Posts made by Vivi Della Septiani

Nama : Vivi Della Septiani
NPM : 2217011161
Kelas : A

Menurut saya, video ini menggambarkan bahwa demokrasi memang tidak pernah sepi—penuh dengan suara, debat, dan perbedaan pendapat. Tapi justru itu yang bikin demokrasi kuat. Sistem ini memberi ruang bagi semua orang untuk menyampaikan pikirannya, bahkan jika itu berbeda atau bertentangan. Memang berisik, tapi itu tandanya demokrasi hidup. Yang penting, semua kebebasan itu tetap dijalankan sesuai aturan main, bukan seenaknya sendiri.

Saya juga merasa video ini menunjukkan bahwa di balik keributan demokrasi, ada nilai-nilai penting yang diperjuangkan, seperti kebahagiaan, kesejahteraan, dan keadilan. Dalam sistem ini, masyarakat punya kesempatan untuk terlibat, termasuk perempuan dan kelompok lainnya yang seringkali tidak mendapat ruang dalam sistem yang tertutup. Demokrasi mungkin tidak selalu efisien, tapi lebih manusiawi. Bagian yang cukup bikin mikir adalah saat dibahas soal penurunan kualitas demokrasi di Indonesia dan negara-negara besar lainnya. Dari data Freedom House, Indonesia bahkan sudah turun statusnya dari “bebas penuh”. Ini bukan cuma masalah kita saja, tapi juga jadi tantangan banyak negara. Artinya, demokrasi itu rentan dan perlu terus dijaga, karena bisa melemah kalau tidak diperhatikan.

Kesimpulannya, meskipun demokrasi kelihatan ribut dan penuh tantangan, ia tetap jadi sistem yang paling memberi harapan. Di sanalah suara rakyat bisa benar-benar didengar. Demokrasi memang tidak sempurna, tapi justru karena itu, kita harus terus ikut mengawasi dan memperbaikinya.
Nama : Vivi Della Septiani
NPM : 2217011161
Kelas : A

Jurnal "Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019" karya R. Siti Zuhro mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia telah melaksanakan pemilu beberapa kali secara langsung, kualitas demokrasi yang dihasilkan masih jauh dari harapan. Dalam analisisnya, Zuhro mencatat bahwa selama Pemilu 2019, terdapat berbagai masalah yang signifikan, seperti pembelahan sosial akibat perbedaan pilihan politik, maraknya penyebaran berita hoaks dan ujaran kebencian, serta politisasi identitas dan agama. Zuhro juga menyoroti bahwa partai politik saat ini belum mampu menawarkan calon pemimpin yang berkualitas dan berintegritas, sering kali lebih mementingkan popularitas di atas kualitas, seperti dengan mencalonkan figur publik yang tidak memiliki pengalaman politik yang memadai, termasuk artis. Kontroversi ini menjadi lebih rumit dengan kedudukan birokrasi yang juga tampak kurang netral, di mana banyak pegawai pemerintah terlihat mendukung salah satu kandidat tertentu, sehingga menimbulkan keraguan akan integritas dan netralitas mereka.

Penelitian ini menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia saat ini lebih bersifat prosedural dibandingkan substansial. Artinya, walaupun pemilu dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada, hal ini tidak cukup untuk memastikan bahwa kepentingan rakyat terwakili dengan baik di dalam pemerintahan. Zuhro menyarankan bahwa untuk membangun demokrasi yang lebih berkualitas dan dapat dipercaya oleh rakyat, diperlukan kerja sama yang lebih baik di antara semua pemangku kepentingan, termasuk partai politik, pemerintah, masyarakat, dan media, guna menciptakan iklim politik yang lebih demokratis dan inklusif.

Melalui analisis ini, terlihat jelas betapa pentingnya reformasi dalam sistem politik dan pemilu di Indonesia agar demokrasi yang lebih mendalam dan substansial dapat terwujud, mengingat bahwa partisipasi yang jujur dan akuntabel adalah kunci bagi keberlangsungan sistem demokrasi yang sehat.