Kiriman dibuat oleh Nasywa Fadillah Asnah 2253053020

Nama : Nasywa Fadillah Asnah
NPM : 2253053020

Analisis saya adalah,
Pentingnya pendidikan nilai serta moral kepada anak dari orang tua, cara anak melakukan sesuatu pasti hasil dari apapun yang orang tuanya berikan. Kekerasan di sekolah merupakan isu yang kompleks dan faktor penyebabnya bisa berlapis.
Menurut peneliti, kesenjangan sosial, kemiskinan ekstrem, dan peminggiran sosial (eksklusi sosial) menjadi beberapa pemicu tindak kekerasan di sekolah,
seperti dihina, direndahkan, tidak diharapkan lahir, tidak disayangi, mengalami perundungan, ditendang, dipukul, dicekik, dibekap, diancam/diserang dengan senjata, konflik atau kekerasan yang terjadi antara dua atau lebih kelompok pelajar yang berasal dari sekolah yang berbeda tak seharusnya tindak kekerasan yang melibatkan murid, guru, dan staf sekolah yang dapat mengganggu proses pengajaran dan pembelajaran.
Nama : Nasywa Fadillah Asnah
NPM : 2253053020

Analisis saya adalah,
Kembali ke tahun 1967 silam, Foot mengajukan sebuah eksperimen yang kemudian dikenal sebagai trolley problem eksperimental dari pertanyaan yang baru saja dimainkan yang telah diadaptasi untuk memahami , seperti perang, penyiksaan, aborsi dan studi ini kemudian menjadi semakin penting saat perkembangan artifisial intelijen dimana mesin diberikan kontrol untuk mengambil keputusan mana yang lebih bermoral pada berbagai kondisi yang terjadi. The trolley problem membuat kita berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan, apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya, dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari apakah lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang lebih bermoral atau hanya sebuah pembenaran belaka kita mungkin sering.
Masalah kereta ini merupakan satu masalah yang "diciptakan" untuk menggantikan masalah yang terjadi di kehidupan, namun tidak ada solusi. Masalah troli bukanlah tentang mencari "solusi" tapi melihat bagaimana seseorang akan bertindak. Bila dogma tertentu meminta seseorang untuk berjalan lurus, meski ada lima korban, itu akan dipilih ketimbang dia harus "belok".
Kebanyakan orang berpegang pada etika, di mana membiarkan korban yang lebih sedikit lebih baik ketimbang korban yang lebih banyak.
Masalah ini seperti masalah filosofis lainnya, meminta seseorang untuk berpikir jernih dan mempertimbangkan orang lain, alih-alih dogma, keselamatan diri, dan kepentingan diri sendiri. Karena itu, banyak yang berkata bahwa masalah kereta diciptakan hanya untuk direnungkan, karena tidak ada solusi yang pasti untuk masalah ini.
Nama : Nasywa Fadillah Asnah
NPM : 2253053020

Analisis Jurnal "Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia Di Kalangan Remaja".

