གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Widia Nata Saputri 2213053057

Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G

Hasil analisis video 1 dengan judul "6 Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Kohlberg"

Tahap perkembangan moral menurut teori Kohlberg terbagi menjadi 3 level, dimana setiap level terdapat dua tahap. Tahap-tahap tersebut antara lain:
• Level 1 - Tahap 1 Menghindari Hukuman
Untuk menghindari hukuman, seseorang mempunyai alasan untuk bertindak atau bahkan tidak bertindak.
- Tahap 2 Keuntungan dan minat pribadi
Pada tahap ini adanya pertimbangan mengenai tindakan yang akan dilakukan, dengan memperhitungkan sesuatu yang akan didapat. Seperti memikirkan keuntungan apa yang akan didapat jika melakukan hal tersebut.

• Level 2 - Tahap 3 Menjaga sikap orang lain
Pada tahap ini seseorang akan memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada serta pandangan dan pendapat orang lain terhadapnya.
- Tahap 4 Memelihara peraturan
Apabila suatu peraturan tidak dipatuhi, maka keadaan akan menjadi kacau. Oleh karena itu, peraturan harus selalu dipatuhi untuk memberikan kenyamanan bagi semua orang.

• Level 3 - Tahap 5 Orientasi Kontrak sosial
Ditahap ini, pemikiran bahwa tiada yang absolut atau pasti saat melihat suatu kasus. Semua orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda. Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
- Tahap 6 Prinsip etika Universal
Pada tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang. Ia akan tetap melakukan suatu hal yang dianggap benar walaupun bertentangan dengan aturan hukum yang ada.
Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3/G

Hasil Analisis Video 2 dengan judul "Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern"
Duka mendalam dan sesuatu yang sangat memprihatinkan datang di dunia pendidikan, dimana terdapat seorang siswa membunuh gurunya sendiri. Kasus tersebut merupakan bentuk moralitas pelajar saat ini yang sangat menurun.
 
Faktor yang melatarbelakangi penurunan moral adalah pola asuh dari orang tua di rumah. Pengelolaan kelas saat disekolah juga merupakan hal yang penting dalam membentuk moral peserta didik yang baik.
Untuk menghadapi keberagaman peserta didik, tentunya seorang guru perlu memiliki bekal. Guru perlu membenahi kepribadian diri terlebih dahulu sebelum terjun kedalam kelas dan mampu membentuk karakter baik peserta didik.
 
Dalam sudut psikologis, yang melatarbelakangi seorang anak melakukan kekerasan adalah tingkat penalaran yang masih kurang. Kemampuan dalam mengelola emosi merupakan sesuatu yang sangat penting. Reaksi tanpa memikirkan resiko dapat menyebabkan anak akan dengan mudah melakukan hal hal yang berbahaya. Level toleransi saat ini yang dimana para pelajar mudah stress dan tertekan karena banyaknya tuntutan yang harus terpenuhi dalam satu waktu.
Banyak alasan yang menjadi latar belakang kekerasan itu terjadi, namun apapun alasannya, kekerasan bukanlah hal yang benar. Untuk itu, pendidikan nilai dan moral harus senantiasa ditingkatkan.
Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G

Hasil Analisis Jurnal 1
1. identitas Jurnal
Judul Jurnal : Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Perspektif Glonal
Penulis Jurnal : Sudiati
2. Hasil dan Pembahasan
Untuk menjadikan suatu bangsa berpredikat ganda, tidak hanya memerlukan pengembangan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga memerlukan pengembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian dan etik-moral. Kesemuanya itu dapat disebut dengan pengembangan pendidikan nilai. Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai nilai dalam diri seseorang baik nilai-nilai personal maupun nilai sosial.

1). Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
A. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia saat ini masih belum menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Alasannya karena pendidikan begitu terpaku pada kurikulum dan adanya pandangan simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektarian-subjektif dan belum banyak menyentuh nilai universal objektif.
B. India
Dalam pendidikan nilai di India dikembangkan sebagai usaha dalam meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandang agama. Maksudnya menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama universal.
C. Malaysia
Terdapat dua pengembangan pendidikan nilai di sekolah dasar. 1) pendidikan langsung, diajarkan melalui pendidikan moral dan pelajaran agama. 2) pendidikan tidak langsung dikembangkan melalui jumlah mata pelajaran lainnya.
D. Cina
Dalam tradisi ina menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Namun meski begitu, pendidikan nilai di Cina memiliki banyak tantangan sehingga belum optimal.

2). Dimensi Pendidikan Nilai Moral
A. Teori perkembangan moral
Nilai moral bersifat relatif. Para ahli lain memandang bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang jauh lebih
spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan ukuran kelompoknya.
B. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral tawaran John P. Miller tidak jauh berbeda dengan tawaran Kohlberg. Artinya, John P. Miller pun beranggapan bahwa pendidikan nilai moral berfokus pada pembentukan pribadi secara integratif. Oleh karena itu, pendidikan nilai moral bersifat individualistis. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.
C. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
D. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Dilakukan dengan dua metode, yaitu metode langsung dan tidak langsung. Di samping itu, pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif. Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci kedalam teknik atau prosedur pembelajaran. Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (i) teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi
Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G
Prodi : PGSD

Analisis Jurnal 2
1. Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg
Penulis Jurnal : Enung Hasanah

2. Hasil dan Pembahasan
Bagi para siswa di wilayah Indonesia yang secara umum masyarakatnya adalah masyarakat religius yang meyakini bahwa moral merupakan pondasi terpenting bagi keberhasilan seseorang baik dalam karir maupun kehidupan pribadinya. Penalaran moral berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan pada dilemma moral tentang sikap dan perilaku yang sebaiknya dipilih. Hal itu merupakan esensi utama sebuah proses pendidikan.

Teori Kohlberg
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral dan pernyataan (statement) mengenai perkataan yang benar atau salah , tetapi memperhatikan kematangan moral yang tercermin dalam pertimbangan (penalaran) mereka dalam bertingkah laku.
Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam
pandangan moral orang tersebut.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
- Tahap 1 Ketaatan dan Hukuman (melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut untuk menghindari hukuman)
- Tahap 2 Individualisme dan Pertukaran (menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka
melayani kebutuhan individu)

Level 2. Moralitas Konvensional
- Tahap 3 Hubungan Interpersonal (fokus pada memenuhi harapan dan peran sosial, penekanan pada konformitas)
- Tahap 4 Menjaga Ketertiban Sosial (menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan)

Level 3. Moralitas Pasca-konvensional
- Tahap 5 Kontrak sosial dan hak perorangan (mulai memperhitungkan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain, aturan hukum sangat penting)
- Tahap 6 Prinsip Universal (mengikuti prinsip keadilan yang diinternalisasi, bahkan jika bertentangan dengan hukum dan peraturan)