Posts made by Marissa Dewi Meilani 2213053282

Nama : Marissa Dewi Meilani
NPM : 2213053282
Kelas : 1E
Analisis Video-1

Dalam pidatonya Ir. Soekarno mengatakan bahwa apa yang terpendam dalam bumi Indonesia dapat kita gali sebagai upaya untuk pemikiran dasar dari Pancasila. Pancasila benar-benar satu dasar yang dinamis, satu dasar yang menghimpun segenap tenaga rakyat Indonesia, satu dasar yang mempersatukan rakyat Indonesia. Bukan saja hanya untuk mencetuskan revolusi, tetapi juga mengakhiri revolusi ini dengan baik. Revolusi Indonesia ini bukan revolusi Soekarno tapi revolusi dari seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Nama : Marissa Dewi Meilani
NPM : 2213053282
Kelas : 1E
Analisis Video

Sejarah Lahirnya Pancasila
Pancasila sudah dikenal sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit. Kata Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, yakni panca yang berarti lima dan sila yang berarti dasar atau asas. Jadi Pancasila itu sendiri berarti 5 asas. Istilah Pancasila terdapat pada Buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca dan Buku Sutasoma karangan Mpu Tantular yang artinya adalah berbatu sandi yang lima atau pelaksanaan kesusilaan yang lima.
Pada 20 Mei 1908, Dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo yang merupakan organisasi pelopor pergerakan nasional. Maka dari itu 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Perjuangan pergerakan non-fisik mulai menampakkan hasilnya dengan diselenggarakannya Kongres Pemuda Nasional yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada tanggal 9 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dan mulai kedudukan Jepang di Indonesia. 3 tahun berlalu, Jepang terdesak oleh sekutu sehingga Jepang berusaha menarik simpati Bangsa Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Tanggal 29 April 1945, Jepang membentuk BPUPKI yang diketuai oleh Dr.K.R.T. Radjiman Wediodiningrat yang beranggotakan 79 orang, termasuk 7 orang Jepang Anggota Istimewa. BPUPKI melakukan sidang pertama selama 3 hari yaitu dari tanggal 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945. Pada sidang itu Mr. Muh. Yamin, Prof. R. Soepomo, dan Ir. Soekarno secara berurutan mengemukakan pandangannnya tentang 5 asas dasar negara Indonesia. Tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengusulkan dasar yang diberi nama “Pancasila”. Usulan tersebut diterima dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Berdasarkan KEPRES No. 24 Tahun 2016 tentang hari lahir Pancasila, menyatakan bahwa 1 Juni 1945 ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Ir. Soekarno juga mengusulkan konsep Trisila dan Ekasila yang merupakan inti sari dari Pancasila. Tindak lanjut dari sidang BPUPKI adalah dibentuk Tim 9 dan yang menghasilkan Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Sidang kedua BPUPKI tanggal 11 Juli 1945 menghasilkan:
1. Rancangan teks proklamasi,
2. Rancangan pembukaan UUD,
3. Rancangan batang tubuh UUD.

Tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan dan dibentuk PPKI yang beranggotakan 27 orang yang diketuai oleh Ir. Soekarno. PPKI bertugas menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia. Pada sidang pertama 18 Agustus 1945 ditetapkan:
1. Mengesahkan UUD 1945 yang didalamnya terdapat Dasar Negara Pancasila
2. Memilih Presiden dan Wakil Presiden pertama

Sebagai paham filosofis Pancasila memiliki pengertian, yaitu:
1. Pancasila sebagai pandangan hidup
2. Pancasila sebagai dasar negara

Berdasarkan pengertian dan perannya Pancasila berfungsi sebagai:
1. Dasar yang statis atau fundamental sebagai mana fungsi pokok Pancasila yang tercantum dalam UUD 1945
2. Tuntunan yang dinamis sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia
3. Ikatan yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia menjamin hak hidup secara layak bagi semua warga negara dan semua golongan tanpa ada perbedaan

Selain itu, Pancasila memiliki 3 fungsi, yaitu:
1. Fungsi Yuridis
2. Fungsi Sosiologis
3. Fungsi Etis dan Fisologis

