གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Ilham Abi Yansyah 2211031175

Akuntansi B Pancasila -> Forum Analisis Soal

Ilham Abi Yansyah 2211031175 གིས-
Nama : Ilham Abi Yansyah
NPM : 2211031175
Kelas : S1 Akuntansi D

Tugas Analisis Soal

A. Bagaimanakah sistem etika perilaku politik saat ini? Sudah sesuaikah dengan nilai-nilai Pancasila? Jelaskan!
Jawaban:
Menurut saya, sistem etika politik saat ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila karena banyaknya para pejabat pemerintah yang melakukan pelanggaran dan menyimpang dari etika dan moral politik, salah satunya, yaitu kasus korupsi. Contohnya kasus korupsi yang dilakukan oleh eks Menteri Sosial, Juliari Batubara. Apa yang dilakukan dirinya dan jajarannya sangat menentang etika politik karena korupsi merugikan banyak pihak, apalagi ia dan jajarannya melakukan pada saat pandemi dimana keadaan ekonomi sedang buruk begitu pun keadaan masyarakat sedang merasakan serba kekurangan dan memerlukan bantuan dari pemerintah. Hal tersebut menyimpang terhadap nilai-nilai sila Pancasila, yaitu sila pertama (ketidaktakutan dengan Tuhan dan dengan sumpah yang mereka buat), sila kedua (mementingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan masyarakat yang harusnya dibantu), dan sila kelima (ketidakadilan antara pribadi dengan masyarakat dan negara, dengan tujuan keuntungan pribadi).

Nilai-nilai politik dan juga etika saling berkaitan satu sama lain dalam membangun perilaku para pejabat yang bertanggungjawab, berwibawa, dan dapat menjadi teladan bagi masyarakat luas. Maka dari itu, pemerintah harus membuat aturan di dalam pemerintahan dengan membuat sistem penerapan etika politik di dalamnya. Seperti dalam penyeleksian para calon pegawai pemerintahan, para calon harus lulus dalam tes tertulis dan juga tes penerapan etika politik di dalam kehidupan sehari-hari. Lalu untuk pegawai pemerintahan yang naik jabatan sebagai kepala atau menteri oleh Presiden, harus dilihat dulu latar belakang dari para calon pegawai yang dipromosikan tadi apakah selama dia menjadi pegawai pemerintahan melakukan tugas-tugasnya dengan baik tanpa sekalipun terlibat kasus pelanggaran apapun atau berita miring yang bersangkutan dengan calon pegawai yang dipromosikan.
Sumber Bacaan:
https://menaraindonesia.com/2021/10/03/etika-politik-yang-telah-pudar-dari-para-pejabat-negara-solusinya/
https://www.viva.co.id/vstory/opini-vstory/1336239-menilik-pelanggaran-etika-pada-korupsi-bansos?page=1

B. Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Bagaimanakah etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal mu? Apakah mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia? Berikan solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi!
Jawaban:
Lingkungan kost saya mencerminkan lingkungan yang baik karena remaja-remaja disini memiliki sopan santun kepada sesama, maupun kepada yang lebih tua. Mereka juga menjaga hubungan baik dengan berkomunikasi antarsesama, meskipun sedang sibuk sekalipun. Selain itu, mereka sering membantu saya, contohnya pada saat saya akan ada jam mata kuliah, mereka membantu dengan menawarkan diri mengantar saya ke kampus dan mereka juga sering berbagi makanan. Hal tersebut mencerminkan nilai Pancasila terutama pada sila ketiga, yaitu persatuan Indonesia.

Dekadensi moral dapat diartikan sebagai “suatu keadaan terjadinya kemerosotan moral yang bermakna bahwa individu ataupun kelompok tidak mematuhi peraturan dan tata cara yang berlaku dalam masyarakat” (Edo Dwi Cahyo, 2017, h.19). Saat ini banyak terjadi kasus dekandasi moral, contohnya tawuran remaja di Unila pada bulan Oktober kemarin. Tawuran tersebut tidak mencerminkan etika dan moral yang harusnya dimiliki seorang remaja karena remaja harusnya fokus terhadap pendidikannya tanpa merugikan dirinya dan orang lain. Solusi yang dapat dilakukan agar tidak terjadi dekandasi moral, antara lain:
1) Penanaman nilai/moral di lingkungan keluarga untuk menciptakan fondasi penting bagi terbentuknya karakter remaja menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan akrab, saling bekerja sama, komunikasi yang positif, dan saling mendukung, sehingga remaja akan mudah meninternalisasikan nilai moral dalam kehidupan pribadinya dan siap berperan di masyarakat.
2) Menciptakan lingungan belajar yang baik, nyaman, dan teratur. Karakter remaja sebagai pelajar dapat terbentuk ketika berada di bangku pendidikan. Proses sosialisasi nilai moral dalam upaya pembinaan dan penanaman nilai moral pada remaja harus dilaksanakan dengan maksimal agar menghasilkan output remaja yang berakhlak mulia, taat dan patuh pada ajaran agamanya, berperilaku positif, dan patuh pada nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
3) Pemberian hukuman oleh aparat kepada remaja yang melakukan tindak kriminal.
Sumber Bacaan:
https://jurnal.untan.ac.id/index.php/JPSH/article/download/46320/75676589058

