Posts made by Tantri Ayu Ratna Sari 2213053269

Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269

Nama jurnal: jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora
Judul Jurnal: MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA
DI KALANGAN REMAJA
Nama penulis: H. Wanto Rivaie
Tahun terbit: April 2010
Vol: 1
No: 1
Kata Kunci: Nilai Moral, Sosial Budaya,Indonesia.


Secara ideal, sifat tersebut seyogyanya melekat pada diri manusia sebagai ciptaan-Nya. Atas dasar asumsi itu, muncul persoalan, bahwa dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk bertanggung jawab dan berakhlaq mulia. Ke dua surat di atas yaitu ArRum dan Al Isra, Allah telah memberikan pedoman pada umat manusia untuk membina anak agar bertanggungjawab dan berakhlaq mulia. Generasi yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia adalah generasi kelak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan, tindakan dan perilaku sekecil apapun, harus dapat dipertanggungjawabkan baik terhadap Tuhan, dirinya sendiri dan kepada masyarakat luas. Untuk itu tanggung jawab perlu ditanamkan sejak dini sampai dengan akhir kehidupannya.
Dalam hal pendidik dalam arti luas kaitannya dengan pembentukan jatidiri yang terlihat pada penampilan kepribadian seseorang, Nursid S. Dari pemikiran-pemikiran mengindikasikan bahwa pendidikan dalam arti luas sangat berperan dalam upaya memanusiakan manusia yang memiliki jatidiri yang khas dari seorang individu. Nursid menyatakan tentang orang tua sebagai pendidik berhadapan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak-anak meletakkan dasar-dasar pendidikan pada diri si bayi. Keluarga sebagai primary group tempat pembentukan kepribadian yang sangat penting. Di sekolah yang bertindak sebagai pendidik adalah guru-guru, bertugas mengembangkan potensi anak secara berkelanjutan dari tahun ke tahun dengan berbagai materi pelajaran sudah dirancang dalam kurikulum yang berlaku.

1. Pentingnya Nilai-Nilai Moral: Artikel ini menekankan pentingnya nilai-nilai moral dalam membentuk hubungan antarmanusia yang baik. Nilai-nilai seperti menghargai, percaya, dan tolong-menolong dianggap sebagai pondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera.
2. Peran Keluarga: Artikel ini menyoroti peran penting keluarga dalam membina individu sejak usia dini. Keluarga harus menanamkan nilai-nilai keimanan, etika pergaulan, dan nilai-nilai moral kepada anak-anak mereka. Ini merupakan dasar untuk pembentukan karakter yang baik.
3. Pendidikan Formal dan Non-Formal: Artikel ini menjelaskan peran pendidikan formal (sekolah) dan non-formal (misalnya, pendidikan dalam keluarga) dalam pembentukan individu. Sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi akademik dan non-akademik anak-anak. Pendidikan formal perlu diselaraskan dengan nilai-nilai moral.
4. Kisah Contoh: Artikel ini membagikan kisah yang menunjukkan hubungan antara sesama manusia yang didasari oleh nilai-nilai moral seperti tolong-menolong, rasa terima kasih, dan kesetiaan. Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan yang baik antarindividu dalam masyarakat.
5. Pendidikan Agama: Artikel ini membahas peran penting pendidikan agama dalam pembentukan perilaku peserta didik. Pendidikan agama dianggap sebagai landasan untuk memahami nilai-nilai moral dan mengatur hubungan dengan sesama manusia.
6. Multikulturalisme: Artikel ini menguraikan pentingnya multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang pluralistis. Multikulturalisme dianggap sebagai kerangka yang memungkinkan keragaman budaya dan kepercayaan untuk hidup berdampingan dalam kesederajatan.
7. Faktor-Faktor Personal vs. Faktor Sosial: Artikel ini menggambarkan dua pendekatan dalam pembentukan perilaku manusia, yaitu faktor-faktor personal (internal) dan faktor-faktor sosial (eksternal). Ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan perilaku manusia dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari dalam diri individu maupun lingkungannya.

