Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm :2253053034
Kelas :3H
Analisis jurnal 1
Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Pada abad ke-21, kehidupan manusia diwarnai dengan berbagai konflik, termasuk konflik antara hak individu dan hak masyarakat secara keseluruhan. Gerakan hak-hak individu telah dikritik karena tidak mengakui potensi hak-hak individu dan tidak mengatasi permasalahan sosial yang lebih luas. Proses demokratisasi dikritik karena tidak mengatasi dinamika kekuasaan dalam masyarakat, sehingga berujung pada krisis kepemimpinan.
Konflik antara hak individu dan hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan juga dikritik karena berpotensi melemahkan kekuasaan pemerintah. Paradigma konflik sosial antara hak individu dan hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan menjadi lebih kompleks, dengan hak individu menjadi lebih negatif dan hak kolektif menjadi lebih kuat.
Analisis dan sintesis konflik-konflik ini digunakan untuk memahami hubungan antara hak individu dan hak masyarakat. Analisis terhadap hak individu dan hak kolektif telah menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang hak asasi manusia dan peran masyarakat dalam membentuk masa depan.
Arti dan Isi Filsafat
Istilah "philo sophia" berasal dari kata Yunani "philein" (cinta) dan "sophia" (kearifan). Ini mengacu pada hubungan antara subjek dan objek, dan pengetahuan tentang makna tindakan. Dalam konteks ini, cinta kearifan merupakan bentuk perbuatan yang mencerminkan apsiologi perbuatan, makna, moralitas atau etika.
Arti Moral dan Etika
Moral berasal dari bahasa Latin “mos” atau “mores” dan mengacu pada prinsip benar dan salah dalam berperilaku. Dalam bahasa Indonesia, moralitas merupakan istilah yang lebih luas yang berarti keinginan atau keinginan untuk berbuat baik. Etika, yang berasal dari bahasa Yunani, adalah keyakinan atau keyakinan. Moral dan etika saling berkaitan, dimana moral bersifat universal dan etika bersifat spesifik dan konkrit. Mereka saling berhubungan, dan konflik antara prinsip-prinsip moral dan etika tidak boleh muncul.
Pemikiran Filosofis tentang Manusia dan Masyarakat
Systematika pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya, diawali dengan pemikiran filosofis, dilanjutkan denga n pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Khusus mengenai pemikiran terakhir, dipandang perlu karena pendidikan adalah cara penanaman nilai-nilai moral dan etika. Pada umumnya pandangan "Timur" menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Suryomentaram (1974) mendapat bahwa manusia termasuk jenis yang berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Penekanan pada aspek sifat hakikat sosial tersebut, terkesan mengandung maksud agar dengan demikian bahaya individualisme dapat dihindarkan. Pandangan individualisme dinilai cenderung "merugikan" kehidupan bersama, dan individu tidak mungkin ada dan apalagi berkembang. Huijbers (1986) mengajukan seperangkat bukti bahwa peristiwa-peristiwa besar menimpa manusia sebagai pribadi individual, yang terjadi pada dia sendiri saja.
Huijbers berpendapat bahwa manusia adalah makhluk individu dan sosial, dengan individualisme dan kolektivisme menjadi dua aspek utama kehidupan manusia. Dalam masyarakat, individu berkomunikasi secara ko-eksistensial, dan ketika mereka mencapai tingkat sosialisasi tertentu, dunia menjadi satu kesatuan sosial. Namun, dalam kehidupan sosial, terdapat konflik antara prioritas individu dan prioritas sosial, yang pertama memprioritaskan individu dan yang terakhir memprioritaskan masyarakat. Veeger (1986) mengidentifikasi isu tersebut sebagai dunia Timur yang menggunakan individualisme Barat, sedangkan dunia Barat menggunakan kolektivisme Timur, dimana individu berada dalam masyarakat tanpa nilai dirinya.
Konsep masyarakat Veeger didasarkan pada gagasan bahwa masyarakat terdiri dari individu-individu yang memiliki minat, perilaku, dan pengalaman yang sama. Konsep masyarakat bukanlah suatu kesatuan yang terpisah dari yang lain, melainkan suatu kesatuan yang relasional. Merupakan organisasi sosial yang mengorganisasikan kemampuan individu untuk menjadi kekuatan sosial yang lebih besar dan efektif. Masyarakat bukan sekedar tempat berkumpul, namun sebuah proses dimana individu terlibat dalam berbagai tindakan sosial, mendorong pertumbuhan dan perkembangan individu. Oleh karena itu, suatu masyarakat harus “menjadi” dirinya sendiri.
Kesadaran Moral, dasar Etika Bermasyarakat
Moralitas dan etika tidak hanya hadir dalam kehidupan sehari-hari, namun juga dalam kehidupan individu yang hidup dalam suatu masyarakat. Ketika individu menggunakan sumber daya mereka dengan bijak, mereka cenderung berada dalam ranah moral dan etika. Hal ini dikarenakan pentingnya hidup bermasyarakat didasari oleh pentingnya hidup selaras dengan lingkungan. Moralitas juga merupakan sarana untuk mengungkapkan perasaan dan keyakinan seseorang, yang dapat dipengaruhi oleh moralitas orang lain. Bukan sekedar mengungkapkan perasaan, tetapi juga menumbuhkan rasa moral dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Moral dan Etika Bermasyarakat dalam Pendidikan
Manusia mempunyai potensi bawaan, namun jika tidak bertindak adil dapat mengganggu kehidupannya. Pendidikan merupakan wujud dari potensi tersebut, yang melibatkan interaksi antara individu dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Meliputi potensi individu, serta potensi sosial, yaitu keinginan setiap orang untuk menjadi baik. Pendidikan berfokus pada tiga potensi: moral, intelektual, dan moral. Dengan memusatkan perhatian pada potensi-potensi tersebut, individu dapat mencapai kebaikan baik dalam kehidupan individu maupun sosial. Pendidikan adalah suatu sistem perubahan yang bertujuan untuk mengubah, memahami, dan memenuhi tiga potensi manusia: moral, intelektual, dan moral.