Nama: Natasya Chintya
NPM: 2256041030
Menurut pendapat saya tentang apa yang telah dilakukan pemerintah Lampung sudahlah benar dalam artian niat mereka dalam memperbaiki jalan Lampung, tetapi yang dilakukan mereka dengan sistem kebut semalam merupakan hal yang sangat disayangkan untuk dilakukan. Pemerintah terlalu takut dengan apa yang akan mereka terima dari kedatangannya presiden RI, Jokowi. Padahal, kualitas dari jalanan yang mereka bangun sangatlah buruk, hanya dalam beberapa hari jalan tersebut sudahlah kembali berlubang, membuktikan betapa buruknya kinerja pemerintah Lampung yang mementingkan ketakutan akan kritik Presiden dan jabatan mereka dibandingkan peningkatan fasilitas infrastruktur.
Tindakan yang dilakukan Jokowi dalam kunjungan di Lampung adalah mengubah rute yang sudah ada merupakan hal yang tidak sepenuhnya benar. Bukan tanpa alasan, menurut peraturan yang ada itu merupakan salah satu bentuk pelanggaran karena Jokowi telah melanggar aturan yang telah ditetapkan. Tetapi, dari tindakan tersebut Jokowi juga sudah melakukan hal yang terpuji, dengan begitu pemerintah akan tersindir dengan perbuatan Jokowi untuk melewati jalanan berlubang. Tentu saja pemerintah Lampung harusnya malu, masalah yang diawali oleh seorang pemuda yang tidak memiliki kedudukan dan justru memiliki sindiran pedas dalam media sosial bisa membuat seorang kepala negara turun langsung untuk mengecek hal yang terjadi.
Pembuatan jalan yang sangat cepat itu juga justru membuang-buang anggaran pemerintah untuk infrastruktur. Padahal, jika anggaran tersebut dialokasikan dengan baik dan pemerintah terutama Gubernur Lampung menerima kritikan tanpa adanya pembelaan, maka perbaikan jalan bisa dilalui bertahap dan masalah tidak akan terlalu mencuat ke publik. Dengan tindakan yang dilakukan sejauh ini dapat membuat masyarakat menilai bahwa kinerja pemerintah Lampung sangatlah buruk, bukan dari segi infrastruktur saja tetapi dari segi pelayanan dan sikap pejabat pun sudah menunjukan arogansi yang seharusnya tidak dimiliki oleh pejabat publik.
Seperti yang kita tahu bahwa kedatangan Jokowi hanya akan membuat pejabat malu tetapi tidak akan berhenti dari tugasnya. Penting bagi kita sebagai penerus bangsa untuk tahu apa itu budaya malu yang dimaksud. Malu dalam hal ini memiliki artian bahwa pejabat pemerintah harus tahu kenapa tugas mereka di kritik dan paham akan hukuman apa yang mereka terima tanpa harus memiliki koneksi lain, pemerintah harus tau bagaimana mereka digaji sesuai porsinya dan harus merasa cukup dengan uang yang telah mereka dapatkan, ketika pemerintah mendapatkan kritikan pemerintah harusnya paham bagaimana memperbaiki kinerjanya bukannya melaporkan kritikan tersebut ke polisi yang justru membakar masalah tersebut. Kembali lagi, budaya malu di Indonesia harus diterapkan, untuk apa seorang pejabat bahkan Presiden hadir jika perbaikan bersifat sementara sedangkan yang bermasalah masih bisa menikmati jabatan dan uangnya di luar sana. Transparasi dibutuhkan masyarakat untuk mengetahui anggaran yang mereka gunakan, bukan transparasi bodong tanpa bukti. Masyarakat hanya ingin menikmati uang mereka dengan fasiitas di Indonesia.