4 pokok pikiran suasana kebatinan dari UUD yaitu:
1. Negara melindungi segenap bangsa Indonesia berdasarkan persatuan (sila ke-3)
2. Negara Indonesia mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke-5)
3. Negara berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan (sila ke-4)
4. Negara berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab (sila ke-1 dan 2)
Nama : Marissa Dewi Meilani
NPM : 2213053282
Kelas : 1E
Analisis Soal-1

1. Cobalah anda menelusuri proses terjadinya peristiwa G30S PKI tersebut dan dimana letak penyimpangan peristiwa tersebut dengan nilai-nilai Pancasila dan hikmah apa yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut !
Jawab:
Letak penyimpangan yang terjadi pada peristiwa G30S PKI dengan nilai-nilai Pancasila yaitu:
• PKI berkeinginan mengubah ideologi Pancasila menjadi paham komunis.
• PKI dengan sangat kejam membunuh para ulama, santri dan orang-orang yang dianggap menentangnya.
• PKI berusaha memecah belah persatuan Indonesia dengan menghembuskan propaganda kebohongan.
• PKI menculik dan membunuh perwira angkatan darat di daerah lubang buaya.
Hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa G30S PKI tersebut adalah bagaimana kita dapat menjadi seorang politis yang baik, berpolitik tanpa membuat kecurangan didalamnya dalam artian berpolitik secara profesional dan dinamis, tanpa menjatuhkan lawan terlebih dahulu sebelum bertempur. Selain itu, ada juga hikmah yang bisa kita ambil yaitu bagaimana kita bisa menjalankan sebuah amanat dengan baik tanpa adanya campur tangan kepentingan pribadi ataupun suatu kelompok tertentu.

2. Bagaimakah cara-cara pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat dalam kehidupan masyarakat di sekitar Anda atau dalam organisasi yang ada di sekitar Anda? Apa bentuk kearifan yang timbul ketika musyawarah itu berlangsung dan Apa bentuk kendala yang timbul ketika musyawarah itu berlangsung?
Jawab:
Cara pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat dalam kehidupan masyarakat di sekitar saya atau dalam organisasi yang ada di sekitar saya yaitu dengan keputusan bersama berdasarkan suara terbanyak. Bentuk kearifan yang timbul ketika musyawarah ini berlangsung adalah menghargai dan menghormati keputusan atau pendapat orang lain. Bentuk kendala yang timbul ketika musyawarah ini berlangsung yaitu adanya perbedaan yang membuat kericuhan.

3. Hasil Survei menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang Pancasila merosot secara tajam, yaitu 48,4% responden berusia 17 sampai 29 tahun tidak mampu menyebutkan silai-sila Pancasila secara benar dan lengkap. 42,7% salah menyebut silai-sila Pancasila, lebih parah lagi, 60% responden berusia 46 tahun ke atas salah menyebutkan sila-sila Pancasila. Jelaskan faktor penyebab rendahnya pemahaman dan pengamalan tentang nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat Indonesia dewasa ini!
Jawab:
Faktor penyebab rendahnya pemahaman dan pengamalan tentang nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat Indonesia dewasa ini ialah karena tidak dituturkan dari generasi ke generasi dengan baik, kurangnya tokoh keteladanan, dan praktik pembangunan yang menyiksakan kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan fisik, sosial, dan budaya.
Nama: Marissa Dewi Meilani
NPM: 2213053282
Kelas: 1E
Analisis Jurnal

A. Identitas Jurnal
1. Judul Jurnal: Pendidikan Pancasila, Eksistensinya Bagi Mahasiswa
2. Nama Penulis: Agust Hadiwijono
3. Nama Jurnal: Hakikat Pancasila Bagi Mahasiswa
4. Volume, No, dan Halaman: Vol. 7, No. 1, Hal. 82 – 97.
5. Tahun: 2016

