Kiriman dibuat oleh Deya Aropannisa D 2216031128

Deya Aropannisa D_2216031128_Reguler B

A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Ketuhanan yang maha esa.
Sila Pertama ini menyiratkan adanya konsep tentang keberadaan Tuhan YME yang terus menjalin hubungan dan kesatuan dengan manusia dan alam semesta beserta isinya. Ilmu berparadigma Pancasila bersifat teistik.
Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sila Kedua ini dengan jelas menyiratkan adanya konsep tentang manusia yang utuh. Dalam keutuhannya, ada rohani dan ada jasmani. Sebagai kesatuan rohaniah, keberadaan hati nurani (qalbu) tidak kalah penting daripada akal. Ilmu berparadigma Pancasila mengakui dan menghargai keberadaan akal (rasio), namun bukan segala galanya (ratio above else) sebagaimana kredo “Cogito ergo sum.
Persatuan Indonesia
Keharusan menempatkan Sila Pertama dan sila Kedua sebagai jiwa Persatuan Indonesia, menunjukkan adanya keterpaduan antara karakter ilmu dengan faham kebangsaan Indonesia, sekaligus penolakan terhadap faham etnisisma dan etnosentrisma (Jacob, 2006).
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Sila ini menyiratkan adanya konsep bahwa rakyat atau wakil-wakil rakyat dalam menjalankan kekuasaannya harus dipimpin oleh kebijaksanaan, dengan penuh rasa tanggungjawab, baik secara vertikal kepada Tuhan YME maupun secara horizontal kepada seluruh rakyat Indonesia, dan tidak sekali-kali atas dasar kekuatan maupun legalitas formal. Semakin dekat manusia dengan sumber kebenaran absolut yaitu Tuhan YME, maka dia akan semakin bijaksana.
Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Keadilan itu bukan keadilan formal, suatu keadilan yang lahir karena perundang-undangan, melainkan keadilan yang bertumpu pada habitat sosialnya, yaitu masyarakat Indonesia, yang berkarakter komunalistik-religius. Ilmu berparadigma Pancasila mendorong perburuan keadilan sosial, sekaligus menolak dominasi positivisme (Sudjito, 2007).

B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
sekarang para pemimpin yang memiliki sikap panvasialis masih sangat kurang, mereka hanya berkoar-koar memiliki sikap pancasialis, namun pada penerapan dan kenyataan nya tidak sama sekali, mereka masih sering melakukan praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai pancasila. Harapan saya mengenai pemimpin yang akan datang yang agar dapat memiliki sikap pancasialis agar memiliki pedoman dalam bertindak.
Deya Aropannisa D_2216031128_Reguler B

A. Bagaimanakah tanggapanmu mengenai berita tersebut dan apa yang anda lakukan untuk mengantisipasi dampak negatif penyebaran hoax?
Saat ini pada era digital yang dengan sangat mudah kita untuk mendapatkan berita dari media sosial, namun hal ini juga yang membuat kita tidak secara bijak dan teliti dalam memilih dan menyebarkan berita, keminiman pengetahuan mengenai bagaimana cara mengetahui berita bohong atau tidak itulah pemicu utama berita hoaks masih sering tersebar. Saya setuju dengan kata dari Nukman Luthfie sebagai seorang pengamat media sosial, "seseorang dengan latar belakang pendidikan tinggi bahkan bisa juga menyebarkan hoaks". Mereka hanya menyebarkan berita yang mereka suka tanpa mencari tahu terlebih dahlu apakah berita tersebut benar atau salah.
Untuk itu kita sebagai generasi muda yang melek digital harus dapat mengantisipasi agar berita hoaks tidak berdampak negatif dari penyebaran hoaks, yaitu dengan cara terus mencari tau apakah berita yang kita baca itu benar atau hanya berita bohong saja. Kita harus bisa lebih waspada akan berita yang kita sebarkan itu benar-benar sudah dipastikan tidak ada unsur hoaks nyaa.
B. Bagaimanakah pengaruh pengembangan iptek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di media sosial dan solusi apa yang anda sampaikan bagi pengembangan iptek yang lebih baik?
pengembangan IPTEK yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila di media sosisal dapat berpengaruh terhadap pola pikir dan cara kita menggunakan IPTEK itu sendiri, mulai dari kita yang tidak perduli apa yang kita tonton di media sosial, apa yang kita sebarkan dan kita lihat, kemudian tingkah laku yang kita lakukan di media soaial itu tidak terkontrol. Solusi yang saya sarankan agar pengembangan iptek lebih baik, tidak lain dan tidak bukan yaitu dengan perkembangan iptek yang sangat cepat ini, kita harus terus berlandaskan dengan nili-nilai pancasila agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.

