Nama: Rio Andrew Permadi
NPM: 2215061044
Analisis: Pancasila, Ideologi Indonesia
Pancasila, yang saat ini menjadi sila atau dasar dari kehidupan bangsa indonesia sehari-hari merupakan sebuah rangkaian hasil pemikiran yang telah menuai berbagai macam ancaman dan tantangan namun tetap kokoh berdiri. Berasal dari gabungan gagasan para founding father negara ini, membuat pancasila mengadopsi nilai-nilai luhur yang bersifat terbuka dan akan terus valid sepanjang zaman. Ini menjadikannya sebagai ideologi luar biasa, yang tidak akan ditemukan pada ideologi populer seperti komunisme ataupun liberalisme, yang cenderung tertutup dan seringkali disalahgunakan oleh penguasa dalam praktiknya.
Hal tersebut tidak lepas dari tiap nilai yang terkandung pada setiap butir poin dari pancasila. Mereka menjadi satu dan menghasilkan harmoni yang bertautan serta saling menguatkan. Memberikan kekuatan pada landasan juga pandangan yang semestinya dipergunakan oleh setiap warga negara indonesia.
Selain dari kelebihan pancasila sebagai ideologi yang cukup kuat untuk menopang kehidupan bangsa indonesia dari zaman ke zaman, pancasila juga berperan penting sebagai identitas dan juga peringatan sejarah atas keberhasilan negara ini mencapai titik merdeka dan berdaulat penuh untuk menentukan nasib bangsanya sendiri. Pancasila dinilai sebagai salah satu representasi vital dari sebuah perjuangan panjang dan penuh dengan darah serta keringat, yang pada akhirnya terbayar lunas pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Dari urgensi yang disampaikan di atas, dapat diperhatikan bahwa pancasila sendiri haruslah dimengerti dan dipahami secara penuh oleh setiap masyarakat indonesia sebagai sebuah ideologi yang berkontribusi dalam setiap segmen kehidupan mereka. Kemudian, untuk dapat mengenal tiap sila yang tertuang dalam pancasila, warga negara indonesia harus mengerti pemaknaannya satu persatu. Beginilah kira-kira tiap sila dari pancasila dimaknai dan diterapkan semestinya.
Pertama, meski harus berjalan beriringan dengan gempuran tiga ombak ideologi besar yaitu sekuler, agama, serta tanpa agama, pancasila hadir memberikan jalan tengah bagi masyarakat indonesia untuk menganut agamanya secara bebas tanpa harus mengabaikan substansi dari agama seperti yang dilakukan oleh negara sekuler. Ini dapat terwujud tak lain karena poin pertama dari pancasila yang secara literal menyebutkan "Ketuhanan Yang Maha Esa", ini juga bersama-sama memberikan makna bahwa negara menjunjung penuh hak untuk menganut agama dan kepercayaan yang telah diakui oleh hukum tanpa perlu mengkultuskan dan memprivatisasi itu kepada agamaatau gologan kepercayaan tertentu tertentu seperti halnya dilakukan oleh negara-negara yang menyebut dirinya sebagai negara agama.
Kedua, bangsa indonesia mendapat dan mengemban hak serta kewajiban dalam poin kedua pancasila, yaitu "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Poin ini memberikan sebuah arahan bagi bangsa indonesia, terutama dari setiap individunya, untuk dapat berlaku secara adil dan juga beradab dalam kehidupan mereka di tanah air ini. Dengan kesadaran yang ditanam dalam sila kedua ini, keadilan serta perlakuan yang baik seharusnya dapat dijaminkan kepada seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Ketiga, melalui pancasila, akan diwujudkan sebuah eksistensi masyarakat yang mampu berserikat dan menyatukan diri terlepas dari setiap perbedaan dan hierarki yang telah tersusun sedemikian rupa. Ini tertulis secara gamblang di poin ketiga pancasila, yakni "Persatuan Indonesia," yang mana menghendaki tiap individu untuk bukan hanya menyadari perbedaan yang ada, tetapi sekaligus bagaimana cara menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut dalam rangka mencapai keharmonisan dan sinergi sehingga kedepannya tidak akan ada terjadi konflik yang terjadi di antara komponen SARA(Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) karena mereka sudah disatukan dalam sebuah terminologi "Persatuan Indonesia."
Keempat, tentu saja seringkali pengambilan keputusan komunal terjadi berdasarkan kepentingan pribadi orang yang memiliki kuasa atau kelompok-kelompok dengan pengaruh dan berada di hierarki atas. Ini menyebabkan pendapat perseorangan ataupun minoritas seringkali diabaikan karena kalah secara kuasa maupun suara. Ini mesti membawa ketimpangan dan ketidakadilan. Yang besar dan berkuasa akan semakin semena-mena, sedangkan kelompok minor dan tidak berdaya akan terus ditindas. Pancasila tentu saja tidak lalai dalam menangani problematika tersebut. Adalah poin keempat dari pancasila yaitu, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan", yang begitu eksplisit menghendaki tiap pengambilan keputusan didasari oleh hikmat kebijaksanaan dan diwadahi dalam sebuah permusyawaratan. Demikian dimaksudkan agar setiap suara dan pendapat boleh terdengar, sehingga pemimpin tidak dapat semena-mena mencatut salah satu pendapat saja, melainkan mendiskusikannya dalam permusyawaratan untuk mufakat. Selain mampu menghasilkan keputusan yang lebih efektif karena mempertimbangkan lebih banyak opsi dari opini-opini yang sebelumnya tak pernah didengar, ini juga akan menciptakan situasi di mana lebih banyak orang akan merasa diterima di perkumpulan dan akan mengundang mereka untuk lebih aktif menyuarakan ide dan pendapat. Mestinya skenario ini akan membawa dampak besar bagi kemajuan dari masyarakat indonesia, terutama dalam hal pengambilan keputusan dan hajat hidup orang banyak.
Kelima, dalam menjamin keadilan dan meregulasi masyarakat, pancasila menutup poinnya dengan sila kelima, yang berbunyi: "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Selain berarti memberikan hak mutlak bagi tiap individu untuk dapat memperoleh keadilan setiap saat, sila ini juga memberikan mandat bagi setiap warga negara untuk mematuhi hukum yang berlaku, yang semata-mata pula disusun untuk menertibkan masyarakat. Mengutip dari Presiden pertama Indonesia Bapak Soekarno, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia dapat dimaknai demikian, “Keadilan sosial ialah suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan”. Perkataan Pak Soekarno makin memperjelas maksud dari keadilan sosial, yakni untuk mencapai suatu masyarakat yang dapat berlaku adil sehingga setiap orang dapat memperoleh hidup bahagia karena tidak ada lagi pelanggaran terhadap hukum dan tidak lagi terjadi penindasan, penghinaan, serta penghisapan(pemerasan).
Pada akhirnya, fungsi pancasila sebagai ideologi akan menjadi mustahil untuk digantikan. Meski sekarang banyak generasi bangsa yang mencoba mengimplementasi ideologi selain pancasila, sebagian besar upaya mereka tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan, di beberapa kasus, penerapan ideologi luar ini malah mengundang pandangan serta gaya hidup lain yang tidak sehat. Misalnya saja penerapan liberalisme yang seringkali berujung pada perilaku konsumtif yang sangat merusak, atau penerapan ideologi anarko yang pada kenyataannya lebih sering terkait dengan kekerasan dan rebel.
Dengan fakta ini semestinya seluruh warga indonesia mengerti dan sadar seberapa vitalnya pancasila. Semoga di masa depan pancasila akan terus dipergunakan dan akan menjadi sebuah ideologi yang mengantarkan rakyat indonesia kepada suatu kemerdekaan yang tidak hanya merdeka, tetapi juga bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.