Pengertian Nilai Moral Nilai moral bisa bervariasi dari satu individu ke individu lain, dan bisa juga berbeda antara satu kelompok atau masyarakat dengan kelompok atau masyarakat lain. Beberapa contoh nilai moral yang umum adalah kejujuran, keadilan, toleransi, kebaikan hati, dan tanggung jawab.Alangkah indahnya hubungan antara
sesama yang terkandung dalam kisah
tersebut, andaikan dapat diwujudkan
di masyarakat Indonesia. Menurut
penulis harus bisa dilaksanakan, kita
sama-sama manusia yang memiliki
kata hati. Hal ini akan lebih mudah
diwujudkan manakala di antara
anggota masyarakat, kelompok
masyarakat dan bangsa Indonesia
dilandasi nilai moral Pancasila yang
sesungguhnya, dimana sila Pertama
adalah Ketuhanan Yang maha Esa,
dan Sila Kemanusiaan yang adil dan
beradab, dapat dipraktekan dalam
interaksi sosial sehari-hari, baik
terjadi di lingkungan keluarga
(Pendidikan Informal, lingkungan
Sekolah (Pendidikan Formal), dan
Pendidikan Kemasyarakatan
(Pendidikan non Formal). Ketiga
lingkungan pendidikan tersebut perlu
didasari interaksi sosial yang saling
menghargai, saling percaya dalam
mewujudkan kehidupan berbangsa
yang sejahtera.
Sementara dalam realitas
masyarakat Indonesia saat ini
hubungan antar manusi yang yang ada
belum berjalan optimal, sangat
memprihatinkan. Misalnya,
kemiskinan semakin meluas,
pemerataan pendidikan belum
optimal, pengangguran semakin besar
jumlahnya, perampokan,
pemerkosaan dan sejenisnya belum
mendapat penanganan oleh segenap
lapisan masyarakat secara bersinergi
(pemerintah, swasta, dan masyarakat
luas). Masalah bangsa ini
memerlukan uluran tangan dan
pikiran seluruh lapisan masyarakat
bangsa Indonesia ini, bukan hanya
golongan kecil saja. Pola pembinaan
yang sistematis dan terarah dalam
membangun interaksi sosial antar
warga bangsa yang baik tersebut
seyogyanya dibangun melalui
lembaga pendidikan formal (SD,SMP, SLA, dan Perguruan Tinggi),
dengan tidak mengesampingkan
berbagai unsur keluarga, dan
masyarakat, perlu bantu membantu
dan bahu-membahu membangun
bangsa ini. Sila Ketuhanan YME,
yang tercantum dalam alinea ke 4
Pembukaan UUD 1945, yang
berbunyi: ”.... Jati diri seseorang akan
terbangun manakala seseorang dapat
membedakan dirinya dengan makhluk
lain, khususnya manusia lainnya yang
ada diluar dirinya dan menyadari
tentang kekuatan dan kelemahan yang
dimilikinya selaku manusia. Dengan
upaya yang serius dan terus menerus
maka suatu saat akan dirasakan dan
diketahui apa dan siapa diri kita
masing-masing. Hal ini akan semakin
penting jika kita kaitkan dengan
mengetahui kedudukan, peran dan
fungsi diri kita di jagad raya kosmis ini,
yang diciptakan Allah untuk
kesejahteraan umat manusia dan
makhluk yang lain. Dengan memahami
jati diri yang sebenarnya kita tidak akan
menjadi tinggi hati, rakus,lupa daratan,
bahkan justru sebaliknya kita akan
menjadi rendah hati, menghargai
makhluk lain khususnya manusia,
karena segala sesuatu yang kita perbuat
akan kita pertanggungjawabkan
dihadapan Allah SWT.
Cara yang lain dapat
dilakukan melalui refleksi diri jika
kita bandingkan dengan makhluk
hidup dan tak hidup. Hal ini seperti
yang dijelaskan oleh Sastraprateja
(1993, dalam Nursid S, 2008, 117),
yang artinya: ”.... Refleksi dimensi
asasi manusia akan lahir dari rasa
kagum terhadap alam semesta dengan
segala isinya, alam manusia dengan
karya, cipta dan karsanya dan Sang
Pencipta yang maha besar, akan dapat
membuka cakrawala kekaguman.
Nama : Nasywa Fadillah Asnah
NPM : 2253053020

PENERAPAN NILAI MORAL PANCASILA DALAM
MEWUJUDKAN GENERASI ANTI KORUPSI DI
SD NEGERI OSILOA KUPANG TENGAH.

Menurut analisis saya, Pendidikan Moral dan Pancasila merupakan salah satu bahan belajar ilmu sosial. Pendidikan Moral Pancasila bertujuan untuk indoktrinasi Pancasila terhadap masyarakat dan bagi birokrasi di Indonesia. Indoktrinasi ini dilakukan dengan membentuk program-program nasional seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Penjelasan dari definisi nilai dan moral di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakat, dimana istilah manusia merujuk ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif atau negatif.
Nama : Nasywa Fadillah Asnah
NPM : 2253053020

NILAI NILAI PENGAMALAN PANCASILA DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI, yang dapat kita teladani sebagai berikut :
Contoh pengamalan sila :

Sila 1 : Ketuhanan Yang Maha Esa Menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain merupakan wujud sikap yang sesuai dengan sila pertama. Dengan menghormati perbedaan keyakinan, kita dapat hidup berdampingan dengan damai.

Sila ke 2 : Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan.
Berani dalam membela keadilan dan kebenaran. Meningkatkan sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan orang lain.

Sila ke 3 : Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

Sila ke 4 : Penerapan Sikap Sila Ke-4 dalam Kehidupan Selalu mengutamakan musyawarah untuk menyelesaikan persoalan. Menghindari walk-out saat sidang musyawarah sedang berlangsung. Menghargai perbedaan prinsip dan keyakinan, serta menghindari konflik yang tidak perlu. Menghargai hasil musyawarah.

Sila ke 5 : Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menghormati hak orang lain. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

Upaya agar nilai-nilai moral bangsa tetap terjaga sehingga tidak terjadi hal buruk dapat dilakukan dengan cara mempelajari dan menghayati nilai-nilai dalam Pancasila. Pancasila merupakan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terjadinya kemerosotan moral pada generasi muda di era modern sekarang ini di pengaruhi oleh beberapa faktor, Satu diantaranya yaitu di karenakan oleh adanya faktor globalisasi yang membawa banyak pengaruh yang datang dari luar, baik itu berupa kebudayaan, kehidupan sosial dan juga teknologi.