Nama : Ahmad Aqil Al Falah
NPM : 2255061018
Kelas : PSTI A
ANALISIS JURNAL
Budaya tradisional sering dianggap sebagai sesuatu yang memiliki makna yang mendalam, mengusung nilai-nilai kearifan, kelestarian, dan kebaikan. Namun, di tengah perubahan dunia yang disebabkan oleh kapitalisme, modernisme, dan globalisasi, konflik antara budaya tradisional dan modern tidak dapat dihindari. Meskipun terdapat fakta bahwa unsur-unsur tradisional dan modern dapat disinkronkan dan diadaptasi, namun keduanya masih mengalami benturan.
Seperti yang telah diperkirakan oleh para pakar bahwa di era global saat ini, isu kebudayaan, agama, etnis, gender, dan gaya hidup akan menjadi lebih penting daripada isu konflik ekonomi yang terjadi pada masa industri. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan munculnya penolakan terhadap homogenitas budaya global atau kebudayaan asing, sehingga banyak orang yang ingin menegaskan keunikan budaya dan bahasa mereka sendiri. Dalam konteks ini, kearifan lokal menjadi sangat penting dalam memperkuat jati diri atau identitas budaya suatu kelompok etnis atau bangsa.
Di era globalisasi saat ini, penguatan jati diri suatu kelompok etnis atau bangsa sangatlah penting. Hal ini dilakukan untuk menghindari kelompok tersebut tercerabut dari akar budaya yang diwariskan oleh para pendahulu mereka di tengah-tengah kecenderungan homogenitas budaya yang terjadi akibat globalisasi. Indonesia sebagai negara bangsa yang multietnis dan multikultural sejak awal berdirinya telah menghadapi masalah legitimasi kultural. Kesenjangan, ketidakadilan, kurangnya pemerataan pembangunan, dan tirani minoritas di berbagai wilayah di Indonesia telah memicu terjadinya konflik sosial di berbagai wilayah, yang cenderung menjadi luka sejarah yang sulit dilupakan.
Namun, seringkali tuntutan berlebihan baik dalam skala mikro maupun makro muncul, bahkan menjadi masalah krusial yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara. Kebijakan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal terjebak dalam persoalan politik tanpa aplikasi yang nyata. Struktur masyarakat Indonesia yang multi dimensional merupakan kendala bagi terwujudnya konsep integrasi secara horizontal.