Nama: Tantri Ayu Ratna Sari
NPM: 2213053269
Nama jurnal: jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora
Judul Jurnal: MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA
DI KALANGAN REMAJA
Nama penulis: H. Wanto Rivaie
Tahun terbit: April 2010
Vol: 1
No: 1
Kata Kunci: Nilai Moral, Sosial Budaya,Indonesia.
Secara ideal, sifat tersebut seyogyanya melekat pada diri manusia sebagai ciptaan-Nya. Atas dasar asumsi itu, muncul persoalan, bahwa dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk bertanggung jawab dan berakhlaq mulia. Ke dua surat di atas yaitu ArRum dan Al Isra, Allah telah memberikan pedoman pada umat manusia untuk membina anak agar bertanggungjawab dan berakhlaq mulia. Generasi yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia adalah generasi kelak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan, tindakan dan perilaku sekecil apapun, harus dapat dipertanggungjawabkan baik terhadap Tuhan, dirinya sendiri dan kepada masyarakat luas. Untuk itu tanggung jawab perlu ditanamkan sejak dini sampai dengan akhir kehidupannya.
Dalam hal pendidik dalam arti luas kaitannya dengan pembentukan jatidiri yang terlihat pada penampilan kepribadian seseorang, Nursid S. Dari pemikiran-pemikiran mengindikasikan bahwa pendidikan dalam arti luas sangat berperan dalam upaya memanusiakan manusia yang memiliki jatidiri yang khas dari seorang individu. Nursid menyatakan tentang orang tua sebagai pendidik berhadapan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak-anak meletakkan dasar-dasar pendidikan pada diri si bayi. Keluarga sebagai primary group tempat pembentukan kepribadian yang sangat penting. Di sekolah yang bertindak sebagai pendidik adalah guru-guru, bertugas mengembangkan potensi anak secara berkelanjutan dari tahun ke tahun dengan berbagai materi pelajaran sudah dirancang dalam kurikulum yang berlaku.
1. Pentingnya Nilai-Nilai Moral: Artikel ini menekankan pentingnya nilai-nilai moral dalam membentuk hubungan antarmanusia yang baik. Nilai-nilai seperti menghargai, percaya, dan tolong-menolong dianggap sebagai pondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera.
2. Peran Keluarga: Artikel ini menyoroti peran penting keluarga dalam membina individu sejak usia dini. Keluarga harus menanamkan nilai-nilai keimanan, etika pergaulan, dan nilai-nilai moral kepada anak-anak mereka. Ini merupakan dasar untuk pembentukan karakter yang baik.
3. Pendidikan Formal dan Non-Formal: Artikel ini menjelaskan peran pendidikan formal (sekolah) dan non-formal (misalnya, pendidikan dalam keluarga) dalam pembentukan individu. Sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi akademik dan non-akademik anak-anak. Pendidikan formal perlu diselaraskan dengan nilai-nilai moral.
4. Kisah Contoh: Artikel ini membagikan kisah yang menunjukkan hubungan antara sesama manusia yang didasari oleh nilai-nilai moral seperti tolong-menolong, rasa terima kasih, dan kesetiaan. Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan yang baik antarindividu dalam masyarakat.
5. Pendidikan Agama: Artikel ini membahas peran penting pendidikan agama dalam pembentukan perilaku peserta didik. Pendidikan agama dianggap sebagai landasan untuk memahami nilai-nilai moral dan mengatur hubungan dengan sesama manusia.
6. Multikulturalisme: Artikel ini menguraikan pentingnya multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang pluralistis. Multikulturalisme dianggap sebagai kerangka yang memungkinkan keragaman budaya dan kepercayaan untuk hidup berdampingan dalam kesederajatan.
7. Faktor-Faktor Personal vs. Faktor Sosial: Artikel ini menggambarkan dua pendekatan dalam pembentukan perilaku manusia, yaitu faktor-faktor personal (internal) dan faktor-faktor sosial (eksternal). Ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan perilaku manusia dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari dalam diri individu maupun lingkungannya.
