Nama : Septa Anggraeni
NPM : 2213053241
Kelas : 3H
Analisis jurnal 2
Identitas jurnal
Judul : PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Nama Penulis : Fahrudin
PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL
DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA
MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena
anak untuk pertama kalinya mengenal pendidikan di lingkungan keluarga, sebelum
mengenal masyarakat yang lebih luas. Di samping itu keluarga dikatakan sebagai
peletak pondasi untuk pendidikan selanjutnya. Pendidikan yang diterima anak dalam
keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti
pendidikan selanjutnya di sekolah (MI.Soelaeman, 1978:23).
A. PERANAN KELUARGA BAGI ANAK-ANAK
Keluarga secara etimologis berasal dari rangkaian kata “kawula” dan “warga”.
Kawula artinya abdi yakni hamba sedangkan warga berarti anggota . Sebagai abdi di
dalam keluarga, seseorang wajib menyerahkan segala kepentingan kepada
keluarganya dan sebagai warga atau anggota, ia berhak untuk ikut mengurus segala
kepentingan di dalam keluarganya. Dalam Ensyclopedi Umum (MI. Soelaiman,
1978:8) bahwa yang dimaksud dengan keluarga yaitu kelompok orang yang ada
hubungan darah atau perkawinan yang terdiri dari ibu, ayah, anak–anaknya (yang
belum memisahkan diri sebagai keluarga). Apabila fungsi keluarga dalam kajian psikologikal modern menekankan
pendidikannya kepada pembinaan jiwa mereka dengan rasa cinta, kasih sayang dan
ketenteraman, justeru para ahli ilmu jiwa Muslim jauh sebelum itu telah menekankan
perkara ini dalam berbagai tulisannya. Ulama-ulama Muslim dahulu kala
menekankan pentingnya peranan pendidikan keluarga itu pada tahun-tahun pertama
usia anak-anak yang berdasar kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Di
samping itu, nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah banyak yang menekankan
pentingnya pendidikan dalam keluarga, di antaranya: Allah berfirman: “Peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S.(66):6). Juga Rasulullah bersabda:
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang
menjadikan ia Yahudi, Nashrani atau Majusi (H.R.Tabrani dan Baihaqi). Menurut M.I Silaeman (1978: 84), fungsi keluarga itu ada delapan jenis, yaitu:
(1) fungsi edukasi, (2) fungsi sosialisasi, (3) fungsi proteksi, (4) fungsi afeksi, (5)
fungsi religius, (6) fungsi ekonomi, (7) fungsi rekreasi, (8) fungsi biologis.
Berdasarkan kepada beberapa fungsi keluarga di atas terlihat bahwa salah satu
fungsi keluarga ialah fungsi pendidikan. Hal ini berarti bahwa orangtua sebagai
pendidik pertama dan utama mempunyai kewajiban dalam memberikan pendidikan
kepada anak-anaknya termasuk pendidikan nilai moral.
B. PERANAN NILAI MORAL BAGI ANAK-ANAK
Ada beberapa istilah yang sering digunakan secara bergantian untuk
menunjukkan maksud yang sama, istilah moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti
dan susila. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, “moral” diartikan sebagai keadaan
baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,
budi pekerti dan susila. Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam
bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. Kata moral
sendiri berasal dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara dalam kehidupan,
adat istiadat dan kebiasaan.
Dengan demikian pengertian moral dapat dipahami dengan
mengklasifikasikannya sebagai berikut:
1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan
tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meningalkan perbuatan
jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyarakat untuk
menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau sebaliknya buruk.
3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, seperti
berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya Sofyan Sauri, 2010: 34).
Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral
tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa
tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur,
maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya.
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEMEROSOTAN
MORAL
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah
tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti
hamil.
D. PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL UNTUK MENGATASI
KENAKALAN REMAJA DALAM KELUARGA
1. Penanaman pendidikan keimanan sejak dini kepada anak-anak. Yang dimaksud
dengan pendidikan iman menurut Abdullah nasih Ulwan (2007, jl.1:165) ialah
mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan sejak ia mengerti, membiasakannya
dengan rukun Islam sejak ia memahami, dan mengajarkan kepadanya dasar-
dasar syari’at sejak usia tamyiz. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam
penanaman nilai-nilai keimanan, ada empat hal yang harus diberikan kepada
anak-anak, yaitu: (1) membuka kehidupan anak dengan kalimah “la ilaha illa
Allah”, (2) mengenalkan hukum halal haram sejak dini kepada anak-anak, (3)
menyuruh anak-anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia tujuh tahun,
(4) mendidik anak agar mencintai Rasul, keluarganya, dan senang membaca al-
Qur’an.
2. Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak. Orang tua harus
memperhatikan pendidikan moral serta tingkah laku anak-anaknya. Menurut
Zakiyah Darajat (1971) bahwa pendidikan yang diterima dari orang tuanyalah
yang akan menjadi dasar dari pembinaan mental dan moralnya. Jangan sampai
orang tua membiarkan pertumbuhan anaknya berjalan tanpa bimbingan atau
diserahkan saja kepada guru di sekolah.
3. Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis, khususnya hubungan Ibu-
Bapak dan anggota keluarga lainnya, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka
dapat menjadi contoh bagi anak-anak, terutama anak yang belum berumur enam
tahun, di mana mereka belum dapat memahami kata-kata dan symbol yang abstrak.