Dalam keseluruhan teks, pesan yang disampaikan adalah pentingnya membangun hubungan interpersonal yang positif dan membentuk kepribadian yang baik melalui pendidikan, nilai-nilai moral, dan pemahaman multikulturalisme dalam masyarakat yang beragam. Artikel ini menyoroti bahwa pembentukan individu yang berkarakter baik adalah tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Artikel ini juga menguraikan berbagai pandangan dan teori tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia, mulai dari faktor personal dan biologis hingga teori-teori psikologi seperti psikoanalisis dan behaviorisme. Selain itu, artikel juga menyoroti pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk identitas nasional dan mencegah konflik sosial. Artikel ini memberikan wawasan yang luas tentang pemahaman manusia dan perilaku manusia dari berbagai sudut pandang. selain itu dalam artikel menguraikan:
1. Pentingnya Faktor Personal: McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dan membentuk perilaku individu. Ini menggarisbawahi peran faktor internal seperti insting, motif, kepribadian, dan sistem kognitif dalam menjelaskan perilaku manusia.
2. Aspek Biologis: Artikel membahas pengaruh faktor biologis dalam perilaku manusia. Menurut Wilson, perilaku sosial dipengaruhi oleh aturan-aturan genetis dalam jiwa manusia. Faktor biologis termasuk kebutuhan makan, seksual, dan perlindungan diri.
3. Aspek Sosiopsikologis: Artikel mengklasifikasikan aspek sosiopsikologis ke dalam tiga komponen: afektif (emosional), kognitif (intelektual), dan koaktif (volisional). Ini membantu memahami berbagai faktor psikologis yang memengaruhi perilaku manusia.
4. Motif Sosiogenesis: Artikel menjelaskan berbagai motif sosiogenesis, yaitu faktor-faktor yang mendorong perilaku manusia. Ini termasuk keinginan untuk memperoleh pengalaman baru, respon, pengakuan, rasa aman, berprestasi, kasih sayang, dan kekuasaan.
5. Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis: Artikel merinci pandangan Sigmund Freud tentang perilaku manusia sebagai hasil interaksi antara Id (prinsip kesenangan), Ego (mediator antara hasrat hewani dan tuntutan rasional), dan Superego (hati nurani internal).
6. Teori Behaviorisme: Artikel mencakup teori Behaviorisme yang menekankan perilaku sebagai hasil belajar dari pengalaman dan pemeliharaan. Ini mencakup konsep manusia sebagai "mesin" yang merespon lingkungan.
7. Teori Belajar Behaviorisme: Artikel merinci teori belajar Behaviorisme dari tokoh seperti Thorndike, Pavlov, Skinner, dan Bandura. Mereka menekankan konsep penghargaan dan penguatan dalam membentuk perilaku.
8. Internalisasi Nilai Pancasila: Artikel juga membahas pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk jatidiri dan berwawasan kebangsaan individu. Ini dilihat sebagai upaya untuk mencegah konflik sosial dan disintegrasi bangsa.

Dalam artikel ini, penulis menekankan pentingnya faktor personal dan sosial dalam membentuk perilaku individu. Faktor-faktor seperti nilai moral, pendidikan, dan multikulturalisme dijelaskan sebagai elemen kunci dalam pembentukan karakter yang baik dalam masyarakat yang beragam. Selain itu, artikel ini juga mengulas teori-teori psikologi seperti psikoanalisis dan behaviorisme untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang perilaku manusia. Keseluruhan, artikel ini menggarisbawahi kompleksitas dan beragamnya faktor yang memengaruhi perilaku manusia.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269

Abstrak
Seiring dengan perkembangan zaman, generasi muda rentan terhadap nilai moral pancasiala, ditambah dengan kemajuan IPTEK sehingga menimbulkan adanya korupsi. Dengan menanamkan nilai moral sejak dini dapat mencengah ajakan/dorongan negatif untuk melalukan korupsi sejak dini.

