Kiriman dibuat oleh Widia Oktavani Br Tarigan 2217011095

Nama : Widia Oktavani Br Tarigan
NPM : 2217011095

Jurnal ini membahas pentingnya kearifan budaya lokal sebagai perekat identitas bangsa Indonesia di era globalisasi. Penulis, Ida Bagus Brata, menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan globalisasi, nilai-nilai budaya lokal perlu digali, dikaji, dan direvitalisasi untuk memperkuat fondasi jatidiri bangsa. Globalisasi yang membawa homogenisasi budaya seringkali mengancam keunikan budaya lokal, sehingga revitalisasi kearifan lokal menjadi penting untuk menjaga integrasi dan persatuan bangsa. Jurnal ini juga mengangkat pertanyaan apakah nilai-nilai budaya lokal masih relevan untuk dihidupkan kembali dalam menghadapi berbagai permasalahan di era globalisasi.

Selain itu, jurnal ini menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara multikultural memiliki keragaman suku bangsa dan budaya yang sangat kaya. Namun, keragaman ini juga berpotensi menimbulkan konflik jika tidak dikelola dengan baik. Penulis mengutip pandangan beberapa ahli yang menyatakan bahwa semboyan "Bhineka Tunggal Ika" masih lebih sebagai cita-cita yang harus diperjuangkan daripada kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kebudayaan Indonesia dari berbagai segi menjadi penting untuk menemukan integrasi sebagai unsur penting dalam usaha persatuan bangsa. Kearifan lokal dianggap sebagai modal budaya yang dapat menjadi dasar untuk memperkuat identitas nasional.

Terakhir, jurnal ini menawarkan solusi dengan mengangkat kearifan lokal sebagai inspirasi dalam penguatan jati diri bangsa. Penulis mencontohkan beberapa kearifan lokal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti konsep tri hita karana dari Bali dan gotong royong yang memiliki istilah berbeda di setiap daerah. Kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan wawasan kebangsaan dan membangun kualitas manusia Indonesia. Dengan demikian, revitalisasi kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai perekat identitas bangsa, tetapi juga sebagai modal budaya untuk menghadapi tantangan globalisasi.
Sebagai seorang mahasiswa, saya melihat bahwa dinamika dan tantangan Pancasila saat ini menjadi permasalahan di Indonesia karena berbagai faktor yang kompleks. Pertama, globalisasi dan perkembangan teknologi telah membawa masuk berbagai nilai dan budaya asing yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini membuat banyak masyarakat, terutama generasi muda, mulai terpengaruh dan mungkin kehilangan pemahaman atau penghayatan terhadap nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila.

Kedua, adanya isu-isu sosial dan politik seperti korupsi, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial yang masih terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Lebih jelasnya jika kita telusuri lagi ternyata ada masalah yang krusial pada pemahaman dan implementasi Pancasila itu sendiri. Banyak orang yang mungkin sudah menghafal butir-butir Pancasila, tapi penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari sering kali belum konsisten. Pancasila seringkali hanya diucapkan, tapi tidak benar-benar dipraktikkan.
Selain itu, ada juga masalah dengan polarisasi politik yang makin kuat di masyarakat. Perbedaan pandangan politik yang tajam kadang-kadang membuat orang lupa bahwa kita semua sebenarnya memiliki landasan yang sama, yaitu Pancasila. Ketika kepentingan politik lebih diutamakan daripada kepentingan bersama, nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Pancasila bisa jadi terpinggirkan.
Isu ketidakadilan sosial juga menjadi tantangan besar. Ketimpangan ekonomi yang masih tinggi membuat sebagian masyarakat merasa tidak mendapat manfaat yang sama dari pembangunan. Ketidakadilan ini bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa, karena sebagian orang merasa tidak diperlakukan secara adil sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Pancasila.
Isu-isu ini membuat implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari seolah-olah hanya menjadi jargon semata, tanpa adanya realisasi nyata.

Untuk menjaga keutuhan NKRI, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dan dijaga:
1. Pendidikan Pancasila yang Lebih Kuat: Pendidikan tentang Pancasila harus ditingkatkan, tidak hanya sebagai teori, tetapi juga dalam praktik sehari-hari. Generasi muda perlu diberi pemahaman yang mendalam tentang pentingnya Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup bermasyarakat.
2. Penguatan Kearifan Lokal: Nilai-nilai Pancasila banyak sejalan dengan kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Penguatan dan pelestarian kearifan lokal ini akan membantu memperkokoh Pancasila sebagai identitas nasional.
3. Penegakan Hukum yang Adil: Pancasila mengajarkan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, penegakan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu harus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap negara. Kepemimpinan yang Berintegritas juga termasuk di dalamnya, pemimpin harus mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dan mengedepankan kepentingan bangsa di atas segalanya.
4. Pemberdayaan Masyarakat: Memberikan masyarakat akses yang lebih luas terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi akan membantu mewujudkan keadilan sosial, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
5. Dialog dan Kerjasama Antar Kelompok: Mengingat Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku, agama, dan budaya, dialog dan kerjasama antar kelompok masyarakat sangat penting untuk mencegah konflik dan menjaga persatuan.
Dengan memperkuat dan menjaga hal-hal tersebut, kita bisa memastikan bahwa Pancasila tetap relevan dan menjadi fondasi yang kokoh bagi keutuhan NKRI.