Nama : Liza dwi wahyuni
Npm: 2253053015
Kelas: 3F
Analisis jurnal 1
Kehidupan manusia semakin kompleks. Kompleksitas mengemuka dalam
tatanan global yang ditandai dengan
munculnya berbagai masalah dan isuisu global seperti pelanggaran hak-hak
asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Hal ini menuntut adanya pemikiran yang berkaitan dengan sistem
pendidikan yang cocok untuk menjawab permasalahan tersebut.
isu pendidikan nilai moral yang terjadi di
empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Empat negara itu
dapat mewakili karakteristik bangsa
dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis.
Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003),
menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam,
termasuk bahan ajar akhlak, cenderung
terfokus pada pengayaan pengetahuan
(kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Dengan kata lain,
pendidikan agama lebih didominasi
oleh transfer ilmu pengetahuan agama
dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek
sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak
menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Menurut Sudarminta (dikutip S. Belen, 2004: 9), praktik
yang terjadi mengenai sistem pendidikan nasional era Orde Baru ─terutama pendidikan nilai─hanya mampu
menghasilkan berbagai sikap dan perilaku manusia yang nyata-nyata malah
bertolak belakang dengan apa yang diajarkan.Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003),
menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam,
termasuk bahan ajar akhlak, cenderung
terfokus pada pengayaan pengetahuan
(kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim.
Pendidikan nilai di India tampak
lebih populer dibandingkan dengan di negara lain.Ruang lingkup pendidikan nilai meliputi (a) pendekatan
dan metodologi pendidikan nilai pada
tingkat dasar dan menengah, (b) untuk
tingkat dasar program lebih dititikberatkan pada pengindentikasian nilainilai yang perlu ditanamkan kepada
siswa dengan strategi dan teknik yang
tepat, (c) pengembangan konseling melalui pendekatan agama, (d) program
pengembangan afektif bagi para instruktur pelatihan guru.
sistem pendidikan di Malaysia masih
dihadapkan pada beberapa kendala. Di
antaranya, (a) nilai masih banyak diajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang preskriptif, sehingga kurang memberikan kebebasan kepada
peserta didik untuk memilih dan menentukan nilai, (b) alat evaluasi yang
sesuai dengan kebutuhan, khususnya
untuk mengembangkan teknik-teknik
pengamatan perilaku, belum terjabarkan dengan jelas, (c) cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai
masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan (d) pandangan guru,
orang tua, dan masyarakat masih menempatkan kognisi sebagai aspek yang
lebih penting daripada aspek afeksi
(Mujlyana, 2004: 237).
Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung pendidikan
nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara
langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti
program pendidikan kewarganegaraan
dan melalui kegiatan kokurikuler.
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban
moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting
dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada
beberapa tantangan berikut. Harapan
masyarakat dan orang tua siswa akan
kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan
akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental,
perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab yang
besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung
oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai.