Nama : Widia Nata Saputri
NPM : 2213053057
Kelas : 3G
Hasil analisis jurnal 1
1. Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Pendidikan Moral di Sekolah
Penulis Jurnal : Rukiyati
Nama Jurnal : Jurnal Humanika
Nomor dan Tahun : No. 1. Maret 2017
2. Hasil dan Pembahasan
Dari jurnal tersebut dapat dikatakan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.
1) Pendidikan Moral di Sekolah, tidak terbatas pada guru semata, melaikan menyangkut semua warga yang ada di sekolah. Guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
2) Materi pendidikan Moral, mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai moral agama harus dibarengi dengan sikap untuk tetap bertoleransi.
3) Metode Pendidikan Moral
a. Inkulkasi nilai, dengan identifikasi nilainilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita (story telling) dimulai dari rumah atau keluarga, tetapi dapat juga dilakukan di sekolah, terutama di sekolah-sekolah dasar.
b. Metode Keteladanan, Dalam masyarakat tradisional, keteladanan diterima secara terbaru tanpa harus mengejar argumentasi rasionalnya; sedangkan pada masyarakat modern sekarang keteladanan diterima dengan pemahaman dan argumentasi rasional.
c. Metode Klasifikasi Nilai, Anak diberikan kebebasan untuk memutuskan sendiri. membantu anak-anak muda menjawab beberapa pertanyaan dan membangun sistem nilai sendiri.
d. Metode fasilitas nilai, Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
e. Metode keterampilan nilai moral, dimulai dengan pembiasaan.
4) Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas
strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal,
bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
Terkait dengan evaluasi pendidikan moral, dalam teori pendidikan Islam juga menitikberatkan
pada evaluasi sikap dan perilaku.
3. Simpulan
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
NPM : 2213053057
Kelas : 3G
Hasil analisis jurnal 1
1. Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Pendidikan Moral di Sekolah
Penulis Jurnal : Rukiyati
Nama Jurnal : Jurnal Humanika
Nomor dan Tahun : No. 1. Maret 2017
2. Hasil dan Pembahasan
Dari jurnal tersebut dapat dikatakan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.
1) Pendidikan Moral di Sekolah, tidak terbatas pada guru semata, melaikan menyangkut semua warga yang ada di sekolah. Guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
2) Materi pendidikan Moral, mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai moral agama harus dibarengi dengan sikap untuk tetap bertoleransi.
3) Metode Pendidikan Moral
a. Inkulkasi nilai, dengan identifikasi nilainilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita (story telling) dimulai dari rumah atau keluarga, tetapi dapat juga dilakukan di sekolah, terutama di sekolah-sekolah dasar.
b. Metode Keteladanan, Dalam masyarakat tradisional, keteladanan diterima secara terbaru tanpa harus mengejar argumentasi rasionalnya; sedangkan pada masyarakat modern sekarang keteladanan diterima dengan pemahaman dan argumentasi rasional.
c. Metode Klasifikasi Nilai, Anak diberikan kebebasan untuk memutuskan sendiri. membantu anak-anak muda menjawab beberapa pertanyaan dan membangun sistem nilai sendiri.
d. Metode fasilitas nilai, Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
e. Metode keterampilan nilai moral, dimulai dengan pembiasaan.
4) Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas
strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal,
bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
Terkait dengan evaluasi pendidikan moral, dalam teori pendidikan Islam juga menitikberatkan
pada evaluasi sikap dan perilaku.
3. Simpulan
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.