C. Sikap Konsumerisme menyebabkan Indonesia menjadi pasar bagi produk teknologi negara lain yang lebih maju ipteknya, bagaimakah solusi menurut program studi/jurusan yang anda ambil saat ini atas permasalahan tersebut?
sebagai makhluk sosial kita tidak dapat terlepas dari komunikasi, komunikasi menjadi hal penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Sikap konsumerisme merupakan sikap yang di hindari, maka saya selalu melakukan komunikasi intrapersonal agar saya tidak termasuk memiliki sikap konsumerisme.
Deya Aropannisa D_2216031128_Reg B

Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu dan hal itu menjadi peluang bagi Indonesia untuk memproklamasikan Negara Indonesia. Dijatohkan nya bom atom di Hirosima Jepang pada tanggal 6 Agustus dan nyaris setengah dari penduduk di Hirosima tewas. Setelah itu sekutu juga menjatuhkan bom atom ke dua di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus. Mentri luar negri Jepang pada saat itu menandatangani surat tanda jepang menyerah diatas kapal Amerika Serikat pada tanggal 15 Agustus. Hal ini menandakkan berakhir nya perang dunia kedua wilayah pasifik. Ini menandakan kekosongan kekuasaan statusqo di indonesia, dengan kesempatan ini, 2 hari setelah Jepang menyatakan menyerah kepada sekutu, bangsa Indonesia langsung mengumandangkan proklami tanda kemerdekan bangasa Indonesia.
Deya Aropannisa D_2216031128_Reguler B

video tersebut menyiarkan berita berupa aksi unjuk rasa warga di salah satu desa di Pekalongan Jawa Tengah. Karena mereka merasa tidak nyaman dengan air limbah pabrik pakaian yang terus di buang ke daerah warga selama kurang lebih 25 tahun terakhir ini. Aksi penolakan warga berupa menutup saluran pembuangan limbah pabrik, yang dimana jumlah pabrik yang membuang limbah nya ke sungai itu ada 6 pabrik. Dan tanggapan dari pemilik pabrik sendiri mengaku tidak tau bagaimana cara mengolah limbah pabrik jadi mereka memang merasa bersalah dan akhirnya hanya diam saja dengan aksi unjuk rasa dari masyarakat setempat.
Deya Aropannisa D_2216031128_Reg B
Setelah saya membaca dan menganalisa artikel 14a dan 14b saya mengambil kesimpulan bahwa kedua artikel terssebut sama-sama membahas mengenai hubungan pekembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)) dengan nilai-nilai Pancasila.
Menurut pendapat saya yang di dasari kedua artikel tersebut hubungan Pancasila dan IPTEK itu sangat kuat. Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman hidup bangsa Indonesia menjadi acuan kita untuk menghadapi kemajuan IPTEK. IPTEK selain memiliki dampak positif, juga dapat menimbulkan dampak negative, contoh dampak negative dari kemajuan IPTEK yaitu , munculnya kejahatan internet, menumbuhkan kecenderungan sikap anti-sosial, munculnya hoax, munculnya kriminalitas dengan senjata modern. Disini lah kemudian terjadi hubungan antara IPTEK dan nilai-nilai Pancasila. IPTEK perlu menyesuaikan dan mempertimbangkan nilai-nilai ideologi bangsa dalam hal ini Pancasila, baik dari aspek nilai agama maupun budaya semua haruslah relevan dan senantiasa mengacu pada nilai-nilai luhur bangsa agar kita dapat meminimalisir dampak negative dari perkembangan IPTEK itu tadi.