གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Indah Rarapi Sholeha

MKU PKN KIMIA A GENAP 2024 -> FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

Indah Rarapi Sholeha གིས-
Nama : Indah Rarapi Sholeha
NPM : 2217011109
Kelas : A

Dari yang saya pahami, jurnal ini menjelaskan bahwa meskipun Indonesia telah mengalami beberapa kali pemilu sejak reformasi, pelaksanaan demokrasi di Indonesia masih banyak menghadapi tantangan. Pilpres 2019 menunjukkan dinamika politik yang memanas dan bahkan memperdalam polarisasi masyarakat. Saya pribadi melihat bahwa pemilu, yang seharusnya menjadi pesta demokrasi, justru memunculkan konflik sosial akibat kurangnya konsolidasi demokrasi yang kuat. Hal ini bisa dilihat dari ketidakpuasan sebagian pihak terhadap hasil pemilu dan munculnya kerusuhan setelah pengumuman KPU.

Dalam pendapat saya, penulis sangat menekankan pentingnya pendalaman demokrasi atau "deepening democracy". Demokrasi bukan hanya tentang pemilu lima tahunan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilainya hadir dalam kehidupan berbangsa sehari-hari. Sayangnya, yang terjadi menurut saya masih sebatas prosedural ada pemilu, ada kampanye, ada hasil namun tidak sampai pada tataran substansi seperti keadilan sosial, kesetaraan hak, dan partisipasi masyarakat yang bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi kita masih butuh pembenahan dari dalam, baik secara kelembagaan maupun budaya politiknya.

Saya merasa miris ketika membaca bagaimana politisasi identitas, khususnya agama, menjadi alat dalam kampanye politik. Persaingan antar kubu capres tidak hanya berbasis program, tetapi juga memainkan isu SARA yang berpotensi memecah belah bangsa. Sebagai mahasiswa, saya merasa ini merupakan bentuk kemunduran dalam praktik demokrasi. Seharusnya demokrasi mengajarkan kita untuk menerima perbedaan dan bersaing secara sehat, bukan memanipulasi identitas untuk mendulang suara.

Salah satu poin penting menurut saya adalah kritik terhadap partai politik. Penulis menunjukkan bahwa parpol gagal menjalankan fungsi pendidikan politik, malah cenderung menjadikan selebritas sebagai *vote getter*. Sebagai mahasiswa yang juga menjadi bagian dari pemilih muda, saya jadi berpikir bahwa sistem kepartaian kita masih dangkal. Harusnya parpol bisa menjadi ruang kaderisasi dan tempat lahirnya pemimpin berkualitas, bukan sekadar kendaraan pragmatis.

Saya juga setuju dengan analisis penulis bahwa birokrasi kita belum netral dalam politik. Ketika aparat negara ikut terlibat mendukung calon tertentu, maka proses pemilu menjadi tidak adil dan hasilnya pun rawan dipertanyakan. Ini mencederai semangat demokrasi yang seharusnya bebas dari intervensi kekuasaan. Dalam pandangan saya, profesionalisme birokrasi adalah kunci bagi terwujudnya pemilu yang bersih dan kredibel.

Dari semua paparan jurnal ini, saya menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia masih menghadapi banyak pekerjaan rumah. Pemilu 2019 menjadi cermin bahwa konsolidasi demokrasi belum berhasil. Banyak aktor politik masih bermain dalam ranah prosedural semata, tanpa niat serius untuk membangun demokrasi substantif. Saya melihat pentingnya peran mahasiswa dan masyarakat sipil dalam mengawasi dan mendorong perubahan. Demokrasi tidak akan maju jika hanya diserahkan kepada elit politik; kita semua harus terlibat secara aktif dan kritis.

MKU PKN KIMIA A GENAP 2024 -> FORUM JAWABAN ANALISIS VIDEO

Indah Rarapi Sholeha གིས-
Nama : Indah Rarapi Sholeha
NPM : 2217011109
Kelas : A

Judul: "Demokrasi Itu Gaduh, tapi Tetap Relevan dan Layak Dipertahankan"
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang sering dianggap gaduh karena banyaknya suara, pendapat, bahkan perdebatan yang terjadi di ruang publik. Namun, dalam pandangan saya sebagai mahasiswa, justru di situlah letak kekuatan demokrasi. Video dari Narasi Newsroom yang berjudul "Demokrasi Itu Gaduh, tapi Kenapa Bertahan dan Dianut Banyak Negara?" membuka perspektif saya bahwa kegaduhan dalam demokrasi bukanlah pertanda kelemahan, melainkan bukti bahwa sistem ini hidup dan terbuka terhadap partisipasi rakyat.

Dalam demokrasi, setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan mengkritik kebijakan pemerintah. Bagi saya, hal ini merupakan kemewahan politik yang tidak dimiliki oleh sistem otoriter. Meskipun kebebasan ini terkadang menghasilkan kegaduhan yang sulit dikendalikan, hal tersebut menjadi cermin bahwa rakyat tidak dibungkam. Namun, kebebasan ini tetap harus dijaga agar tidak berubah menjadi kekacauan. Kebebasan berbicara harus berada dalam kerangka hukum dan norma yang demokratis, agar tidak merugikan orang lain atau merusak tatanan sosial.

Sayangnya, demokrasi saat ini menghadapi banyak tantangan, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya. Dalam video tersebut disampaikan bahwa peringkat demokrasi Indonesia menurun berdasarkan laporan Freedom House. Fakta ini cukup mengkhawatirkan bagi saya karena menandakan adanya kemunduran dalam kebebasan sipil dan hak-hak politik. Bahkan negara-negara yang sebelumnya dianggap mapan secara demokratis, seperti Amerika Serikat, juga mengalami hal yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak bisa dianggap stabil atau aman secara permanen. Ia membutuhkan penjagaan dan partisipasi aktif dari rakyatnya.

Meski begitu, demokrasi tetap menjadi sistem yang paling banyak dianut di dunia. Alasan utamanya adalah karena demokrasi menjunjung tinggi hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, serta keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan. Dalam pandangan saya, nilai-nilai ini sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Demokrasi memungkinkan rakyat untuk mengontrol kekuasaan dan menuntut akuntabilitas dari pemerintah. Oleh karena itu, meskipun penuh dinamika dan tantangan, demokrasi tetap layak dipertahankan dan diperjuangkan.

Sebagai mahasiswa, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk turut serta menjaga dan menghidupkan nilai-nilai demokrasi. Tidak cukup hanya dengan memahami konsepnya, saya juga harus mengamalkannya melalui sikap kritis, partisipasi aktif, dan penggunaan kebebasan secara bertanggung jawab. Demokrasi bukan hanya milik politisi atau pemerintah, melainkan milik seluruh rakyat. Maka dari itu, saya percaya bahwa masa depan demokrasi Indonesia sangat bergantung pada generasi muda yang sadar akan pentingnya kebebasan, keadilan, dan keterbukaan