གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Selfi Yudia Ellsa Agustina 2213053305

Nama: Selfi Yudia Ellsa Agustina
NPM: 2213053305
Kelas: 3F

Etika, nilai, dan moral

-Etika adalah cara manusia memperlakukan sesama dan menjalani hidup dan kehidupan dengan baik, sesuai aturan yang berlaku di masyarakat. Seperti mengucapkan salam ketika akan memasuki rumah, mencium tangan kedua orang tua ketika akan pergi, dan membuang sampah pada tempatnya.

-Nilai ialah sesuatu yang memberi makna hidup yang dijunjung tinggi, yang mewarnai, dan menjiwai tindakan atau perilaku seseorang. Nilai juga bisa disebut penghargaan, penghormatan atau kualitas terhadap sesuatu yang dapat bermanfaat, menyenangkan, memuaskan, menarik, atau sebagai sistem keyakinan. Nilai juga bersifat relatif, artinya nilai bergantung oleh tempat dan waktu dan bersifat subjektif, nilai berbeda-beda bagi setiap orang.

-Moral adalah hal-hal yang dapat mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang baik sebagai kewajiban atau keharusan. Moral juga sebagai sarana untuk mengukur benar atau tidaknya sikap dan tindakan manusia dan kepekaan dalam pikiran, perasaan dan tindakan terhadap prinsip-prinsip dan aturan-aturan.
Manfaat mempelajari etika, nilai, dan moral, yaitu:

1. Kita dapat menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan

2. Meningkatkan toleransi

3. Lebih menghargai orang lain

4. Bertanggung jawab terhadap bidang kehidupan yang dijalani

5. Meningkatkan profesionalitas
Nama: Selfi Yudia Ellsa Agustina
NPM: 2213053305
Kelas:3F
Analisis Jurnal

PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Sebagian besar dari kita, termasuk filsuf serta orang tua dan pendidik, menganggap bahwa kedua fungsi moralitas saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak kita, dan sebaliknya (Wren, 2008: 11).Kohlberg mengembangkan instrumen penelitian untuk menggolongkan penalaran individu dalam mengatasi dilema moral. Dia menekankan bahwa tingkah laku bukan pusat perhatiannya, melainkan pertimbangan moral yang digunakan oleh individu. Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral dibagi menjadi tiga level dengan beberapa tahap di setiap level: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.
•Pra-konvensional (Tahap 1 dan 2): Fokus pada ketaatan aturan untuk menghindari hukuman, dan pertimbangan berdasarkan kebutuhan individu.
•Konvensional (Tahap 3 dan 4): Menekankan konformitas sosial, bersikap "baik," dan menjaga ketertiban sosial dengan mengikuti aturan serta menghormati otoritas.
•Pasca-konvensional (Tahap 5 dan 6): Memperhitungkan perbedaan nilai dan prinsip etika universal, bahkan jika bertentangan dengan hukum.
Nama: Selfi Yudia Ellsa Agustina
Npm: 2213053305
Kelas: 3F
Analisis Jurnal
Isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malay- sia, India, dan Cina. Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang ideologi yang siswa. berbeda. Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Uraian tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman bahwa karakteristik keempat negara itu berbeda, khususnya jika dilihat berdasarkan ideologinya karena perbedaan ideologi itu di antaranya berpengaruh bangsa terhadap sistem pendidikan nilai.
Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia. Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.
Nama: Selfi Yudia Ellsa Agustina
Npm: 2213053305
Kelas: 3F
Analisis Video 2

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern menurut beberapa ahli:
1. Menurut Komisioner KPAI Bidang Pendidikan (Ibu Retno Listyarti), sejak tahun 2014 kekerasan yang dilakukan oleh anak maupun anak sebagai korban cukup tinggi. Penyebabnya yang utama yaitu pola pengasuhan orang tua di rumah, guru dalam mengelola kelas, dan kekerasan yang dilakukan guru ataupun siswa tidak dibenarkan.
2. Menurut Praktisi Pendidikan (Dr. Itje Chodidjah, MA), seorang guru memiliki standar kompetensi utama yang sudah di atur dalam UU, yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi pedagogik. Sementara ini baik dalam pembekalan sebelum menjadi guru dan pelatihan setelah menjadi guru, keempat hal tersebut belum dilaksanakan secara holistik.
3. Menurut Psikolog (Vero Adesla), anak bertumpu pada level tingkat kognisi. Koginisi adalah kemampuan untuk bernalar dan berpikir apakah aksi itu berlanjut pada konsekuensi tertentu. Namun pada kasus anak tidak mampu mengelola emosi, ketika dia marah dan benci akan muncul implus atau rangsangan yang mendorong untuk bereaksi seketika (impulsif/reaktif). Tuntutan yang semakin besar dan berat menyebabkan tekanan (stres) semakin tinggi dan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk mengelola emosi.