གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Septa Anggraeni

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 2

Septa Anggraeni གིས-
Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H

Analisis video 2
Di dalam video tersebut, terdapat seorang siswa yang bertindak tidak sopan di dalam kelas, dimana saat guru sedang menjelaskan pelajaran, siswa tersebut malah melempar kertas ke arah guru yang sedang mengajar, lalu guru yang sedang mengajar tersebut memberikan hukuman atas tindakan siswa yang tidak sopan tersebut.

Lalu saat setelah pulang sekolah, terdapat siswa yang melakukan kegiatan menyimpang yaitu merokok dan minum minuman keras. Keesokan harinya kedua murid tersebut dipanggil untuk menemui guru yang tahu kejadian tersebut, dan mereka diberikan nasehat untuk tidak mengulangi hal tersebut.

Dari dua kejadian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan nilai dan moral memiliki peran yang sangat penting di dalam dunia pendidikan, jika nilai dan moral tidak ditanamkan dengan baik maka dapat terjadi hal menyimpang seperti kejadian di atas.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 1

Septa Anggraeni གིས-
Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H

Analisis video 1
Pentingnya pendidikan moral untuk anak Sekolah Dasar

Pengertian Pendidikan Moral

Pendidikan moral adalah suatu proses yang digunakan untuk menanamkan baik dan buruk mengenal perbuatan untuk mencapai kedewasaan. Pendidikan moral sangat penting untuk anak-anak sekolah dasar karena mereka harus memiliki sikap atau perilaku yang baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Penyebab Menurunnya Moral Pada Anak

•Perundungan di Sekolah
Perundungan kerap terjadi di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh anak sekolah dasar balk perempuan maupun laki-laki. Perundungan yang dimaksud yaitu dengan menyakiti korban secara fisik maupun sosial.

• Kekerasan Fisik dalam Keluarga
Hal lain yang menyebabkan perundungan oleh anak yaitu adanya kekerasan secara fisik yang dilakukan oleh saudara kandungnya dirumah kepada anak tersebut.

Peranan Orang Tua dan Guru
•Orang Tua
Dalam hal ini kita sangat memerlukan peran orang tua di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
•Guru
Guru berperan untuk memperkaya dan memperkokoh kepribadian anak.Dalam hal ini kita sangat memerlukan peran orang tua di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Kesimpulan

Dengan demikian, upaya dalam mewujudkan nila-nilai moral melalui pendidikan moral harus diupayakan agar pendidikan moral betul-betul maksimal. Bukan hanya dari guru, tetapi pendidikan moral sudah harus diajarkan sejak dini oleh orang tuanya. Terlebih anak biasanya mengikuti sikap atau perilaku orang tua yang kadang tidak baik untuk ditiru. Maka dari itu, orangtua adalah peran utama yang harus mencontohkan sikap dan perilaku baik agar anak memiliki sikap yang baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 2

Septa Anggraeni གིས-
Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H

Analisis jurnal 2

Identitas jurnal
Judul : PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Nama Penulis : Fahrudin

PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL
DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA
MENGATASI KENAKALAN REMAJA

Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena
anak untuk pertama kalinya mengenal pendidikan di lingkungan keluarga, sebelum
mengenal masyarakat yang lebih luas. Di samping itu keluarga dikatakan sebagai
peletak pondasi untuk pendidikan selanjutnya. Pendidikan yang diterima anak dalam
keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti
pendidikan selanjutnya di sekolah (MI.Soelaeman, 1978:23).

A. PERANAN KELUARGA BAGI ANAK-ANAK
Keluarga secara etimologis berasal dari rangkaian kata “kawula” dan “warga”.
Kawula artinya abdi yakni hamba sedangkan warga berarti anggota . Sebagai abdi di
dalam keluarga, seseorang wajib menyerahkan segala kepentingan kepada
keluarganya dan sebagai warga atau anggota, ia berhak untuk ikut mengurus segala
kepentingan di dalam keluarganya. Dalam Ensyclopedi Umum (MI. Soelaiman,
1978:8) bahwa yang dimaksud dengan keluarga yaitu kelompok orang yang ada
hubungan darah atau perkawinan yang terdiri dari ibu, ayah, anak–anaknya (yang
belum memisahkan diri sebagai keluarga). Apabila fungsi keluarga dalam kajian psikologikal modern menekankan
pendidikannya kepada pembinaan jiwa mereka dengan rasa cinta, kasih sayang dan
ketenteraman, justeru para ahli ilmu jiwa Muslim jauh sebelum itu telah menekankan
perkara ini dalam berbagai tulisannya. Ulama-ulama Muslim dahulu kala
menekankan pentingnya peranan pendidikan keluarga itu pada tahun-tahun pertama
usia anak-anak yang berdasar kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Di
samping itu, nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah banyak yang menekankan
pentingnya pendidikan dalam keluarga, di antaranya: Allah berfirman: “Peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S.(66):6). Juga Rasulullah bersabda:
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang
menjadikan ia Yahudi, Nashrani atau Majusi (H.R.Tabrani dan Baihaqi). Menurut M.I Silaeman (1978: 84), fungsi keluarga itu ada delapan jenis, yaitu:
(1) fungsi edukasi, (2) fungsi sosialisasi, (3) fungsi proteksi, (4) fungsi afeksi, (5)
fungsi religius, (6) fungsi ekonomi, (7) fungsi rekreasi, (8) fungsi biologis.
Berdasarkan kepada beberapa fungsi keluarga di atas terlihat bahwa salah satu
fungsi keluarga ialah fungsi pendidikan. Hal ini berarti bahwa orangtua sebagai
pendidik pertama dan utama mempunyai kewajiban dalam memberikan pendidikan
kepada anak-anaknya termasuk pendidikan nilai moral.

B. PERANAN NILAI MORAL BAGI ANAK-ANAK
Ada beberapa istilah yang sering digunakan secara bergantian untuk
menunjukkan maksud yang sama, istilah moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti
dan susila. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, “moral” diartikan sebagai keadaan
baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,
budi pekerti dan susila. Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam
bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. Kata moral
sendiri berasal dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara dalam kehidupan,
adat istiadat dan kebiasaan.
Dengan demikian pengertian moral dapat dipahami dengan
mengklasifikasikannya sebagai berikut:
1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan
tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meningalkan perbuatan
jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyarakat untuk
menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau sebaliknya buruk.
3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, seperti
berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya Sofyan Sauri, 2010: 34).
Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral
tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa
tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur,
maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEMEROSOTAN
MORAL
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah
tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti
hamil.

D. PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL UNTUK MENGATASI
KENAKALAN REMAJA DALAM KELUARGA
1. Penanaman pendidikan keimanan sejak dini kepada anak-anak. Yang dimaksud
dengan pendidikan iman menurut Abdullah nasih Ulwan (2007, jl.1:165) ialah
mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan sejak ia mengerti, membiasakannya
dengan rukun Islam sejak ia memahami, dan mengajarkan kepadanya dasar-
dasar syari’at sejak usia tamyiz. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam
penanaman nilai-nilai keimanan, ada empat hal yang harus diberikan kepada
anak-anak, yaitu: (1) membuka kehidupan anak dengan kalimah “la ilaha illa
Allah”, (2) mengenalkan hukum halal haram sejak dini kepada anak-anak, (3)
menyuruh anak-anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia tujuh tahun,
(4) mendidik anak agar mencintai Rasul, keluarganya, dan senang membaca al-
Qur’an.
2. Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak. Orang tua harus
memperhatikan pendidikan moral serta tingkah laku anak-anaknya. Menurut
Zakiyah Darajat (1971) bahwa pendidikan yang diterima dari orang tuanyalah
yang akan menjadi dasar dari pembinaan mental dan moralnya. Jangan sampai
orang tua membiarkan pertumbuhan anaknya berjalan tanpa bimbingan atau
diserahkan saja kepada guru di sekolah.
3. Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis, khususnya hubungan Ibu-
Bapak dan anggota keluarga lainnya, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka
dapat menjadi contoh bagi anak-anak, terutama anak yang belum berumur enam
tahun, di mana mereka belum dapat memahami kata-kata dan symbol yang abstrak.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 1

Septa Anggraeni གིས-
Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H

Analisis jurnal 1
Identitas jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Humanika
Nomor : 01
Tahun Terbit : 2017
Judul : PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Nama Penulis : Rukiyati

PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH

1. Pendidik Moral di Sekolah
Tidak dapat dipungkiri bahwa
pendidik utama di sekolah adalah guru.
Walaupun demikian, perlu disadari
bahwa pendidik moral di sekolah tidak
terbatas pada guru semata. Di sekolah
ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah.
Semua subjek tersebut berperan untuk
bersama-sama membangun moral siswa
agar menjadi orang yang baik.
Guru yang baik tentu saja sangat
strategis untuk terbentuknya moral siswa
yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan
oleh Henry Giroux (1988: xxxiv)
sekolah berfungsi sebagai ruang publik
yang demokratis. Sekolah sebagai
tempat demokratis yang didedikasikan
untuk membentuk pemberdayaan diri
dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah
tempat publik bagi peserta didik untuk
dapat belajar pengetahuan dan keahlian
yang dibutuhkan untuk hidup dalam
demokrasi yang sesungguhnya.