B. Isi Jurnal
• Makna Pancasila Bagi Mahasiswa
Pancasila merupakan ajaran, gagasan dan keyakinan sebagai acuhan tingkah laku masya rakat Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pertahanan keamanan (Hankam), Sosial, Kebudayaan, keagamaan, maupun Pendidikan, sehingga dalam setiap tindakannya, selalu mengacu kepada Pancasila sebagai dasarnya. Berkaitan dengan pentingnya pendidikan Pancasila di perguruan tinggi, yaitu seberapa jauh pentingnya pendidikan Pancasila bagi mahasiswa dilaksanakan di perguruan tinggi. Memahami hakekat Pancasila berarti memahami makna Pancasila. Artinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bahwa Pancasila mempunyai fungsi dan peran tersendiri. Sudah jelas Pancasila dasar negara, namun di samping itu Pancasila mempunyai fungsi sebagai pandangan hidup bangsa. Artinya bahwa pandangan hidup sebuah bangsa lahir dari nilai-nilai yang dimiliki bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad untuk mewujudkan. Adapun tujuan pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi adalah agar mahasiswa:
1. Dapat memahami dan mampu melaksanakan jika Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam kehidupan sebagai warga negara Indonesia.
2. Menguasai pengetahuan tentang beragam masalah dasar berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang hendak diatasi dengan penerapan pemikiran yang berlan dasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
3. Memupuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma Pancasila, sehingga mampu menanggapi perubahan yang terjadi dalam rangka keterpaduan Iptek dan pembangunan.
4. Membantu mahasiswa dalam proses belajar, proses berpikir, memecahkan masalah dan mengambil keputusan dengan menerapkan strategi heuristik terhadap nilai-nilai Pancasila

• Makna Sila-Sila Pancasila
1. Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain diciptakan oleh penciptanya. Pencipta itu adalah kuasa prima yang mempunyai hubungan dengan yang diciptakannya. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan wajib melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.
2. Makna Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan hukum. Sejalan dengan sifat universal bahwa kemanusiaan itu dimiliki oleh semua bangsa, maka hal itupun juga kita terapkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sesuai dengan hal itu, hak kebebasan dan kemerdekaan dijunjung tinggi.
3. Makna Sila Persatuan Indonesia
Makna persatuan hakekatnya adalah satu, yang artinya bulat, tidak terpecah. Jika persatuan Indonesia dikaitkan dengan pengertian modern sekarang ini, maka disebut nasionalisme. Oleh karena rasa satu yang sedemikian kuatnya, maka timbulah rasa cinta bangsa dan tanah air.
4. Makna Sila Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Pada hakikatnya sila ini adalah demokrasi. Perbedaan secara umum demokrasi di barat dan di Indonesia yaitu terletak pada permusyawaratan.
5. Makna Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan berarti adanya persamaan dan saling menghargai karya orang lain. Jadi seseorang bertindak adil apabila dia memberikan sesuatu kepada orang lain sesuai dengan haknya.

• Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Kampus
1) Impelementasi Sila 1 contohnya: Jadwal kuliah sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jadwal untuk beribadah.
2) Impelementasi Sila 2 contohnya: Tidak ada pembedaan perlakuan/diskriminasi dalam kampus.
3) Impelementasi Sila 3 contohnya: Melalui organisasi kemahasiswaan membentuk suatu jaringan perkumpulan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.
4) Impelementasi Sila 4 contohnya: Musyawarah penunjukkan ketua BEM.
5) Impelementasi Sila 5 contohnya: Mahasiswa yang telah memenuhi syarat berhak untuk mengikuti ujian akhir semester.

• Pengamalan Pancasila di Lingkungan Kampus
1) Dilihat dari segi jalurnya
a) Jalur pendidikan
b) Jalur organisasi
2) Pengamalan Pancasila Secara Subjektif dan Objektif
a) Pengamalan pancasila secara subjektif
b) Pengamalan pancasila secara objektif
Nama: Marissa Dewi Meilani
NPM: 2213053282
Kelas: 1E
Analisis Jurnal