Pendahuluan
Pendidikan Moral Pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, dengan kata lain moral pancasila adalah sikap bermasyarakat yang baik dimana harus dilakukan oleh masyarakat. Pengajarannya menitik beratkan pada penghayatan dan pengalaman butir-butir Pancasila sebagaimana termuat dalam Tap MPR RI No. II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengalaman Pancasila atau Eka Prasetya Pancarya. Butir pancasila merupaan petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengalaman
Pancasila.
Butir pancasila merupaan petunjuk-petunjuk nyata dan jelas wujud pengalaman Pancasila yakni sebagai berikut: 1. Pengalaman sila kesatu, Ketuhanan Yang Maha Esa a. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. b. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup. c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. d. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidahkaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral. Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan, prinsipprinsip yang benar, baik, terpuji, dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa. Sebagaimana nilai dan norma, moral pun dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral filsafat, moral etika, moral hukum, moral ilmu, dan sebagainya. Nilai, norma, dan moral secara bersama mengatur kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya
Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (1997), moral adalah prinsip baik buruk yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang.

Pembahasan
Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah ialah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan, menembangkan pendidikan nasional yang meletakan pendidikan moral Pancasila sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan keterlibatan publik yang di lakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal dan informal, merevitalisasi dan memperkuat potensi pendidik, tenaga pendidikan, peserta didik ,masyarakat dan lingkungan keluarga. Nilai moral dan hukum mempunyai keterkaitan yang sangat erat sekali. Nilai dianggap penting oleh manusia itu harus jelas, harus semakin diyakini oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Moralitas identik dengan perbuatan baik dan perbuatan buruk yang mana cara pengukurannya adalah melalui nilai- nilai yang terkandung dalam perbuatan tersebut. Untuk melindungi lebih lanjut kepentingan yang telah dilindungi kaidah-kaidah tadi maka diperlukanlah system hukum. Hukum yang mengatur kehidupan masyarakat dan nyata berlaku dalam masyarakat , disebut hukum positif.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian moral adalah suatu tuntutan prilaku yang baik yang dimiliki individu sebagai moralitas, yang tercermin dalam pemikiran/konsep, sikap, dan tingkah laku. Pengertian Nilai Dalam Pancasila Nilai atau "value" (bahasa inggris) termasuk bidang kajian filsafat, persoalan-persoalan tentang nilai dibahas dan dipelajari salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai (Axiology, Theory of Value). Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang artinya "keberhargaan" (worth) atau kebaikan (goodness), dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian. Table 1. Hasil pengamatana ketivitas dalam pembelajaran No komponen Jumlah Presentase 1 Aktif 16 89% 2 Sangat Antusias 10 90% 3 Bertanya 8 75% 4 Bicara dengan teman 4 20% 5 Berkerja sama dengan kelompok 20 84% 2. METODE ABDIMAS Metode yang digunakan adalah sosialisasi kepada siswa kelas III-V di SD Negeri Osiloa, tentang menanamkan sikap dan nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai tanggung jawab serta nilai keadilan.
Tujuan dari Penerapan Nilai Moral Pancasila Sejak Dini Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah ialah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan, menembangkan pendidikan nasional yang meletakan pendidikan moral Pancasila sebagai jiwa utuh di dalam diri
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
Npm: 2213053269

Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa nilai Pancasila yang dapat kita teladani dan lakukan. Berikut adalah beberapa nilai-nilai tersebut dan contoh penerapannya:
- Ketuhanan yang Maha Esa: Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Contoh penerapannya adalah memiliki satu agama dan menjalankan ibadah dengan baik.
- Kemanusiaan yang adil dan beradab: Bersikap adil dan beradab terhadap sesama manusia. Contoh penerapannya adalah bersikap ramah, menghargai perbedaan, dan membantu sesama dalam kesulitan.
- Persatuan Indonesia: Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Contoh penerapannya adalah menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan adat istiadat, serta berpartisipasi dalam kegiatan yang memperkuat persatuan.
- Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan: Berpartisipasi dalam pembangunan negara dan menghormati proses demokrasi. Contoh penerapannya adalah menggunakan hak suara dalam pemilihan umum dan menghormati keputusan yang diambil melalui mekanisme demokratis.
- Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia: Bersikap adil dan memperjuangkan keadilan sosial. Contoh penerapannya adalah tidak diskriminatif, menghargai hak asasi manusia, dan berkontribusi dalam pembangunan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Untuk dapat meneladani dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, terutama di era modern yang seringkali terasa terkikisnya nilai, moral, dan etika, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil yaitu:
-Meningkatkan pendidikan karakter di sekolah dan keluarga untuk membentuk generasi muda yang memiliki nilai-nilai Pancasila yang kuat.
- Teladan dari pemimpin di berbagai sektor, termasuk pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, perlu menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengingatkan dan menguatkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
- Mendorong kesadaran individu tentang nilai-nilai Pancasila dan pentingnya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa dilakukan melalui kampanye sosial, seminar, dan media.
- Mengambil bagian dalam kegiatan sosial dan sukarela yang mendukung nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, bakti sosial, dan kampanye kebaikan.
- Kolaborasi antargenerasi seperti generasi muda perlu bekerja sama dengan generasi yang lebih tua dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila, menggali pengalaman, dan memperkuat kebersamaan.
- Memanfaatkan teknologi dengan bijak untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila, misalnya melalui media sosial, platform pendidikan online, dan aplikasi edukasi.

namun di samping itu diperlukan kesepakatan bersama dari masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memiliki signifikansi penting dalam upaya membangun dan mempertahankan keselarasan di tengah-tengah masyarakat Indonesia, terutama di masa kini yang ditandai oleh perubahan-perubahan dan tantangan moral.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
Npm: 2213053269

izin mengirimkan tugas analisis artikel
Dalam artikel ini, peran pendidikan dalam membentuk akhlak di kalangan peserta didik dibahas, terutama di wilayah Aceh, Indonesia, yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Pendidikan moral dianggap sebagai aspek penting dalam menghadapi perubahan sosial yang cepat, terutama di kalangan remaja, yang memiliki dampak pada akhlak, gaya hidup, dan aktivitas sosial mereka.

Dalam kerangka ini, artikel menyoroti pentingnya konsistensi pendidikan Islam dengan visi sekolah yang ditekankan pada nilai-nilai. Rumusan visi sekolah dianggap sebagai elemen kunci dalam mengarahkan strategi pendidikan yang mencakup nilai-nilai moral dalam kurikulum. Guru juga memiliki peran sentral dalam membentuk nilai-nilai siswa selama mereka berada di sekolah.

Artikel ini juga mengidentifikasi delapan belas nilai yang harus diintegrasikan dalam pembelajaran, termasuk nilai-nilai seperti religiusitas, kejujuran, toleransi, dan tanggung jawab. Pendidikan nilai dianggap sebagai pendorong bagi pembangunan nasional.

Selain itu, artikel menegaskan pentingnya penerapan kurikulum Islami di Aceh dan penggabungan nilai-nilai agama dalam mata pelajaran. Namun, ada tantangan dalam pelaksanaannya, termasuk pemahaman yang belum sepenuhnya matang tentang kurikulum dan perlu pengembangan lebih lanjut dalam metode pelaksanaan.

Artikel ini juga mengupas empat aliran etika dalam filsafat Islam yang berfokus pada nilai-nilai moral yang harus menjadi bagian dari karakter setiap Muslim. Selain itu, artikel mencatat bahwa pendampingan karir siswa dilakukan melalui layanan bimbingan dan konseling.

