Nama : Aisah Fawwaz Sulaimah
NPM : 2217011119
Kelas : C
Jurnal “Demokrasi sebagai Wujud Nilai-Nilai Sila Keempat Pancasila dalam Pemilihan Umum Daerah di Indonesia” oleh Mulyono dan Fatoni membahas bagaimana semestinya demokrasi di Indonesia berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, khususnya sila keempat. Pemilu daerah, sebagai salah satu bentuk penerapan demokrasi, seharusnya mencerminkan prinsip kerakyatan yang dijalankan melalui musyawarah dan perwakilan, bukan sekadar ajang formalitas lima tahunan. Namun, realitas yang terjadi di lapangan seringkali bertolak belakang. Pemilu banyak diwarnai praktik pragmatisme politik, dominasi elite, konflik antarpendukung, bahkan kecurangan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sungguh-sungguh dijadikan pedoman dalam berpolitik. Demokrasi yang dijalankan masih lebih condong ke arah prosedural, bukan substantif, sehingga makna dari “hikmat kebijaksanaan” belum sepenuhnya diwujudkan dalam proses pemilihan.
Lebih lanjut, penulis menegaskan bahwa demokrasi Indonesia semestinya memiliki ciri khas yang membedakannya dari demokrasi liberal di negara Barat. Demokrasi kita seharusnya berakar pada nilai-nilai kearifan lokal dan semangat gotong royong yang menjadi bagian dari budaya bangsa. Dalam konteks ini, pemilu tidak boleh hanya menjadi sarana perebutan kekuasaan, tetapi juga harus berfungsi sebagai ruang edukasi politik bagi masyarakat. Diperlukan kesadaran kolektif, baik dari partai politik, penyelenggara pemilu, maupun masyarakat, untuk menjalankan pemilu dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, etika, dan tanggung jawab. Jika sila keempat benar-benar dijadikan landasan, maka demokrasi Indonesia bisa berkembang menjadi sistem yang lebih bermartabat dan sesuai dengan identitas bangsa sendiri. Dengan begitu, pemilu bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga sah secara moral dan sosial dalam pandangan rakyat.
NPM : 2217011119
Kelas : C
Jurnal “Demokrasi sebagai Wujud Nilai-Nilai Sila Keempat Pancasila dalam Pemilihan Umum Daerah di Indonesia” oleh Mulyono dan Fatoni membahas bagaimana semestinya demokrasi di Indonesia berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, khususnya sila keempat. Pemilu daerah, sebagai salah satu bentuk penerapan demokrasi, seharusnya mencerminkan prinsip kerakyatan yang dijalankan melalui musyawarah dan perwakilan, bukan sekadar ajang formalitas lima tahunan. Namun, realitas yang terjadi di lapangan seringkali bertolak belakang. Pemilu banyak diwarnai praktik pragmatisme politik, dominasi elite, konflik antarpendukung, bahkan kecurangan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sungguh-sungguh dijadikan pedoman dalam berpolitik. Demokrasi yang dijalankan masih lebih condong ke arah prosedural, bukan substantif, sehingga makna dari “hikmat kebijaksanaan” belum sepenuhnya diwujudkan dalam proses pemilihan.
Lebih lanjut, penulis menegaskan bahwa demokrasi Indonesia semestinya memiliki ciri khas yang membedakannya dari demokrasi liberal di negara Barat. Demokrasi kita seharusnya berakar pada nilai-nilai kearifan lokal dan semangat gotong royong yang menjadi bagian dari budaya bangsa. Dalam konteks ini, pemilu tidak boleh hanya menjadi sarana perebutan kekuasaan, tetapi juga harus berfungsi sebagai ruang edukasi politik bagi masyarakat. Diperlukan kesadaran kolektif, baik dari partai politik, penyelenggara pemilu, maupun masyarakat, untuk menjalankan pemilu dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, etika, dan tanggung jawab. Jika sila keempat benar-benar dijadikan landasan, maka demokrasi Indonesia bisa berkembang menjadi sistem yang lebih bermartabat dan sesuai dengan identitas bangsa sendiri. Dengan begitu, pemilu bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga sah secara moral dan sosial dalam pandangan rakyat.