Nama : Muhammad Faiz Farid
NPM : 2217011148
Kelas : B
Jurnal ini mengkaji secara mendalam tantangan konsolidasi demokrasi di Indonesia melalui studi kasus Pemilu Presiden 2019. Penulis menyoroti bahwa meskipun Indonesia telah mengalami lima kali pemilu pasca-Reformasi, praktik demokrasi masih berada dalam tahap yang belum matang secara substansial. Hal ini ditunjukkan melalui belum efektifnya pilar-pilar demokrasi seperti partai politik, masyarakat sipil, media massa, dan birokrasi yang seharusnya menjadi motor penggerak dalam konsolidasi demokrasi. Pemilu 2019 mencerminkan ketegangan politik yang tinggi dengan munculnya polarisasi sosial yang tajam antar pendukung pasangan calon, serta maraknya politisasi identitas dan isu keagamaan yang memperburuk kondisi sosial-politik.
Penulis menekankan bahwa kegagalan dalam membangun kepercayaan publik terhadap proses dan hasil pemilu mencerminkan lemahnya demokrasi yang substansial. Praktik politisasi identitas, penyebaran hoaks, serta penyalahgunaan media sosial juga turut merusak kualitas demokrasi. Pemilu yang ideal seharusnya mencerminkan prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas, namun prasyarat tersebut masih belum sepenuhnya tercapai. Penulis juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara berbagai aktor demokrasi seperti partai politik, penyelenggara pemilu, pemerintah, masyarakat sipil, media, dan lembaga survei untuk mempercepat proses demokrasi yang lebih matang dan berkualitas. Membangun kepercayaan (trust building) dianggap sebagai elemen kunci yang harus diperkuat agar pemilu benar-benar berfungsi sebagai instrumen demokrasi yang sesungguhnya, bukan sekadar prosedural.