Secara keseluruhan, artikel ini mencerminkan usaha untuk mengintegrasikan pendidikan nilai dalam konteks pendidikan Islam di Aceh, dengan penekanan pada nilai-nilai moral dan budaya Islami.

Sebagaimana isi dari artikel itu sendiri 
Dimana pendidikan memegang peranan yang sangat berarti dalam pembuatan akhlak di golongan peserta didik, apalagi jadi tumpuan budaya warga. Penyelenggaraan pendidikan di seluruh satuan pendidikan berpedoman pada ajaran Islam.
Salah satu aspek terutama dalam kehidupan seorang Muslim merupakan mempunyai standar moral yang besar. Ini terutama berkaitan dengan pengajaran dan pendisiplinan siswa untuk memiliki perilaku dan karakteristik pribadi yang terbaik. Perkembangan IPTEK yang luar biasa yang menyebabkan terjadinya proses interaksi kultural yang lebih terbuka .
Dalam hal ini, pengembangan moral siswa secara otomatis terkait dengan sistem pendidikan. Dimana pendidikan memegang peranan yang sangat berarti dalam pembentukan akhlak di kalangan peserta didik, bahkan menjadi tumpuan budaya masyarakat.

Perubahan sosial yang pesat dalam gaya hidup menyebabkan ketidakbercintaan dalam sosial budaya di kalangan remaja. Fenomena tersebut terlihat dari akhlak, gaya hidup, dan aktivitas sosial remaja dalam kehidupan sehari-hari .
Selain itu, perubahan pesat dalam kehidupan sosial merupakan salah satu perbincangan paling signifikan tentang hukum dan moral siswa.

Namun demikian, perubahan yang sangat cepat ini berdampak serius pada kehidupan sosial melalui proses aspek kognitif dan emosi , bahkan juga berdampak pada pembangunan bangsa dalam jangka panjang. Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Aceh, Indonesia. Dasar qanun tersebut adalah pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah di Provinsi Aceh, dapat terlaksana secara ideal.

Pendidikan Islam berorientasi pada dua sasaran yang terintegrasi yaitu dunia dan akhirat. 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
Pemerintah Daerah Provinsi Aceh untuk mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Penyelenggaraan Pendidikan Sulaiman et al. Penjelasan tersebut akan dijelaskan secara detail pada bagian pembahasan artikel ini selain dijelaskan mengenai konsep pendidikan nilai dan moral secara umum pada bagian tinjauan literatur.

Pada Tinjauan Literatur, Metode Banyak pakar mencoba mendeskripsikan konsep pendidikan nilai dan moral. Lickona menggambarkan bahwa nilai terlihat. Nilai terdiri dari sifat baik sebagai bentuk perilaku moral yang sesuai. Dengan demikian, nilai merupakan bentuk perilaku konkrit, atau penerapan akhlak.

Menurut Yildirim & Dilmac menyatakan bahwa nilai berkaitan erat dengan emosi, pikiran dan perilaku manusia. Menurut Senturk & Aktas menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk sosial mengakomodir masyarakatnya dengan menyerap nilai-nilai, sikap, dan kepercayaannya. Sahin, menyatakan bahwa nilai tidak hanya mempengaruhi budaya tetapi juga dipengaruhi oleh budaya, termasuk kualitas menjadi warga negara yang baik. Gejala nilai terlihat dari perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, pendidikan nilai sangat penting untuk dijalani dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Proses pendidikan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan nilai-nilai kebaikan siswa.

Nilai-nilai baik siswa dapat mengurangi tren bullying pada siswa . Faktanya, penelitian Enu & Esu menemukan bahwa pendidikan nilai dapat menjadi katalisator pembangunan nasional. Ada delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Kedelapan belas nilai tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalis, patriotik, menghargai prestasi, ramah dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, sadar lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, setiap mata pelajaran harus mengandung nilai. Khusus pendidikan di
Aceh sama hal nya dengan pendidikan di provinsi lainnya secara nasional.

