Nama:Angga Pradana
NPM:2217011056
Setelah membaca jurnal ini hal yang saya dapatkan ialah membahas bagaimana integrasi nasional menjadi strategi utama dalam menjaga persatuan di tengah pluralitas bangsa. Dalam kajiannya, penulis menyoroti bagaimana pengalaman sejarah Indonesia, mulai dari Orde Lama hingga Reformasi, menunjukkan bahwa kebijakan yang tidak memperhatikan keberagaman sering kali berujung pada ketidakstabilan politik dan sosial. Misalnya, pemerintahan Orde Baru yang sentralistik justru memicu ketidakpuasan daerah, sementara era Reformasi yang lebih demokratis memunculkan tantangan baru dalam bentuk kebebasan yang tidak terkontrol.
Selain itu, jurnal ini menekankan bahwa identitas nasional bukanlah sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang sesuai dengan dinamika sosial dan politik. Salah satu ancaman utama bagi integrasi nasional adalah menguatnya etnosentrisme akibat kebijakan otonomi daerah yang kurang tepat. Penulis mengkritisi bagaimana otonomi daerah justru mempersempit ruang interaksi lintas budaya dan mendorong eksklusivitas etnis. Untuk itu, diperlukan strategi kebudayaan yang dapat menjembatani perbedaan, dengan menanamkan nilai nasionalisme dan pluralisme yang lebih inklusif. Kesimpulannya, integrasi nasional harus dibangun di atas kesadaran kolektif bahwa keberagaman adalah aset, bukan sumber perpecahan.
NPM:2217011056
Setelah membaca jurnal ini hal yang saya dapatkan ialah membahas bagaimana integrasi nasional menjadi strategi utama dalam menjaga persatuan di tengah pluralitas bangsa. Dalam kajiannya, penulis menyoroti bagaimana pengalaman sejarah Indonesia, mulai dari Orde Lama hingga Reformasi, menunjukkan bahwa kebijakan yang tidak memperhatikan keberagaman sering kali berujung pada ketidakstabilan politik dan sosial. Misalnya, pemerintahan Orde Baru yang sentralistik justru memicu ketidakpuasan daerah, sementara era Reformasi yang lebih demokratis memunculkan tantangan baru dalam bentuk kebebasan yang tidak terkontrol.
Selain itu, jurnal ini menekankan bahwa identitas nasional bukanlah sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang sesuai dengan dinamika sosial dan politik. Salah satu ancaman utama bagi integrasi nasional adalah menguatnya etnosentrisme akibat kebijakan otonomi daerah yang kurang tepat. Penulis mengkritisi bagaimana otonomi daerah justru mempersempit ruang interaksi lintas budaya dan mendorong eksklusivitas etnis. Untuk itu, diperlukan strategi kebudayaan yang dapat menjembatani perbedaan, dengan menanamkan nilai nasionalisme dan pluralisme yang lebih inklusif. Kesimpulannya, integrasi nasional harus dibangun di atas kesadaran kolektif bahwa keberagaman adalah aset, bukan sumber perpecahan.