A. Identitas Jurnal
1. Judul Jurnal: Agama Musuh Pancasila? Studi Sejarah dan Peran Agama dalam Lahirnya Pancasila
2. Nama Penulis: Aqil Teguh Fathani dan Zuly Qodir
3. Nama Jurnal: Peran Agama dalam Pancasila
4. Volume, No, dan Halaman: Vol. 26, No. 1, Hal. 117 – 128.
5. Tahun: 2020

B. Isi Jurnal
• Sejarah Lahirnya Pancasila
Perbedaan mengenai landasan negara yang akan diambil untuk dijadikan sebagai dasar negara telah terjadi sejak tahun 1938 hingga pada persiapan kemerdekaan republik Indonesia, perbedaan pendapat ini terjadi antara kelompok nasionalis Soekarno dengan kelompok Islam yang dipimpin oleh Muhammad Natsir. Kelompok Nasionalis menginginkan Pancasila sebagai dasar negara sedangkan kelompok Islam menginginkan Islam sebagai dasar negara. Perdebatan panjang antara Soekarno dan Natsir ini semakin meluas hingga sampai pada saat proses pembentukan negara Indonesia pada tahun 1945. Dalam upaya untuk menyusun dasar negara dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) dan diresmikan pada 28 Mei 1945. Tidak ketemunya titik terang landasan negara pada saat sidang BPUPKI, dibentuklah panitia kecil yang beranggota 9 orang yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Anggota ini terdiri dari Muhammad Hatta, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin dan AA Maramis dari kelompok nasionalis dan H. Agus Salim, Wahid Hasyim, Abikusno dan Abdul Kahar Muzakkir dari kelompok Islam. Pada 22 Juni 1945 terjadi kesepakatan antara kelompok nasionalis dan kelompok Islam untuk menambah tujuh kata pada sila pertama yaitu “Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam Bagi Pemeluk pemeluknya”. Setelah pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945 sila pertama diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” ” dengan alasan untuk persatuan bangsa, meminimalisir ketegangan politik yang tinggi dan optimisme umat Islam dalam memenangkan pemilu 6 bulan setelah proklamasi. Menurut pandangan Muhammad Yamin gagasan yang disampaikan oleh kelompok Islam untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara tidak memiliki argumen yang kuat mengenai konsep negara Islam yang diinginkan, akan tetapi lebih kepada jaminan terhadap pelaksaan syari’at-syari’at Islam. Kesimpulan akhir mengenai ideologi negara diputuskan dengan memilih Pancasila sebagai ideologi dasar negara, pada akhirnya golongan Islam menerima dengan sepenuh hati Pancasila sebagai ideologi negara.

• Hubungan Agama dan Negara
Pada dasarnya Undang-Undang Dasar 1945 tidak memisahkan hubungan antara agama dan negara, pernyataan ini bisa dilihat dalam sila pertama Pancasila dan Bab XI Undang-Undang Dasar 1945 tentang Agama. Hubungan agama dan negara sering kali menjadi pro dan kontra, dikarenakan agama sering kali digunakan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan pemerintahan atau pemerintahan sering dijadikan kekuatan untuk menekan agama. Hubungan antara negara dan agama sejatinya menghadirkan sebuah tatanan yang berlandaskan ketuhanan yang maha esa yang menegaskan bahwa negara atas nama konstitusi mengurusi agama dan kepercayaan sehingga munculnya pluralisme hukum dalam menjalani kehidupan politik, hukum dan sosial yang harmonis.

• Islam dan Negara
Di Indonesia hubungan agama dan negara pada dasarnya dimaksudkan untuk mengisi ruang agama untuk menciptakan kehidupan yang bermasyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Hubungan Islam dan negara harus diartikan untuk menghadapi perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat dalam berbagai aspek lainnya seperti ekonomi, politik, globalisasi, sains, teknologi, isu-isu demokrasi, HAM, gender, pluralisme baik secara nasional ataupun internasional. Indonesia yang merupakan negara yang memiliki landasan Pancasila tidak dapat mengklaim diri sebagai Negara Islam karena adanya keberagaman serta atas kesadaran dan kesepakatan bersama di antara Founding Fathers yang telah menyetujui dengan Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi dalam menjalankan tatanan kenegaraan di Republik Indonesia.