Selain itu, penelitian ini mengedepankan pentingnya rumusan visi sekolah berbasis nilai. Padahal visi memiliki peran yang lebih penting karena strategi pendidikan diterapkan untuk mencapai visi sekolah. Hasil penelitian Raihani , keberhasilan sekolah didahului dengan rumusan visi sebagai pedoman seluruh kebijakan, program, dan kegiatan sekolah. Penanaman nilai kepada siswa di sekolah dapat dicapai melalui berbagai cara. Bagaimanapun guru memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan nilai siswa selama di sekolah.

Selain itu, kepastian guru terhadap siswa juga menjadi faktor penting keberhasilan pendidikan nilai di sebuah sekolah. Bahkan, tema ini juga menjadi agenda kebijakan strategis pendidikan di berbagai negara di dunia . Oleh karena itu, Taplin, menyatakan bahwa pendidikan nilai menjadi semakin penting di semua jenjang sekolah. Kegagalan dalam mengimplementasikan pendidikan nilai disebabkan oleh banyak faktor. Quran dan Hadis, dan beberapa ahli yang dikaitkan dengannya.Itu empat jurusan etika dalam filsafat Islam. Makna spiritual dari keempat istilah ini mengacu pada entitas spiritual yang sama . Jiwa dalam pengertian ini lebih penting daripada tubuh dan anggotanya karena pembentuknya adalah asal-usul ketuhanan, sedangkan tubuh adalah materi dasar . Berikut empat jurusan etika yang disebutkan adalah penjabaran kata akhlak Islam. Alquran dan telah disebutkan banyak nilai moral yang harus dimasukkan setiap Muslim ke dalam karakternya.

Ini bertujuan untuk mengintegrasikan atribut manusia, perilaku, aktivitas yang bertujuan untuk mempersiapkan pengikut Tuhan, yang digambarkan Islam kepada mereka dan menjelaskan jalan kebaikan bagi mereka. Sedangkan pengembangan karir siswa dilakukan melalui kegiatan bimbingan konseling dan beberapa Kepala Sekolah di Aceh memberikan informasi bahwa sekolah memberikan program layanan konseling bagi siswanya. Prinsip penyelenggaraan pendidikan didasarkan pada transparansi, akuntabilitas, demokrasi, dan pendekatan keteladanan. Selanjutnya penyelenggaraan pendidikan disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan era revolusi industri 4.0.

Selain itu, pengakuan guru, pemahaman kurikulum Aceh belum utuh, dan sulit untuk diterapkan di sekolah, selain tidak ada sarana dan prasarana pendukung, metode pelaksanaanya juga masih "amburadul"

Penerapan kurikulum islami mereka maknai pengintegrasian khasan dengan materi pelajaran yang mereka asuh atau ajarkan seperti mata pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan . Ini merupakan kabar baik karena adanya kesepahaman antara pengajar dengan regulasi yang dirumuskan pemerintah dan dinas atau lembaga terkait. Dimana KD mata pelajaran harus memuat nilai-nilai religius atau spiritual. Tetapi ketika ditanyakan atau bentuk real dari RPP banyak dari guru hanya memuat nilai-nilai keislaman pada bagian awal pembelajaran.

Kurikulum islami ini mengatur satuan pendidikan yang ada di Aceh melalui dinas pendidikan untuk diterapkan di sekolah. Proses penerapan ini melalui perumusan visi sekolah yang berdasarkan nilai-nilai islami, perumusan strategi pembelajaran berbasis nilai islami, integrasi dalam setiap mata pelajaran yang ada dan penambahan muatan lokal berbasis budaya syariat islam di Aceh melalui peraturan gubernur.