Akuntansi B Pancasila -> Forum Analisis Soal

Ilham Abi Yansyah 2211031175 གིས-
Nama: Ilham Abi Yansyah
NPM: 2211031175
Kelas: S1 Akuntansi D
MKU Pendidikan Pancasila

Tugas Analisis Soal

A. Pandemi Covid-19 berdampak ke semua sektor, salah satunya sektor pendidikan. Seperti yang kita ketahui pendidikan adalah sarana paling penting untuk mengembangkan karakter dan nilai seorang anak. Pendidikan umumnya dilakukan di sekolah, namun karena pandemi Covid-19 pendidikan dilakukan di rumah guna mengantisipasi penyebaran Covid-19. Menurut saya, pendidikan sekolah dari rumah memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihannya adalah siswa dapat belajar tanpa takut tertular Covid-19. Tetapi, pendidikan sekolah dari rumah memiliki banyak kekurangan, seperti tugas yang selalu ada pada setiap pertemuan, pemakaian pulsa internet yang lebih dari biasanya, perlunya tenaga ekstra bagi orang tua yang memiliki anak di tingkat sekolah dasar dan menurunnya semangat siswa dalam belajar. Saya pribadi pernah merasakan semuanya, dan saya juga memiliki adik, ia masih duduk di bangku kelas 3 SD yang memerlukan bimbingan dan pengawasan secara intens agar ilmu yang di berikan gurunya melalui handphone dapat sampai ke dirinya.

B. Dengan rutin melakukan pertemuan menggunakan aplikasi vidio conference (dengan aturan menghidupkan kamera dan aktif di kelas menggunakan ancaman), intervensi pemerintah terkait pemberian subsidi pulsa internet kepada guru dan siswa, dan yang tak kalah penting yaitu guru harus peduli terhadap siswa-siswanya karena jika guru peduli terhadap siswanya otomatis siswa akan nyaman dengan pelajaran tersebut, sehingga apa yang disampaikan dapat diterima oleh siswa.

C. Salah satu pendidikan karakter yang saya dapatkan akhir-akhir ini adalah tugas membuat resume dalam mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia. Tugasnya adalah membeli dagangan pedagang-pedagang yang usianya sudah tua, ataupun anak kecil yang skala dagangannya itu kecil, seperti penjual tisu, makanan ringan, koran, dan pedagang-pedagang kecil lainnya. Menurut saya, tugas tersebut sangat berguna bagi para mahasiswa baru yang masih mengalami masa transisi ke dewasa karena hal tersebut dapat membangun empati atau kepedulian kita terhadap sekitar, yang awalnya tidak tahu keadaan sekitarnya menjadi tahu bahwa masih banyak orang yang kondisinya belum seberuntung kita. Sehingga, dapat menciptakan rasa persatuan dan rasa kemanusiaan.

D. Pada hakikatnya Pancasila sebagai paradigma berpikir, bersifat, dan berperilaku dalam masyarakat mengandung arti bahwa dalam berpikir, bersifat, dan berperilaku dalam masyarakat harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Contohnya berpikir yang baik dengan tidak berperasangka buruk terhadap orang lain, bersifat yang baik terhadap sesama tanpa membeda-bedakan asal daerah, dan berperilaku yang baik di masyarakat dengan menghindari pelanggaran-pelanggaran norma dan melaksanakan norma-norma kehidupan. Tujuannya adalah untuk menciptakan kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Akuntansi B Pancasila -> Forum Analisis Jurnal

Ilham Abi Yansyah 2211031175 གིས-
Nama: Ilham Abi Yansyah
NPM: 2211031175
Kelas: S1 Akuntansi D
MKU Pendidikan Pancasila

Tugas Analisis Jurnal

Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila dalam Pancasila menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Menurut Abdulgani (dalam Ruyadi, 2003), Pancasila merupakan filsafat negara yang lahir sebagai collective ideologie (cita-cita bersama) dari seluruh bangsa Indonesia. Pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang dalam, yang kemudian dituangkan dalam suatu “sistem” yang tepat.

Sebagai sebuah sistem filsafat, Pancasila memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis yang membedakannya dengan sistem filsafat lainnya. Ontologis sendiri adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu atau tentang ada, keberadaan atau eksistensi yang disamakan dengan manusia, benda, alam semesta, dan metafisika. Secara ontopologis, penyelidikan Pancasila dimaksudkan sebagai upaya mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Notonegoro (dalam Ganeswara, 2007) menyatakan bahwa hakikat dasar ontologis Pancasila adalah manusia, sebab manusia adalah subjek pokok dari Pancasila. Dengan kata lain, manusia adalah subjek pendukung Pancasila. Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, jasmani, dan rohani. Sifat kodrat manusia adalah sebagai makhlukk individu dan makhluk sosial serta sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Secara lebih lanjut, hal ini bisa dijelaskan bahwa yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial adalah manusia.

Epistemologis adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat, susunan, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Kajian epistemologis filsafat Pancasila, dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Menurut Titus (dalam Kaelan, 2007) terdapat tiga persoalan mendasar dalam epistemology, yaitu: (1) tentang sumber pengetahuan manusia; (2) tentang teori kebenaran pengetahuan manusia; dan (3) tentang watak pengetahuan manusia. Tentang sumber pengetahuan Pancasila, sebagaimana diketahui bahwa Pancasila digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sendiri serta dirumuskan secara bersama-sama oleh “The Founding Fathers” kita. Ini berarti Pancasila telah menjadi suatu ideologi atau cita-cita bangsa. Oleh karena itu, Pancasila harus memiliki unsur rasionalitas terutama dalam kedudukannya sebagai sistem pengetahuan. Selanjutnya, sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya, yaitu nilai-nilai yanng terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan. Sebagai sebuah falsafah dan sebuah ideologi bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah dasar dari pelaksanaan segala aspek kehidupan bagi bangsa Indonesia. Salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dalam UU No.12 Tahun 2012 Pasal 1 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan seseorang agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai individu dan sebagai warga di masyarakat. Lalu, filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang pendidikan berdasarkan suatu filsafat. Pancasila adalah falsafah yang merupakan pedoman berperilaku bagi bangsa Indonesia yang sesuai dengan kultur bangsa Indonesia. Melalui pendidikan yang berpedoman oleh Pancasila, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila akan tersalur secara terus-menerus, sehingganya tercipta seseorang yang berkarakter sesuai dengan cita-cita bangsa.

Pendidikan karakter memang seharusnya diambil dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Agar tercipta warga Indonesia yang cerdas, berperilaku baik, mampu hidup secara individu dan sosial, memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kualitas suatu negara tergantung oleh kualitasnya warganya. Jika warga negaranya memiliki kualitas yang baik, maka otomatis kualitas negara tersebut dapat dikatakan baik.

Akuntansi B Pancasila -> Forum Analisis Video

Ilham Abi Yansyah 2211031175 གིས-
Nama: Ilham Abi Yansyah
Kelas : S1 Akuntansi D
NPM : 2211031175

Tugas Analisis Vidio
Pancasila merupakan dasar negara sekaligus ideologi bangsa guna mencapai cita-cita bangsa. Pancasila menjadi pandangan hidup bangsa karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila diambil dari nilai-nilai kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, yang setiap pulaunya didiami oleh kelompok masyarakat yang beraneka ragam, baik adat istiadat, suku, maupun kepercayaannya. Keberagaman tersebut yang menjadikan Indonesia memerlukan suatu unsur perekat ‘pengikat’ yang bersifat universal, yaitu unsur ketuhanan. Tujuan Tuhan menciptakan perbedaan adalah agar ciptaannya dapat saling mengenal dan sadar akan kuasa-Nya. Sebagai makhluk-Nya, kita harus meghormati adanya suatu perbedaan, ketika kita dapat menghormati adanya perbedaan artinya kita telah menjadi manusia yang beradab. Ketika sudah menjadi manusia yang beradab pasti lah akan muncul persatuan. Melalui persatuan, akan muncul manusia-manusia yang bijak. Dan, manusia-manusia bijak pasti akan berlaku adil.

Kita coba lihat kondisi negara kita saat ini. Masih banyak penyimpangan-penyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila. Maka itu, hal-hal dasar tadi harus selalu diterapkan agar tercipta keteraturan dalam hidup bernegara.