Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G
Hasil
Analisis Jurnal 1
1. identitas Jurnal
Judul Jurnal : Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Perspektif Glonal
Penulis Jurnal : Sudiati
2. Hasil dan Pembahasan
Untuk menjadikan suatu bangsa berpredikat ganda, tidak hanya memerlukan pengembangan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga memerlukan pengembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian dan etik-moral. Kesemuanya itu dapat disebut dengan pengembangan pendidikan nilai. Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai nilai dalam diri seseorang baik nilai-nilai personal maupun nilai sosial.
1). Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
A. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia saat ini masih belum menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Alasannya karena pendidikan begitu terpaku pada kurikulum dan adanya pandangan simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektarian-subjektif dan belum banyak menyentuh nilai universal objektif.
B. India
Dalam pendidikan nilai di India dikembangkan sebagai usaha dalam meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandang agama. Maksudnya menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama universal.
C. Malaysia
Terdapat dua pengembangan pendidikan nilai di sekolah dasar. 1) pendidikan langsung, diajarkan melalui pendidikan moral dan pelajaran agama. 2) pendidikan tidak langsung dikembangkan melalui jumlah mata pelajaran lainnya.
D. Cina
Dalam tradisi ina menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Namun meski begitu, pendidikan nilai di Cina memiliki banyak tantangan sehingga belum optimal.
2). Dimensi Pendidikan Nilai Moral
A. Teori perkembangan moral
Nilai moral bersifat relatif. Para ahli lain memandang bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang jauh lebih
spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan ukuran kelompoknya.
B. Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral tawaran John P. Miller tidak jauh berbeda dengan tawaran Kohlberg. Artinya, John P. Miller pun beranggapan bahwa pendidikan nilai moral berfokus pada pembentukan pribadi secara integratif. Oleh karena itu, pendidikan nilai moral bersifat individualistis. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.
C. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
D. Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Dilakukan dengan dua metode, yaitu metode langsung dan tidak langsung. Di samping itu, pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif. Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci kedalam teknik atau prosedur pembelajaran. Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (i) teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi