Kiriman dibuat oleh Safira Sita Salsabilla 2213053027

Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027
Analisis Jurnal 1

A. Identitas Jurnal
Judul : Pendidikan Moral Di Sekolah
Penulis : Rukiyati
Tahun : 2017
Nomor: 1
Nama jurnal : Jurnal Humanika
Kata Kunci : Tujuan pendidikan, nilai moral, sekolah dan komprehensif.

B. Hasil Analisis
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Sekolah yang baik merupakan keniscayaan agar pengaruhnya terhadap anak menjadi positif.

1. Pendidik Moral di Sekolah
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Pendidik moral adalah guru dan seluruh warga sekolah. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Oleh karena guru adalah ujung qtombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.

2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).

3. Metode Pendidikan Moral
a. Inkulkasi nilai
Kirschenbaum mengetengahkan 34 cara inkulkasi nilai, di antaranya adalah identifikasi nilai-nilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita.
b.Metode Keteladanan
Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern.
c.Metode klarifikasi nilai
Sidney B. Simon, dkk (1974: 6) bahwa pendekatan klarifikasi nilai mencoba untuk membantu anakanak muda menjawab beberapa pertanyaan dan membangun sistem nilai sendiri.
d. Metode fasilitasi nilai
Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral, seperti mushola, buku, perpustakaan, ruang diskusi, dll.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaane. Metode keterampilan nilai moral Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan, merancang, dan menerapkan.

4. Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung.

Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Video 2
Judul Video ''Pendidikan Moral di Sekolah Dasar"
A. Pengertian Pendidikan Moral
Pendidikan moral adalah usaha yang dilakukan secara terencana untuk mengubah sikap, perilaku, tindakan, dan kelakuan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral dan kebudayaan masyarakat setempat.

B. Tahap-Tahap Perkembangan Moral
1. Usia 6-12 bulan
Orang Tua akan menggunakan syuting untuk memandu mengendalikan dan melindungi bayi.
2. Usia 12-18 bulan
Membuat komitmen dan patuh sesuai dengan keadaan merupakan awal tanda hati nurani perhatian terhadap objek yang cacat atau rusak mencerminkan kecemasan diri dalam melakukan hal yang salah.
3. Usia 18-30 bulan
Anak mungkin menunjukkan perilaku menolong, rasa bersalah, malu, dan empati mendorong perkembangan moral. Akurasi terkait mainan dan ruang muncul.
4. Usia 30 sampai 36 bulan
Akurasi fisik berkurang menjadi lebih banyak verbal.
5. Usia 3-4 tahun
Perilaku menolong yang lain menjadi lebih lazim motifnya untuk mendapat pujian dan menarik penolakan, rasa bersalah, dan kepedulian mengenai berbuat salah memuncak.
6. Usia 4-6 tahun
Penalaran moral makin fleksibel
7. Usia 7-8 tahun
Penalaran moral makin fleksibel, empati, dan perilaku pro sosial meningkat agresi terutama jenis permusuhan berkurang
8. Usia 9-11 tahun
Penalaran moral makin dipandu oleh rasa keadilan anak ingin menjadi baik untuk memelihara tatanan sosial. Agresif beralih ke hubungan.
9. Usia 12-15 tahun
Namun moral mencerminkan peningkatan kesadaran akan keadilan dan pembuat aturan yang kooperatif
10. Usia 16-20 tahun
Relativisme mainkan peran penting dalam penalaran moral .
11. Dewasa muda pada usia 20-40 tahun
Penilaian moral bisa menjadi lebih rumit.
12. Dewasa tengah pada usia 40-65 tahun
Penilaian moral bisa menjadi lebih rumit.
13. Dewasa tua pada lebih 65 tahun
penilaian moral bisa menjadi lebih rumit.

C. Implikasi perkembangan sosial dan pribadi anak dalam KBM di sekolah dasar
Implikasi dalam KBM perkembangan pribadi dan sosial sangat diperlukan dalam belajar anak kadang memerlukan teman untuk membantu proses belajar, tapi anak bisa melakukannya sendiri atau mandiri.

D. Implikasi identitas gender dalam perkembangan moral anak sekolah dasar
Guru sebaiknya mengajarkan murid mengenai identitas gender supaya moral atau perilaku mereka sesuai dengan Winner nya. Sebenarnya bukan hanya guru saja tetapi orang tua juga memiliki peranan yang sangat penting.

E. Permasalahan serta Solusi Perkembangan Anak SD
1. Hilangnya kejujuran
Ketika anak sudah terbiasa bersikap bohong itu akan membuang anak menjadi pribadi yang pembohong dan akan ketakutan ketika bersikap jujur. Masalah ini sering terjadi di sekolah ataupun di tempat lainnya, misalnya ketika sedang lafalkan ujian sekarang ada selesai siswa yang mencontek atau bakal bekerjasama dengan temannya. Solusi yang tepat untuk mengatasinya yaitu dengan mengajarkan anak untuk lebih percaya diri akan jawabannya, mengajarkan anak untuk bersikap jujur ketika anak lebih caranya jujur Jangan memarahinya karena jika anak dimarahi maka ia akan takut ketika berbicara jujur dan memilih untuk penuh bicara bohong
2. Hilangnya rasa tanggung jawab
Guru diharuskan untuk membimbing anak didiknya dan mengajarkan anaknya untuk memiliki rasa tanggung jawab misalnya ketika anak diberikan tugas atau pekerjaan rumah ada saja siswa yang tidak mengerjakan tugasnya padahal sama saja bahwa siswa itu tidak memiliki rasa tanggungjawab. Solusi dari hilangnya rasa tanggung jawab yaitu mengajarkan anak untuk bersikap tanggung jawab. Hal terkecil yang bisa guru lakukan yaitu ketika ada sesuai adegan mengerjakan tugasmu apa tekan diminta untuk maju ke depan dan mengerjakan soal yang akan diberikan oleh gurunya.
3. Rendahnya disiplin
Misalnya masih saja ada siswa yang tidak tepat waktu datang ke sekolah. Jika ada siswa yang sedang terlambat ke sekolah sebaiknya guru dan kepala sekolah bersikap tegas. Jika guru dan kepala sekolah tidak bersifat tegas akan membuat tersebut menjadi terbiasa untuk datang tidak tepat waktu.
4. Kurang bisa bekerjasama
Misalnya tapi kerja kelompok solusinya yaitu membiasakan anak untuk terlibat dalam kerja sama. Jangan biarkan anak tersebut tidak aktif ketika kerja sama.
5. Mengambil hak orang lain
Misalnya mencuri solusinya yaitu membiasakan anak untuk menerima apa yang dia miliki dan tidak boleh mengambil hak milik orang lain.
Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Video 1
Judul Video: Pendidikan Moral Tanggung Jawab Diri dalam Keluarga

Tanggung jawab dalam keluarga contohnya yaitu mendengar nasihat ayah, membantu ibu, menemani kakak, dan menjaga keselamatan adik. Tanggung jawab dalam keluarga penting agar hubungan keluarga menjadi erat, lebih harmonis, menyenangkan bersama keluarga, dan keselamatan keluarga terjamin.

Kemudian tanggung jawab dapat meringankan tugas keluarga seperti menolong kakek dan nenek. Selain itu, bentuk tanggung jawab yang lain adalah dengan belajar sungguh-sungguh sehingga kita dapat membanggakan keluarga.

Kita perlu melaksanakan tanggung jawab terhadap keluarga agar keluarga bangga, keluarga lebih bahagia, dan hubungan lebih erat. Apabila melaksanakan tanggung jawab terhadap keluarga kita akan merasakan bahagia, senang, bangga,dan merasakan puas hati karena kita sudah melakukan tanggung jawab dengan baik.
Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027

Analisis Jurnal 2
1. Identitas Jurnal
Identitas Jurnal
Judul : Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
Penulis : Lia Yuliana, M.Pd
Halaman : 1-10 halaman

2. Hasil Analisis
A. Pengertian Moral
Menurut Sjarkawi, (2006: 28), mengemukakan bahwa moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Pendidikan moral perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini, sebab usia dini merupakan saat yang baik untuk mengembangkan kecerdasan moral anak. Dengan pendidikan moral dimaksudkan agar manusia belajar menjadi manusia yang bermoral. Pendidikan moral adalah suatu program pendidikan (sekolah dan luar sekolah) yang mengorganisasikan dan "menyederhanakan" sumber-sumber moral dan disajikan dengan memperhatikan pertimbangan psikologis untuk tujuan pendidikan. (Nurul Zuriah, 2007:22).

B. Nilai-nilai Moral
Menurut Henry Hazlitt (2003: 32) mengemukakan bahwa nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000: 52-55) nilai moral memiliki ciri-diri sebagai berikut:
a. Berkaitan dengan tanggung jawab kita
b. Berkaitan dengan hati nurani
c. Mewajibkan
d. Bersifat formal

C.Pengertian Anak Usia Dini
Menurut Isjoni, 2009: 19-24, Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Karena itulah, maka usia dini dikatakan sebagai usia emas, yaitu usia yang sangat berharga disbanding usia-usia selanjutnya. Anak usia dini dikenal sebagai manusia yang unik, kadang-kadang melebihi dari orang-orang dewasa yang sulit diterka, diduga, bila dilihat dari bicara, tingkah laku maupun pikirannya.

D. Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
Hamid Darmadi, (2007: 56-57) Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini dapat dilakukan dengan berbagai macam metode yaitu :
1. Metode Bermain
Dengan bermain anak-anak untuk mampu bersosialisasi dengan orang lain. Bermain memberikan kesenangan kepada anak-anak, mereka dapat menuangkan imajinasi yang ada di pikiran secara bebas melalui bermain.
2. Metode Bercerita
Melalui cerita dapat menyampaikan pesan-pesan atau informasi moral yang dapat menambah pengetahuan anak tentang nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat. Setelah bercerita dapat menyampaikan pesan-pesan moral.
3. Metode Pemberia Tugas
Nilai moral yang dapat disisipkan melalui metode pemberian tugas individu dan kelompok.
4. Metode Bercakap-cakap
Bercakap-cakap mempunyai makna penting bagi perkembangan anak, sebab dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dengan orang lain. Dengan bercakap- cakap banyak sekali pengetahuan yang dapat diberikan kepada anak, karena pada dasamya anak suka sekali bertanya.

E. Cara Pelaksanaan Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
Cara Pelaksanaan Penariaman Nilai-nilai moral pada anak usia dini dapat diselenggarakan melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang Sekolah Dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal. PAUD pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman K- anak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA).
Pada jalur pendidikan formal cara penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dengan jadwal tatap muka yang ditentukan yaitu meliputi:
1. Persiapan Kegiatan Pembelajaran
Persiapan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan:
1). Media pembelajaran
2). Menggunakan buku pegangan sebagai acuan

2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
a Penataan lingkungan bermain
b. Kegiatan Inti Pembelajaran
c. Kegiatan Penutup
Nama: Safira Sita Salsabilla
NPM : 2213053027
A. Identitas jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD
FKIP Unsyiah
Vol/No : 1/1
Hal : 68-77
Tahun: Agustus 2016
Judul Jurnal : PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI
LAMPEUNEURUT
Penulis : Ruslan, Rosma Elly, Nurul Aini
(Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Unsyiah Banda Aceh)
Kata Kunci : Penanaman, nilai-nilai moral

B. Hasil Analisis 
Guru bukan hanya mengajarkan siswa belajar agama di sekolah tetapi untuk memperdalam ilmu agama juga belajar di tempat-tempat seperti, pengajian, TPA, dan pasantren. Guru mengajarkan siswa untuk bertingkah laku didalam/ diluar kelas dengan baik. Sehingga melalu tingkah laku tersebut, guru dapat membimbing, mendidik siswa agar lebih baik. Guru menanaman nilai-nilai moral dilakukan dengan cara menanamkan disetiap mata pelajaran yang diajarkan, baik berupa nasehat, teguran ataupun tingkah laku guru yang menjadi contoh panutan mereka.

Penanaman nilai-nilai moral bertujuan menanamkan nilai-nilai moral yang mulai luntur di lingkungan anak-anak akibat pengaruh buruk yang mereka dapatkan sehingga diharapkan anak-anak di masa yang akan datang mempunyai moral yang baik. Guru menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa melalui semua mata pelajaran, dengan cara menyisispkan nilai- nilai moral tertenta, ataupun guru itu sendin yang menjadi contoh panutan karena jika guru memberikan contoh yang konkret kepada siswa maka akan lebih cepat untuk diterima.

Nilai-nilai yang diajarkan oleh guru berupa nilai agama (religius), nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai keadilan, nilai tanggung jawab, dan nilai gender. Selain itu guru mengajarkan tentang menghargai pendapat teman, nilai sosialisasi, daya juang, hidup sehat, dan sopan santun.

Penanaman nilai-nilai moral bukan hanya dapat dilakukan saat proses belajar mengajar tetapi saat berada di luar kelas juga dapat ditanamkan seperti dilingkungan sekolah maupun di rumah karena dengan adanya berkesinambungan akan menjadikan siswa mempunyai moral yang baik. Dan siswa yang sudah mempunyai nilai moral harus terus dibimbing/diajarkan agar nilai moral tersebut tidak hilang karena apabila sudah ada dasamya maka segala sesuatu akan lebih mudah. WJ.S. Poerdarminta (dalam Hamid, 2006:50) mengatakan "moral merupakan ajaran tentang baik buruknya perbuatan dan kelakuan".