2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan
moral mencakup ajaran dan pengalaman
belajar untuk menjadi orang bermoral
dalam kaitan dengan diri sendiri, moral
terhadap sesama manusia dan alam
semesta serta moral terhadap Tuhan
Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Indonesia
berbeda dengan negara sekuler dan
negara komunis. Pendidikan agama yang
di dalamnya sarat dengan nilai-nilai
moral diberi tempat yang khusus dan
penting. Nilai-nilai moral yang diajarkan
di dalam ajaran agama menjadi sumber
nilai bagi kehidupan masyarakat
Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-
nilai moral agama tetap diberi tempat
khusus sebagaimana telah dimasukkan
dalam kurikulum, baik intra maupun
ekstra kurikuler. Hanya saja perlu
diwaspadai nilai-nilai moral agama
harus dibarengi dengan sikap untuk tetap
bertoleransi.

3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31)
mengusulkan 100 cara atau metode
pendidikan moral, yang dipayungi dalam
lima kategori besar metode pendidikan
moral yaitu penanaman (inkulkasi)
nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-
nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai
dan moralitas, kecakapan untuk
mengembangkan nilai dan melek moral,
pelaksanaan program pendidikan nilai di
sekolah.
Anak-anak yang hidup sekarang
ini hidup di zaman modern akhir yang
sangat jauh berbeda cara berpikir dan
perilakunya dengan anak-anak di masa
lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli
sebagai metode yang sudah usang dan
tidak sejalan dengan semangat modern
tersebut. Maka, ada metode lain yang
lebih sesuai yaitu inkulkasi atau
penanaman nilai.
Terkait dengan evaluasi
pendidikan moral, dalam teori
pendidikan Islam juga menitikberatkan
pada evaluasi sikap dan perilaku. Samsu
Nizar (2002: 80) mengatakan bahwa
evaluasi pendidikan Islam secara
keseluruhan lebih ditujukan untuk
mengetahui penguasaan sikap dan
perilaku dari pada penguasaan aspek
kognitif. Penekanan ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan subjek didik
yang meliputi empat hal, yaitu:
a. Sikap dan pengalaman peserta didik
terhadap hubungan pribadinya
dengan Tuhannya;
b. Sikap dan pengalaman peserta didik
terhadap arti hubungan dirinya
dengan masyarakat;
c. Sikap dan pengalaman peserta didik
terhadap arti hubungan
kehidupannya dengan alam
sekitarnya;
d. Sikap dan pandangan peserta didik
terhadap diri sendiri selaku hamba
Allah, anggota masyarakat, serta
khalifah Allah SWT.
Keempat kemampuan dasar tersebut
dijabarkan dalam beberapa klasifikasi
kemampuan teknis, yaitu:
a. Bagaimana loyalitas dan pengabdian
peserta didik kepada Allah dengan
indikasi-indikasi lahiriah berupa
tingkah laku yang mencerminkan
keimanan dan ketakwaan kepada
Allah SWT;
b. Bagaimana penerapan nilai-nilai
keagamaan dalam kegiatan kehidupan
bermasyarakat, seperti akhlak yang
mulia dan disiplin;
c. Bagaimana peserta didik mengelola,
memelihara serta menyesuaikan diri
dengan alam sekitarnya, termasuk di
dalamnya apakah ia merusak atau
memberi makna bagi kehidupannya
dan masyarakat di sekitarnya;
d. Bagaimana peserta didik memandang
dirinya sendiri sebagai hamba Allah
dalam menghadapi kenyataan
masyarakat yang beraneka ragam
budaya, suku dan agama.

3H 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 2

Septa Anggraeni གིས-
Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H

Analisis video 2
Pendidikan moral di Sekolah Dasar
Tahap-tahap Perkembangan Moral
1. usia 6-12 bulan
2. Usia 12-18 bulan
3. usia 18-30 bulan
4. usia 30-36 bulan
5. usia 3-4 tahun
6. usia 4-6 tahun
7. usia 7-8 tahun
8. usia 9-11 tahun
9. usia 12-15 tahun
10. usia 16-20 tahun
11. Dewasa Muda (usia 20-40 tahun)
12. Dewasa Tengah (usia 40-65 tahun)

Permasalahan serta solusi Perkembangan Moral Anak Sekolah Das
1. Hilangnya Kejujuran
2. Hilangnya Rasa Tanggung jawab
3. Rendahnya Disiplin
4. Kurang bisa Bekerja Sama
5. Mengambil Hak orang lain