Posts made by Rintan Ratriana Dewi

Nama : Rintan Ratriana Dewi

NPM : 2213041077



Konvensi masuk ke ranah sastra pada abad 19 yang dimana, itu menyebabkan adanya aturan-aturan yang wajib dipenuhi oleh seorang pengarang. 


Konvensi bahasa dalam karya sastra bersifat arbitrer (sekehendak hati), dan bahasa yang digunakan dalam  karya sastra  harus sesuai dengan sistem konvensi bahasa yang digunakan. Oleh karena  itu,  pembaca suatu karya sastra atau kritikus suatu karya sastra harus mengikuti sistem bahasa yang digunakan dalam karya sastra tersebut guna menghasilkan makna, atau apa yang ingin dibacanya. Dengan cara ini ia  mendapatkan makna yang benar dari teks karya sastra.


Kebanyakan seseorang sastrawan pada menulis karya sastra memakai bahasa yang menyimpang, tetapi sebenarnya seseorang sastrawan memakai bahasa yang terdapat di ruang lingkup konvensi bahasa yg dipergunakan. Karena bahasanya itu komunikatif, yaitu makna berdasarkan karya sastra tadi bisa didapatkan menurut konvensi bahasa yang dipergunakan.


Seorang sastrawan selain tunduk dengan konvensi bahasa, ia juga terikat dengan konvensi sastra yang digunakannya. Dengan adanya sistem konvensi sastra disamping Konvensi bahasa, maka ada konvensi tambahan (Preminger, 1974:980,981), yakni konvensi tambahan kepada konvensi bahsa, konvensi sastra kedudukannya lebih tinggi dari konvensi bahasa. karenanya, akan menimbulkan perbedaan dan pertentangan seperti arti ditingkatkan kepada makna, perbedaan arti dan makna semiotik sastra merupakan yang paling penting (Riffaterre Via Teew, 1984:99), oleh sebab itu, dalam menghasilkan makna, seorang pembaca selain harus memperhatikan konvensi bahasa, seorang oembaca juga harus memperhatikan konvensi sastra yang terkandung.


Karya inovatif berarti karya yang dapat menghasilkan pengembangan, modifikasi, atau  penemuan baru. Untuk menciptakan karya sastra yang indah, kita perlu mengupayakannya dengan maksimal. Sebab, proses itu menentukan hasil akhir. 


Nama : Rintan Ratriana Dewi
Kelas : PBSI 1B
NPM : 2213041077

Sastra berasal dari kata serapan dari bahasa Sansekerta yaitu shaastra. Shaastra dalam bahasa Sansekerta memiliki arti ‘teks yang mengandung instruksi’ atau ‘pedoman’. Sastra juga dapat dipahami dan memiliki arti yaitu mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, dan sebagai alat atau sarana untuk memberi petunjuk.

Jadi sastra adalah ekspresi manusia dalam bentuk karya tulis atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, perasaan dalam bentuk imajinasi, refleksi realitas atau data asli yang dibungkus secara estetika melalui dukungan bahasa.


Ruang lingkup karya sastra (sastra) adalah kreasi kreatif, dan ruang lingkup kajian sastra adalah ilmu pengetahuan dengan sastra sebagai objeknya. Oleh karena itu, sastra berfokus pada kreativitas, sedangkan studi sastra berfokus pada sains. Tanggung jawab penelitian sastra adalah masalah logika ilmiah. Karena bidang sastra adalah penciptaan karya sastra (puisi, lagu, novel, cerpen) adalah sastra.

Ada kemungkinan sastra memiliki banyak objek sastra yang dapat dijadikan bahan pembelajaran. Di antara pokok-pokok kajiannya adalah pembagian waktu, keanekaragaman bahasa, teks sastra, perkembangan sastra, dan kritik sastra. Dua sistem utama yang dapat digunakan dalam studi literatur, yaitu sistem mikro dan sistem makro. Dalam sistem mikro, teks sastra menjadi pusat perhatian dan sekaligus menjadi bagian intrinsik dari karya sastra, sedangkan dalam sistem makro, pengarang atau penulis, editor, pembaca dan kritikus sastra merupakan bagian luar karya sastra.