Pelaksanaan pendidikan di Sekolah di Aceh secara keseluruhan sudah Islami, dengan indikator sistem pengelolaan madrasah memiliki nilai transparansi, akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berorientasi islami dan penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam qanun. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di Aceh berbasis dan berorientasi kepada budaya islami yang berbasis syariat islam di Aceh.
Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
Npm: 2213053269

izin mengumpulkan tugas menganalisis artikel.

Apabila kita melihat dari sudut pandang psikologi perkembangan, dunia nampak semakin tua, manusia semakin cerdas, pengetahuan semakin dewasa, dan teknologi pun semakin canggih. Mungkin tidak, bahkan sebaliknya. Kehidupan kita nampaknya semakin mundur dan terpuruk, reformasi kita kebablasan, korupsi semakin terang-terangan dan merajalela, krisis multidimensi pun tak kunjung selesai. Bangsa ini nampaknya sudah cukup lelah melihat, menyaksikan dan mengalami keadaan yang demikian.

di Era ini menyaksikan sosok bangsa ini yang lunglai, terkapar dalam ketidakberdayaan akibat berbagai krisis yang dialaminya. Keadaan tersebut tidak saja mengakibatkan terpuruknya ekonomi, tetapi juga mengakibatkan merosotnya kualias hidup, bahkan merosotnya martabat bangsa.

Kalau kita telaah mungkin akan muncul sederetan faktor penyebab. Negara, beresiko kehilangan sepotong kedamaian dari budaya kita. Ini jelas Islam mengajarkan dan menyuruh kepada pemeluknya untuk berotak, "Jerman-berhati Mekah", demi mencapai kesejahteraan hidup di dunia ini dan akhirat nanti, barangkali hanya mendapatkan kulitnya saja, dan tidak tau isinya.inilah gambaran generasi penerus kita. SMP sudah mulai tawuran, menginjak SMA mendapatkan julukan SMA tawuran, dan ketika mereka menduduki bangku kuliah, apa yang terjadi? Kalau mereka menjadi mahasiswa? Mungkin akan menjadi mahasiswa yang agresif, pemberani, pendemo dan tukang tawuran. Kalau kelak mereka menjadi pejabat, mungkin tidak jujur dan korupsi.

Pendidikan nilai moral/agama sangat penting bagi tegaknya suatu bangsa. Tanpa pendidikan nilai moral kemungkinan besar suatu bangsa bisa hancur, dan carut marut. Munculnya kembali pendidikan budi pekerti sebagai primadona di era ini yang mencerminkan kegusaran bangsa akan terjadinya krisis moral bangsa dan kehidupan sosial yang carut marut. Dan tanggungjawab itu dipikul oleh kita semua.

Dalam TINJAUAN TEORITIS
Pendidikan dalam arti yang luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah .

Sedangkan "nilai"merupakan suatu ide - sebuah konsep - mengenai sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan.

Studi tentang nilai biasanya terbagi ke dalam area estetik dan etik. Estetik berhubungan erat dengan studi dan justifikasi terhadap sesuatu yang dianggap indah oleh manusia, apa yang mereka nikmati. Dasar dari studi etik adalah pertanyaan mengenai moral yang merupakan suatu refleksi pertimbangan mengenai sesuatu yang dianggap benar atau salah.

Lawrence Kohlberg adalah pengikut Piaget, menemukan tiga tingkat perkembangan moral yang dilalui para remaja awal, masa remaja, dan pasca remaja. Selain itu perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya. Jadi, ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan.

Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura juga meliputi proses belajar sosial dan moral. Menurut Bandura sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan dan contoh perilaku. Anak mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku model/contoh dari orang lain yang menjadi idola, seperti guru, orang tua, teman sebaya, dan atau insane film yang setiap saat muncul di tayangan televisi.

Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya conditioning dan imitation . Proses internalisasi atau penghayatan siswa terhadap moral standard terus terjadi. Imitasi atau peniruan terhadap orang tua, guru, teman idola, dan insane film memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan idola atau contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa.