian sekolah berbasis etnis atau birokrasi yang hanya memprioritaskan "putra daerah".
Media massa (terutama televisi) membentuk identitas baru berbasis kepentingan bersama, tetapi juga berpotensi memecah belah jika tidak dikelola dengan nilai-nilai integratif.
Identitas Nasional: Dibentuk melalui proses dinamis (bukan statis) dan dipengaruhi oleh interaksi sosial, media, serta kebijakan politik (Ignas Kleden, 2003). Integrasi Nasional: Terbentuk ketika kelompok-kelompok lintas etnis bersatu untuk kepentingan bersama, seperti contoh Bahasa Indonesia yang awalnya bahasa Melayu Riau kemudian menjadi pemersatu bangsa. Etnosentrisme: Dikritik sebagai penghambat integrasi, terutama ketika kebijakan otonomi daerah menguatkan sentimen kedaerahan (contoh: birokrasi hanya untuk "putra daerah".
Media massa (terutama televisi) membentuk identitas baru berbasis kepentingan bersama, tetapi juga berpotensi memecah belah jika tidak dikelola dengan nilai-nilai integratif.
Identitas Nasional: Dibentuk melalui proses dinamis (bukan statis) dan dipengaruhi oleh interaksi sosial, media, serta kebijakan politik (Ignas Kleden, 2003). Integrasi Nasional: Terbentuk ketika kelompok-kelompok lintas etnis bersatu untuk kepentingan bersama, seperti contoh Bahasa Indonesia yang awalnya bahasa Melayu Riau kemudian menjadi pemersatu bangsa. Etnosentrisme: Dikritik sebagai penghambat integrasi, terutama ketika kebijakan otonomi daerah menguatkan sentimen kedaerahan (contoh: birokrasi hanya untuk "putra daerah".
Nama: Arya Maysa Pratama
NPM: 2217011150
Kelas: C
Jurnal ini membahas peran kearifan lokal sebagai perekat identitas bangsa Indonesia di tengah tantangan globalisasi. Penulis, Ida Bagus Brata, menekankan pentingnya merevitalisasi nilai-nilai budaya lokal untuk memperkuat jati diri bangsa, terutama dalam menghadapi homogenisasi budaya akibat globalisasi dan modernisasi. Jurnal ini relevan karena Indonesia adalah negara multikultural dengan keragaman etnis dan budaya yang rentan terhadap konflik jika tidak dikelola dengan baik. Kearifan Lokal sebagai Fondasi Identitas: Kearifan lokal (seperti Tri Hita Karana di Bali atau gotong royong di Jawa) bukan hanya warisan budaya, tetapi juga modal sosial untuk mempertahankan identitas bangsa di era global. Ancaman Globalisasi: Globalisasi melalui Four T Revolution (Telecommunication, Transformation, Trade, Tourism) berpotensi mengikis budaya lokal dan menciptakan homogenisasi.
NPM: 2217011150
Kelas: C
Jurnal ini membahas peran kearifan lokal sebagai perekat identitas bangsa Indonesia di tengah tantangan globalisasi. Penulis, Ida Bagus Brata, menekankan pentingnya merevitalisasi nilai-nilai budaya lokal untuk memperkuat jati diri bangsa, terutama dalam menghadapi homogenisasi budaya akibat globalisasi dan modernisasi. Jurnal ini relevan karena Indonesia adalah negara multikultural dengan keragaman etnis dan budaya yang rentan terhadap konflik jika tidak dikelola dengan baik. Kearifan Lokal sebagai Fondasi Identitas: Kearifan lokal (seperti Tri Hita Karana di Bali atau gotong royong di Jawa) bukan hanya warisan budaya, tetapi juga modal sosial untuk mempertahankan identitas bangsa di era global. Ancaman Globalisasi: Globalisasi melalui Four T Revolution (Telecommunication, Transformation, Trade, Tourism) berpotensi mengikis budaya lokal dan menciptakan homogenisasi.
Jurnal kurang menjelaskan strategi konkret untuk merevitalisasi kearifan lokal, terutama di tingkat kebijakan. Perubahan sosial akibat teknologi digital dan generasi muda yang semakin terpapar budaya global tidak dibahas mendalam. Ketegangan antara identitas etnis dan nasional perlu analisis lebih mendalam, terutama dalam konteks otonomi daerah.
Nama: Arya Maysa Pratama
NPM: 2217011150
Kelas: C
Identitas nasional adalah nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan satu bangsa dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.
Unsur identitas nasional: suku, budaya, agama, bahasa. Identitas nasional dibagi menjadi 3, yaitu Identitas fundamental, identitas instrumental, dan identitas alamiah.
Integrasi nasional adalah penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam aspek kehidupan bangsa. Faktor pendorong integrasi nasional: sejarah, cinta tanah air, rela berkorban. Faktor penghambat integrasi nasional: heterogen, ketimpangan, etnosentrisme. Bentuk integrasi nasional adalah asimilasi dan akulturasi.
NPM: 2217011150
Kelas: C
Identitas nasional adalah nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan satu bangsa dengan ciri-ciri khas, dan dengan ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya.
Unsur identitas nasional: suku, budaya, agama, bahasa. Identitas nasional dibagi menjadi 3, yaitu Identitas fundamental, identitas instrumental, dan identitas alamiah.
Integrasi nasional adalah penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam aspek kehidupan bangsa. Faktor pendorong integrasi nasional: sejarah, cinta tanah air, rela berkorban. Faktor penghambat integrasi nasional: heterogen, ketimpangan, etnosentrisme. Bentuk integrasi nasional adalah asimilasi dan akulturasi.