གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Anis Sarlia

3F Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 1

Anis Sarlia གིས-
Nama: Anis Sarlia Putri

Npm:2213053173

Analisis jurnal 1

Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Perlu dilakukan perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang bersifat komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen: pendidik, materi, metode, dan evaluasinya. Berikut ini akana membahas komponen pendidikan moral tersebut sebagai unsur penting yang harus diperhatikan agar pendidikan moral di sekolah dapat berjalan dengan l ebih optimal.

1. Pendidikan moral di Indonesia

Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat umum bagi peserta didik untuk dapat mempelajari pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi lembaga kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial.

2. Metode pendidikan moral 

Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai dengan keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, pemodelan nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah, yaitu:

a) Inkulkasi nilai

b)Metode keteladanan

c)Metode klasifikasi nilai

d)Metode fasilitas nilai

e)Metode keterampilan nilai moral

3F Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 2

Anis Sarlia གིས-

Nama : Anis Sarlia Putri

Npm : 2213053173

Analisis video 2

Moral yang artinya kebiasaan -kebiasaan yang berulang-ulang oleh sekelompok orang.

PENDEKATAN PENTAHELIX

1. Pemerintah

2. Masyarakat/komunitas

3. Akademisi

4. Pengusaha/pemilik modal

5. Media

ALIRAN DALAM PENGAJARAN NILAI

1. Aliran relativisme, nilai tidak bisa diajarkan karena hakekat nilai bersifat relatif, subjektif, temporer, dan situasional.

2. Aliran  kebebasan(value free), nilai tidak perlu dan tidak boleh diajarkan karena bertentangan dengan kodrat kebebasan dasar manusia untuk menentukan pilihannya secara bebas dan mandiri.

Penanaman dan penerapan nilai sangatlah penting bagi kehidupan seorang manusia untuk menjalani kehidupan.


3F Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 1

Anis Sarlia གིས-

Nama : Anis Sarlia Putri

Npm: 2213053173

Analisis video 1

Kesadaran nilai moral mengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang atas perilakunya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di masyarakat. Jika tidak dibekali oleh kesadaran moral, maka ada kemungkinan terjadi masalah moral. Masalah moral adalah masalah yang sekarang ini sangat menyita perhatian, terutama dari para Pendidik, Alim Ulama, Pemuka masyarakat, dan orang tua. 

Oleh karena itu, pendidikan moral sangatlah penting. Pendidikan moral sangat penting disosialisasikan kepada seluruh peserta didik demi kemajuan bangsa. Dalam mengajarkan pendidikan moral dapat melalui pelajaran PPKn. Pentingnya pendidikan PPKn dalam pendidikan nilai dan moral yaitu, 

1. Pembangunan watak atau karakter 

2. Secara makro PKn juga merupakan wahana sosial pedagogis pencerdasan kehidupan bangsa 

3. Acuan penerapan keberhasilan pendidikan moral sekolah

4. Jembatan untuk menuju pendidikan moral yang baik.


3F Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 2

Anis Sarlia གིས-

Nama : Anis Sarlia Putri

Npm : 2213053173

Analisis jurnal 2

Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya.

Teori (Kohlberg, L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:

Level 1 Moralitas Pra-konvensional. Tahap 1 Ketaatan dan Hukuman. Tahap 2 Individualisme dan Pertukaran.

Level 2 Moralitas Konvensional. Tahap 3 Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl". Tahap 4 Menjaga Ketertiban Sosial.

Level 3 Moralitas Pasca-konvensional. Tahap 5 Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Tahap 6 Prinsip Universal.

Dalam mengetahui perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti kualitatif tertarik pada kepercayaan orang, pengalaman, dan sistem makna dari perspektif orang-orang (Mohajan, 2018). Penelitian kualitatif adalah bentuk tindakan sosial yang menekankan pada cara orang menafsirkan, dan tidak memahami pengalaman mereka untuk memahami realitas sosial individu. Hasilnya, responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10-13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.