Kiriman dibuat oleh Teli Hosana Marpaung 2217011162

Nama : Teli Hosana Marpaung
NPM : 2217011162
Kelas : B

Identitas Nasional
Identitas nasional merupakan ciri khas yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain, mencakup nilai-nilai, simbol, serta tradisi yang dianut masyarakat. Identitas ini berfungsi sebagai pemersatu berbagai elemen dalam satu kesatuan bangsa. Pancasila, sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia, terdiri dari lima sila yang mencerminkan nilai-nilai luhur seperti persatuan, keadilan, dan kemanusiaan. Pancasila juga berperan sebagai landasan moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Unsur Identitas Nasional:
1. Suku Bangsa – Kelompok etnis yang memiliki kesamaan budaya, bahasa, dan sejarah, seperti suku Jawa, Sunda, dan Batak yang merupakan bagian dari keberagaman Indonesia.
2. Agama – Keyakinan dan praktik keagamaan yang dianut masyarakat. Indonesia memiliki beragam agama, di antaranya Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
3. Budaya – Kumpulan nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, meliputi seni, adat istiadat, serta cara hidup masyarakat.
4. Bahasa – Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan pemersatu bangsa, didukung oleh keberagaman bahasa daerah yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

Kategori Identitas Nasional:
1. Identitas Fundamental – Identitas yang berhubungan dengan dasar negara dan ideologi, seperti Pancasila dan UUD 1945, yang menjadi pedoman kehidupan bernegara.
2. Identitas Instrumental – Identitas yang berkaitan dengan peraturan, hukum, dan kebijakan yang mengatur kehidupan masyarakat, seperti undang-undang dan norma sosial.
3. Identitas Alamiah – Identitas yang terbentuk secara alami, mencakup kondisi geografis, demografis, serta lingkungan yang memengaruhi kehidupan masyarakat, seperti kekayaan alam dan keanekaragaman hayati.

Faktor yang Mendorong Integrasi Nasional:
1. Sejarah Bersama – Pengalaman sejarah, seperti perjuangan kemerdekaan, dapat memperkuat rasa persatuan.
2. Cinta Tanah Air – Kesetiaan terhadap negara mendorong masyarakat untuk bersatu demi kemajuan bangsa.
3. Rela Berkorban – Kesediaan individu untuk berkorban demi kepentingan bersama memperkuat integrasi sosial.
4. Kesepakatan Nasional – Adanya kesepakatan mengenai nilai-nilai dan tujuan bangsa yang menjadi pedoman bersama.
5. Keinginan Bersatu – Semangat untuk hidup berdampingan dalam keharmonisan dan saling menghargai di antara berbagai kelompok dalam masyarakat.

Faktor yang Menghambat Integrasi Nasional:
1. Keberagaman Sosial – Perbedaan suku, agama, dan budaya dapat menimbulkan perbedaan pandangan yang berpotensi memicu konflik.
2. Ketimpangan Sosial dan Ekonomi – Ketidakadilan dalam distribusi kekayaan dapat menimbulkan ketegangan antar kelompok.
3. Sikap Etnosentrisme – Menganggap kelompok sendiri lebih unggul dibanding kelompok lain dapat menjadi penghalang integrasi.
4. Pengaruh Eksternal – Campur tangan pihak luar yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

Bentuk-Bentuk Integrasi Nasional:
1. Asimilasi – Proses interaksi antara kelompok yang berbeda budaya sehingga membentuk budaya baru yang lebih homogen.
2. Akulturasi – Pertemuan dua atau lebih budaya yang saling memengaruhi, namun tetap mempertahankan ciri khas masing-masing.

Definisi Integrasi Menurut Myron Weiner (1971):
1. Sebagai Proses – Penyatuan individu dan kelompok yang berbeda menjadi satu kesatuan yang lebih besar.
2. Sebagai Hasil – Terbentuknya kesatuan sosial dan politik dari proses penyatuan.
3. Sebagai Keseimbangan – Adanya keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif dalam masyarakat.
4. Sebagai Adaptasi – Kemampuan individu dan kelompok dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial dan budaya.
5. Sebagai Stabilitas – Terwujudnya stabilitas sosial dan politik yang mendukung pembangunan serta kemajuan bangsa.
Nama : Teli Hosana Marpaung
Kelas : 2217011162
Kelas : B

Identitas nasional Indonesia terdiri dari empat unsur utama yang mencerminkan keberagaman dan jati diri bangsa. Pertama yaitu suku bangsa yang terdiri dari lebih dari 1.300 suku, seperti Jawa, Sunda, Batak, dan Dayak, yang masing-masing memiliki budaya dan adat istiadat sendiri. Kedua Agama, menjadi bagian penting dari identitas nasional, dengan enam agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, yang hidup berdampingan dalam toleransi. Ketiga adalah Kebudayaan, mencakup seni, adat istiadat, pakaian tradisional, hingga rumah adat, yang beragam di setiap daerah namun tetap mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Keempat yaitu bahasa dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, menjadi alat pemersatu bangsa di tengah bahasa daerah yang masih digunakan oleh berbagai suku. Keempat unsur ini menjadi identitas nasional yang memperkuat persatuan dalam keberagaman Indonesia.

Identitas nasional Indonesia merupakan elemen penting yang mencerminkan jati diri bangsa dan tertuang dalam UUD 1945, khususnya dalam Pasal 35 hingga 36C. Identitas ini meliputi berbagai simbol negara, seperti bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia, yang berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa di tengah keberagaman suku dan budaya. Bendera merah putih menjadi lambang keberanian dan kesucian bangsa, sedangkan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" mencerminkan semangat perjuangan dan persatuan. Lambang negara, Garuda Pancasila, menggambarkan dasar negara yang berlandaskan Pancasila sebagai falsafah bangsa. Selain itu, semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" menegaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki keberagaman budaya, agama, dan suku, tetap satu dalam kesatuan. Selain simbol negara, identitas nasional juga diperkuat oleh dasar hukum UUD 1945, yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsepsi Wawasan Nusantara menegaskan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan wilayah, baik secara geografis, politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan keamanan. Kebudayaan nasional yang berasal dari berbagai daerah juga menjadi bagian dari identitas bangsa, mencerminkan nilai, norma, serta warisan budaya yang harus dijaga. Seluruh unsur ini membentuk karakter bangsa Indonesia yang kuat, bersatu, dan memiliki jati diri yang kokoh di tengah dinamika globalisasi.