Nama: Salsabila Zidani Dhasilvi
Kelas: 2217011008
Kelas: A
Video ini membahas perjalanan panjang demokrasi di Indonesia dari masa revolusi kemerdekaan hingga era reformasi. Pada masa revolusi, demokrasi belum berkembang karena situasi negara yang fokus mempertahankan kemerdekaan. Peran pers seperti Tempo lebih sebagai alat perjuangan ketimbang kontrol terhadap kekuasaan.
Masa demokrasi parlementer (1945–1959) dianggap sebagai masa kejayaan demokrasi karena banyak prinsip demokrasi diterapkan. Namun, sistem ini gagal karena politik aliran yang memecah belah, lemahnya fondasi sosial ekonomi, dan ketidaksukaan elite militer serta Soekarno terhadap sistem multipartai yang tidak stabil.
Lalu pada masa demokrasi terpimpin (1959–1965), kekuasaan berpusat pada Presiden Soekarno dan diwarnai ketegangan antara tiga kekuatan besar: ABRI, Soekarno, dan PKI. Demokrasi berubah menjadi otoriter dan ruang partisipasi rakyat semakin sempit.
Pada masa Orde Baru, demokrasi dibungkus dalam konsep Demokrasi Pancasila. Tiga tahun awal terlihat ada harapan, namun kemudian kekuasaan semakin terkonsentrasi pada ABRI dan birokrasi. Partai politik dikendalikan, kebebasan sipil dibatasi, dan masyarakat dibuat tidak punya pilihan yang berarti dalam politik.
Era reformasi sejak 1998 membawa perubahan besar. Soeharto turun karena tekanan rakyat, dan demokrasi mulai dibuka kembali. Pemilu dilaksanakan lebih jujur dan adil, kekuasaan bisa berganti hingga ke tingkat desa, proses rekrutmen politik lebih terbuka, dan hak-hak dasar seperti kebebasan berpendapat lebih dihormati. Namun, demokrasi era reformasi ini masih dalam tahap mencari bentuk idealnya.
Secara keseluruhan, saya melihat bahwa demokrasi Indonesia berkembang melalui berbagai fase, dari yang sangat terbatas hingga terbuka. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam konsolidasi institusi politik dan budaya demokrasi di masyarakat. Video ini menggambarkan bahwa demokrasi bukan hasil instan, melainkan proses panjang yang butuh komitmen dari semua pihak.
Kelas: 2217011008
Kelas: A
Video ini membahas perjalanan panjang demokrasi di Indonesia dari masa revolusi kemerdekaan hingga era reformasi. Pada masa revolusi, demokrasi belum berkembang karena situasi negara yang fokus mempertahankan kemerdekaan. Peran pers seperti Tempo lebih sebagai alat perjuangan ketimbang kontrol terhadap kekuasaan.
Masa demokrasi parlementer (1945–1959) dianggap sebagai masa kejayaan demokrasi karena banyak prinsip demokrasi diterapkan. Namun, sistem ini gagal karena politik aliran yang memecah belah, lemahnya fondasi sosial ekonomi, dan ketidaksukaan elite militer serta Soekarno terhadap sistem multipartai yang tidak stabil.
Lalu pada masa demokrasi terpimpin (1959–1965), kekuasaan berpusat pada Presiden Soekarno dan diwarnai ketegangan antara tiga kekuatan besar: ABRI, Soekarno, dan PKI. Demokrasi berubah menjadi otoriter dan ruang partisipasi rakyat semakin sempit.
Pada masa Orde Baru, demokrasi dibungkus dalam konsep Demokrasi Pancasila. Tiga tahun awal terlihat ada harapan, namun kemudian kekuasaan semakin terkonsentrasi pada ABRI dan birokrasi. Partai politik dikendalikan, kebebasan sipil dibatasi, dan masyarakat dibuat tidak punya pilihan yang berarti dalam politik.
Era reformasi sejak 1998 membawa perubahan besar. Soeharto turun karena tekanan rakyat, dan demokrasi mulai dibuka kembali. Pemilu dilaksanakan lebih jujur dan adil, kekuasaan bisa berganti hingga ke tingkat desa, proses rekrutmen politik lebih terbuka, dan hak-hak dasar seperti kebebasan berpendapat lebih dihormati. Namun, demokrasi era reformasi ini masih dalam tahap mencari bentuk idealnya.
Secara keseluruhan, saya melihat bahwa demokrasi Indonesia berkembang melalui berbagai fase, dari yang sangat terbatas hingga terbuka. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam konsolidasi institusi politik dan budaya demokrasi di masyarakat. Video ini menggambarkan bahwa demokrasi bukan hasil instan, melainkan proses panjang yang butuh komitmen dari semua pihak.