Kiriman dibuat oleh Naghmah Syifa Bilqis

Pkn Mipa kimia 2025 -> FORUM JAWABAN POST TEST

oleh Naghmah Syifa Bilqis -
Nama: Naghmah Syifa Bilqis
NPM: 2217011072

Jurnal ini menekankan bahwa integrasi nasional bukan hanya tentang penyatuan fisik, tetapi juga tentang kesadaran kolektif yang memungkinkan berbagai kelompok dengan identitas yang berbeda untuk melihat diri mereka sebagai satu kesatuan, yaitu bangsa Indonesia. Penulis menyoroti bahwa perubahan rezim dari Orde Lama ke Orde Baru, dan kemudian ke Orde Reformasi, telah menciptakan dinamika politik yang kompleks. Orde Baru, yang berkuasa selama 32 tahun, dianggap gagal dalam mengelola pluralitas Indonesia karena menerapkan kebijakan sentralistik yang menekan identitas daerah. Kebijakan ini justru memicu resistensi dan konflik di berbagai daerah. Era Reformasi yang membawa kebebasan dan desentralisasi, meskipun diharapkan dapat memperbaiki situasi, justru menimbulkan kekacauan baru, seperti meningkatnya tindakan anarkis, pelanggaran moral, dan kriminalitas.

Penulis menekankan bahwa identitas nasional Indonesia tidak hanya dapat dilihat dari simbol-simbol fisik seperti bendera, lagu kebangsaan, atau bahasa, tetapi juga perlu direinterpretasi dalam konteks yang lebih luas. Media massa dianggap sebagai alat yang kuat dalam mengkonstruksi identitas kolektif, terutama melalui tayangan yang mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat. Media massa telah menciptakan kebudayaan massa yang serba cepat dan penuh perubahan, yang pada gilirannya mempengaruhi nilai, norma, dan simbol dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa identitas tidak hanya dibentuk oleh faktor-faktor tradisional seperti etnis atau agama, tetapi juga oleh faktor-faktor modern seperti media dan teknologi.

Penulis mengkritik kebijakan otonomi daerah yang dianggap memperkuat etnosentrisme. Otonomi daerah, yang seharusnya memberikan kebebasan kepada daerah untuk mengatur diri sendiri, justru sering kali digunakan untuk memperkuat identitas lokal dengan mengorbankan integrasi nasional. Penulis memberikan contoh bagaimana pendirian sekolah dan perguruan tinggi di setiap daerah, serta penempatan pejabat birokrasi berdasarkan asal daerah, dapat memperkuat sentimen kedaerahan dan mengurangi rasa persatuan nasional. Penulis menegaskan bahwa integrasi nasional harus menjadi strategi kebudayaan yang bertujuan untuk menyatukan visi dan misi bangsa Indonesia. Penulis menyarankan bahwa untuk mencapai integrasi nasional, masyarakat harus bersedia menerobos identitasnya sendiri dan mengambil jarak dari kepentingan-kepentingan yang sempit, seperti etnosentrisme atau sentimen kedaerahan.

Pkn Mipa kimia 2025 -> FORUM JAWABAN POST TEST

oleh Naghmah Syifa Bilqis -
Nama: Naghmah Syifa Bilqis
NPM: 2217011072

Jurnal ini menyoroti bahwa multikulturalisme bukan hanya tentang keberagaman, tetapi juga tentang kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai dengan menghormati perbedaan budaya. Namun, globalisasi yang membawa pengaruh kapitalisme dan modernisme cenderung mengaburkan batas-batas budaya lokal, sehingga memunculkan kebutuhan untuk merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal. Penulis mendefinisikan kearifan lokal sebagai bagian dari kebudayaan yang memiliki kemampuan untuk bertahan, mengakomodasi, dan mengintegrasikan unsur-unsur budaya luar ke dalam budaya asli. Kearifan lokal juga dianggap sebagai kebijakan manusia dan komunitas yang bersandar pada filosofi, nilai-nilai, etika, dan perilaku tradisional dalam mengelola sumber daya alam, hayati, manusia, dan budaya.
 
Jurnal ini juga membahas tantangan yang dihadapi oleh Indonesia sebagai negara multietnis dan multikultural. Penulis mengidentifikasi beberapa sumber konflik yang mungkin terjadi antar suku bangsa, seperti persaingan dalam mendapatkan sumber daya, pemaksaan budaya atau agama, dan dominasi politik. Untuk mengatasi konflik ini, penulis menyarankan perlunya revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai upaya untuk memperkuat identitas nasional dan menjaga keutuhan bangsa. Kearifan lokal dianggap sebagai modal budaya yang dapat menjadi dasar untuk membangun kesadaran kolektif dan integrasi nasional.

Penulis memberikan contoh-contoh kearifan lokal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti konsep Tri Hita Karana dari Bali yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, serta ungkapan-ungkapan bijak dari Jawa yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan sumber daya manusia dan menjaga kelestarian lingkungan. Penulis menegaskan bahwa Indonesia sebagai bangsa multikultural memiliki kewajiban untuk memelihara dan mendidik masyarakat agar mampu hidup bersama dalam keberagaman tanpa kehilangan identitas budaya masing-masing. Kearifan lokal dianggap sebagai aset kekayaan budaya yang dapat dijadikan sebagai perekat dan modal dasar untuk memperkokoh identitas bangsa.