Nama : Nurwahid Muslim
NPM : 2217051163
Kelas : D
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dimulai dari rakyat, dilaksanakan oleh rakyat dan ditujukan untuk kemaslahatan rakyat, namun pelaksanaannya tidak mudah, memerlukan banyak langkah, misalnya konsolidasi demokrasi. Konsolidasi demokrasi merupakan sarana penting untuk meningkatkan komitmen semua lapisan masyarakat terhadap aturan demokrasi. Proses ini berlangsung tidak hanya di lembaga politik tetapi juga di tingkat masyarakat secara keseluruhan.
NPM : 2217051163
Kelas : D
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dimulai dari rakyat, dilaksanakan oleh rakyat dan ditujukan untuk kemaslahatan rakyat, namun pelaksanaannya tidak mudah, memerlukan banyak langkah, misalnya konsolidasi demokrasi. Konsolidasi demokrasi merupakan sarana penting untuk meningkatkan komitmen semua lapisan masyarakat terhadap aturan demokrasi. Proses ini berlangsung tidak hanya di lembaga politik tetapi juga di tingkat masyarakat secara keseluruhan.
Konsolidasi demokrasi di Indonesia cenderung fluktuatif dan belum berjalan secara regular karena pilar-pilar pentingnya (pemilu, partai politik, civil society, media massa) belum berfungsi efektif dan belum maksimal. Sebagai pilar penting demokrasi, pemilu diperlukan untuk suksesi kepemimpinan dan mengoreksi kinerja pemerintahan. Pemilu juga mensyaratkan unsur kejujuran, keadilan, transparansi dan akuntabilitas. Prasyarat untuk menciptakan hal tersebut memerlukan prakondisi dan komitmen semua elemen bangsa untuk mematuhi peraturan yang ada. Konsolidasi demokrasi atau proses pendalaman demokrasi akan terhambat ketika parpol melalui para elitenya dan stakeholdersterkait pemilu menunjukkan perilaku yang tidak mendorong proses demokrasi.
Tantangan pendalaman demokrasi semakin besar ketika kondisi sosial, ekonomi, politik dan hukum juga kurang memadai. Kondisi ini tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas pemilu dan demokrasi, tapi juga stabilitas nasional. Apalagi ketika pemilu berlangsung di tengah keterbelahan sosial, menyeruaknya berita-berita sensasional di medsos, ujaran kebencian dan maraknya berita-berita hoax membuat hasil pemilu rentan dengan sengketa dan konflik.