Kiriman dibuat oleh Yenaly Fitriana 2217011024

Nama : Yenaly Fitriana
NPM : 2217011024
Kelas : KIMIA C

Setelah saya membaca jurnal ini, bahwa jurnal ini membahas tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila, khususnya sila keempat yang menekankan pada demokrasi, dalam konteks pemilihan umum di Indonesia di mana penulis menegaskan bahwa pemilihan umum seharusnya mencerminkan partisipasi aktif warga negara dalam pemerintahan, sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang diamanatkan oleh konstitusi. Namun, dapat dikatakan pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia masih jauh dari ideal, di mana banyak aspek yang tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila, seperti konflik internal partai dan ketidakpuasan terhadap hasil pemilihan.

Jurnal ini juga membahas permasalahan dalam pelaksanaan pemilihan umum dengan cara mengidentifikasi berbagai permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan pemilihan umum, seperti kecurangan, konflik antar partai, dan tantangan bagi calon independen. Penulis menjelaskan bahwa meskipun pemilihan umum diatur oleh undang-undang, banyak ketentuan yang tidak jelas. Hal ini dapat mengakibatkan rendahnya partisipasi pemilih dan munculnya praktik-praktik politik yang tidak demokratis, seperti mahar politik dan penunjukan kepala daerah yang tidak transparan.

Oleh karena itu, penulis merekomendasikan perlunya reformasi dalam sistem pemilihan umum untuk lebih mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Ini termasuk memperkuat peran partai politik dalam mendukung demokrasi, mengurangi syarat yang memberatkan calon independen, dan meningkatkan transparansi dalam proses pemilihan. Dengan demikian, diharapkan pemilihan umum dapat menjadi sarana yang efektif untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis dan berkeadilan, serta menciptakan masyarakat yang lebih adil dan makmur sesuai dengan cita-cita pancasila.
Nama : Yenaly Fitriana
NPM : 2217011024
Kelas : KIMIA C

Setelah saya membaca jurnal ini, bahwa jurnal ini membahas tantangan konsolidasi demokrasi dalam pemilu presiden 2019 di Indonesia. Meskipun Indonesia telah melaksanakan beberapa pemilu sejak era Reformasi, pemilu 2019 menunjukkan adanya masalah dalam pendalaman demokrasi. Pemilu ini diwarnai oleh polarisasi politik yang tajam antara dua kandidat, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang menyebabkan ketidakpuasan publik dan kerusuhan sosial setelah pengumuman hasil pemilu. Penolakan salah satu kandidat terhadap hasil pemilu menunjukkan bahwa proses demokrasi di Indonesia masih belum sepenuhnya matang dan memerlukan perhatian lebih dalam membangun kepercayaan publik.

Terdapat tantangan dalam konsolidasi demokrasi di mana jurnal ini menyoroti bahwa konsolidasi demokrasi di Indonesia terhambat oleh beberapa faktor, termasuk politisasi identitas dan lemahnya peran partai politik. Politisasi identitas, terutama dalam konteks agama, menjadi isu penting yang mempengaruhi pemilih. Selain itu, partai politik sering kali gagal dalam proses kaderisasi dan lebih memilih untuk mencalonkan selebritis sebagai calon legislatif, yang mengurangi kualitas pemilu. Fragmentasi partai politik dan ketidakpuasan masyarakat terhadap representasi politik juga menjadi tantangan besar dalam menciptakan pemerintahan yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan rakyat.

Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa jurnal ini menyimpulkan untuk mencapai konsolidasi demokrasi yang berkualitas, diperlukan komitmen dari semua elemen masyarakat, termasuk partai politik, penyelenggara pemilu, dan masyarakat sipil. Keberhasilan pemilu tidak hanya bergantung pada prosedur yang diikuti, tetapi juga pada substansi demokrasi yang terbangun. Membangun kepercayaan publik melalui transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci untuk mengurangi konflik dan meningkatkan legitimasi pemerintahan. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam memperbaiki tata kelola pemilu dan memperkuat pilar-pilar demokrasi di Indonesia.