M. Nashirul Haqq Cayaputra
2217011123
B Kimia 2022
Jurnal yang ditulis oleh M. Husein Maruapey pada Juni 2017 membahas secara kritis kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI Jakarta, yang menjadi pemicu demonstrasi besar oleh masyarakat Muslim pada 4 November 2016. Penulis menguraikan bagaimana pernyataan Ahok yang dianggap menyinggung ayat Al-Maidah memicu ketegangan sosial, memengaruhi dinamika politik, serta menguji sistem penegakan hukum di Indonesia.
Namun secara pribadi saya menyatakan bahwa saya tidak setuju jika ahok dikatakan menistakan agama, sebab ahok saat di kepulauan seribu secara gamblang mengatakan "dibohongi pakai Surah Al-Maidah" artinya jelas disini maksud ahok adalah ada pihak-pihak yang "menggunakan" surah al-maidah sebagai alat untuk membohongi, namun celakanya masyarakat malah memaknai ucapan ahok sebagai "dibohongi Surah Al-Maidah"
Padahal jelas disana ahok mengatakan "pakai"
saya beri contoh "makan pakai sendok" dengan "makan sendok" itu dua hal yang berbeda, begitupun jika kita kaitkan dengan konteks ahok, "dibohongi pakai surah al-maidah" dengan "dibohongi surah al-maidah" itu dua hal yang memiliki makna yang sangat berbeda
Ini justru menunjukkan bahwa dalam lingkungan masyarakat kita mengalami kedangkalan literasi sehingga tidak mampu membedakan "dibohongi pakai surah al-maidah" dengan "dibohongi surah al-maidah" ini sangat destruktif sebab kedangkalan literasi ini menyebabkan ribuan massa bergerak dari seluruh penjuru indonesia ke monas hanya karena mereka gagal memahami maksud dari ucapan ahok.
Itulah cacatnya demokrasi, demokrasi itu berarti keputusan di tangan oleh suara mayoritas, jika mayoritas adalah orang yang tidak terdidik, maka keputusan yang menjadi produk demokrasi adalah keputusan yang tidak terdidik pula. Cacatnya demokrasi adalah warga negara yang bodoh dan warga negara yang terdidik memiliki nilai suara yang sama dan setara, sehingga jika jumlah warga negaranya didominasi oleh mereka yang bodoh secara politik, maka celakalah negara yang menggunakan sistem demokrasi.
Ahok bukanlah satu-satunya manusia yang menjadi korban dari demokrasi
Ribuan tahun yang lalu kita mengenal filsuf dari yunani bernama Socrates yang juga menjadi korban demokrasi, bahkan akibat dari demokrasi yang dijalankan oleh warga yang tidak kompeten, mengantarkan Socrates menuju ajalnya. Demikian opini saya tentang ahok
2217011123
B Kimia 2022
Jurnal yang ditulis oleh M. Husein Maruapey pada Juni 2017 membahas secara kritis kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI Jakarta, yang menjadi pemicu demonstrasi besar oleh masyarakat Muslim pada 4 November 2016. Penulis menguraikan bagaimana pernyataan Ahok yang dianggap menyinggung ayat Al-Maidah memicu ketegangan sosial, memengaruhi dinamika politik, serta menguji sistem penegakan hukum di Indonesia.
Namun secara pribadi saya menyatakan bahwa saya tidak setuju jika ahok dikatakan menistakan agama, sebab ahok saat di kepulauan seribu secara gamblang mengatakan "dibohongi pakai Surah Al-Maidah" artinya jelas disini maksud ahok adalah ada pihak-pihak yang "menggunakan" surah al-maidah sebagai alat untuk membohongi, namun celakanya masyarakat malah memaknai ucapan ahok sebagai "dibohongi Surah Al-Maidah"
Padahal jelas disana ahok mengatakan "pakai"
saya beri contoh "makan pakai sendok" dengan "makan sendok" itu dua hal yang berbeda, begitupun jika kita kaitkan dengan konteks ahok, "dibohongi pakai surah al-maidah" dengan "dibohongi surah al-maidah" itu dua hal yang memiliki makna yang sangat berbeda
Ini justru menunjukkan bahwa dalam lingkungan masyarakat kita mengalami kedangkalan literasi sehingga tidak mampu membedakan "dibohongi pakai surah al-maidah" dengan "dibohongi surah al-maidah" ini sangat destruktif sebab kedangkalan literasi ini menyebabkan ribuan massa bergerak dari seluruh penjuru indonesia ke monas hanya karena mereka gagal memahami maksud dari ucapan ahok.
Itulah cacatnya demokrasi, demokrasi itu berarti keputusan di tangan oleh suara mayoritas, jika mayoritas adalah orang yang tidak terdidik, maka keputusan yang menjadi produk demokrasi adalah keputusan yang tidak terdidik pula. Cacatnya demokrasi adalah warga negara yang bodoh dan warga negara yang terdidik memiliki nilai suara yang sama dan setara, sehingga jika jumlah warga negaranya didominasi oleh mereka yang bodoh secara politik, maka celakalah negara yang menggunakan sistem demokrasi.
Ahok bukanlah satu-satunya manusia yang menjadi korban dari demokrasi
Ribuan tahun yang lalu kita mengenal filsuf dari yunani bernama Socrates yang juga menjadi korban demokrasi, bahkan akibat dari demokrasi yang dijalankan oleh warga yang tidak kompeten, mengantarkan Socrates menuju ajalnya. Demikian opini saya tentang ahok