Kiriman dibuat oleh Ni Wayan Deliani 2253053030

Nama : Ni Wayan Deliani
Npm : 2253053030
Kelas : 2C

Analisis Jurnal
Sebagai pilar utama demokrasi, pemilu merupakan sarana dan momentum terbaik bagi rakyat, khususnya, untuk menyalurkan aspirasi politiknya, memilih wakil-wakil terbaiknya di lembaga legislatif dan presiden/wakil presidennya secara damai. Keberhasilan penyelenggaraan pemilu (pemilu legislatif, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden) dan pelembagaan sistem demokrasi mensyaratkan kemampuan bangsa untuk mengelola politik dan pemerintahan sesuai amanat para pendiri bangsa. Meskipun hak-hak politik dan kebebasan sipil telah dijamin oleh konstitusi serta partisipasi politik masyarakat semakin luas, di tataran empirik pemilu masih belum mampu mengantarkan rakyat Indonesia benar-benar berdaulat. Proses pendalaman demokrasi/konslidasi demokrasi memerlukan peran penting stakeholders terkait pemilu dan juga elemenelemen kekuatan lainnya seperti civil society, elite/aktor, media massa dan medsos serta lembaga survey. Independensi, kedewasaan dan partisipasi kekuatan-kekuatan sosial (societal forces) tersebut sangat diperlukan. Civil society, misalnya, perlu tetap kritis dalam mengawal pemilu dan hasilnya. Media massa bisa menjadi pemasok berita yang obyektif dan melakukan kontrol sosial yang berpihak pada rakyat. Pengalaman dari pemilu ke pemilu. menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapi relatif sama: perilaku distortif, melanggar hukum dan menghalalkan semua cara (vote buying). Tapi parpol sebagai peserta pemilu belum mampu merespon dan memberi solusi konkrit. Harapan rakyat pasca pemilu, mereka bisa menyaksikan kinerja pemerintah/parlemen yang lebih berpihak pada nasib rakyat. Karena pemilu diharapkan berkorelasi positif terhadap kesejahteraan rakyat. Sejauh ini Indonesia mampu melaksanakan pemilu yang aman dan damai. Pemilu 2019 yang kompleks, dengan tingkat kerumitan yang cukup tinggi dan hasilnya yang dipersoalkan menjadi pelajaran yang sangat berharga. Pemilu yang berkualitas memerlukan parpol dan koalisi parpol yang juga berkualitas. Ini penting karena pemilu tidak hanya merupakan sarana suksesi kepemimpinan yang aspiratif, adil dan damai, tapi juga menjadi taruhan bagi ketahanan sosial rakyat dan eksistensi NKRI. Tantangan yang cukup besar dalam menjalani pemilu serentak 2019 membuat konsolidasi demokrasi yang berkualitas sulit terbangun.
Nama : Ni Wayan Deliani
Npm : 2253053030
Kelas : 2C

Analisis Video
Demokrasi di pandang sebagai alat paling efektif mewujudkan kesetaraan mengurangi konflik dan meningkatkan partisipasi publik dari segi penegakan HAM , misal nya negara yang menganut demokrasi memiliki skor penegakan HAM lebih tinggi warga. Pasca perang dingin banyak negara ingin kebebasan dan kemakmuran seperti halnya negara demokrasi sejak akhir 1980 - an negara yang menganut demokrasi meningkat pesat , sebaliknya semakin banyak rezim autokrasi yang berjatuhan namun bukan berarti demokrasi adalah sistem pemerintahan yang sempurna. Para kritikus demokrasi kerap mempertanyakan soal Apakah memberi hak pilih kepada warga atas persoalan yang mereka tidak kuasai adalah hal yang tepat? pertanyaan ini terasa relevan ketika demokrasi mengahasilkan pemimpin - pemimpin populis yang anti sains juga para politikus yang menolak di kritik dan kebebasan berpendapat.Adaa beberapa alasan yang mengemukakan mengapa demokrasi di Landa krisis mulai dari rendahnya kepercayaan terhadap pemerintah dan politikus , penurunan jumlah keanggotaan partai politik , hingga regulasi pemerintah yang di anggap tidak transparan.