Dalam keseluruhan teks, pesan yang disampaikan adalah pentingnya membangun hubungan interpersonal yang positif dan membentuk kepribadian yang baik melalui pendidikan, nilai-nilai moral, dan pemahaman multikulturalisme dalam masyarakat yang beragam. Artikel ini menyoroti bahwa pembentukan individu yang berkarakter baik adalah tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Artikel ini juga menguraikan berbagai pandangan dan teori tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia, mulai dari faktor personal dan biologis hingga teori-teori psikologi seperti psikoanalisis dan behaviorisme. Selain itu, artikel juga menyoroti pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk identitas nasional dan mencegah konflik sosial. Artikel ini memberikan wawasan yang luas tentang pemahaman manusia dan perilaku manusia dari berbagai sudut pandang. selain itu dalam artikel menguraikan:
1. Pentingnya Faktor Personal: McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dan membentuk perilaku individu. Ini menggarisbawahi peran faktor internal seperti insting, motif, kepribadian, dan sistem kognitif dalam menjelaskan perilaku manusia.
2. Aspek Biologis: Artikel membahas pengaruh faktor biologis dalam perilaku manusia. Menurut Wilson, perilaku sosial dipengaruhi oleh aturan-aturan genetis dalam jiwa manusia. Faktor biologis termasuk kebutuhan makan, seksual, dan perlindungan diri.
3. Aspek Sosiopsikologis: Artikel mengklasifikasikan aspek sosiopsikologis ke dalam tiga komponen: afektif (emosional), kognitif (intelektual), dan koaktif (volisional). Ini membantu memahami berbagai faktor psikologis yang memengaruhi perilaku manusia.
4. Motif Sosiogenesis: Artikel menjelaskan berbagai motif sosiogenesis, yaitu faktor-faktor yang mendorong perilaku manusia. Ini termasuk keinginan untuk memperoleh pengalaman baru, respon, pengakuan, rasa aman, berprestasi, kasih sayang, dan kekuasaan.
5. Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis: Artikel merinci pandangan Sigmund Freud tentang perilaku manusia sebagai hasil interaksi antara Id (prinsip kesenangan), Ego (mediator antara hasrat hewani dan tuntutan rasional), dan Superego (hati nurani internal).
6. Teori Behaviorisme: Artikel mencakup teori Behaviorisme yang menekankan perilaku sebagai hasil belajar dari pengalaman dan pemeliharaan. Ini mencakup konsep manusia sebagai "mesin" yang merespon lingkungan.
7. Teori Belajar Behaviorisme: Artikel merinci teori belajar Behaviorisme dari tokoh seperti Thorndike, Pavlov, Skinner, dan Bandura. Mereka menekankan konsep penghargaan dan penguatan dalam membentuk perilaku.
8. Internalisasi Nilai Pancasila: Artikel juga membahas pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk jatidiri dan berwawasan kebangsaan individu. Ini dilihat sebagai upaya untuk mencegah konflik sosial dan disintegrasi bangsa.
Dalam artikel ini, penulis menekankan pentingnya faktor personal dan sosial dalam membentuk perilaku individu. Faktor-faktor seperti nilai moral, pendidikan, dan multikulturalisme dijelaskan sebagai elemen kunci dalam pembentukan karakter yang baik dalam masyarakat yang beragam. Selain itu, artikel ini juga mengulas teori-teori psikologi seperti psikoanalisis dan behaviorisme untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang perilaku manusia. Keseluruhan, artikel ini menggarisbawahi kompleksitas dan beragamnya faktor yang memengaruhi perilaku manusia.
NPM: 2213053269
Nama jurnal: jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora
Judul Jurnal: MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA
DI KALANGAN REMAJA
Nama penulis: H. Wanto Rivaie
Tahun terbit: April 2010
Vol: 1
No: 1
Kata Kunci: Nilai Moral, Sosial Budaya,Indonesia.
Secara ideal, sifat tersebut seyogyanya melekat pada diri manusia sebagai ciptaan-Nya. Atas dasar asumsi itu, muncul persoalan, bahwa dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk bertanggung jawab dan berakhlaq mulia. Ke dua surat di atas yaitu ArRum dan Al Isra, Allah telah memberikan pedoman pada umat manusia untuk membina anak agar bertanggungjawab dan berakhlaq mulia. Generasi yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia adalah generasi kelak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan, tindakan dan perilaku sekecil apapun, harus dapat dipertanggungjawabkan baik terhadap Tuhan, dirinya sendiri dan kepada masyarakat luas. Untuk itu tanggung jawab perlu ditanamkan sejak dini sampai dengan akhir kehidupannya.
Dalam hal pendidik dalam arti luas kaitannya dengan pembentukan jatidiri yang terlihat pada penampilan kepribadian seseorang, Nursid S. Dari pemikiran-pemikiran mengindikasikan bahwa pendidikan dalam arti luas sangat berperan dalam upaya memanusiakan manusia yang memiliki jatidiri yang khas dari seorang individu. Nursid menyatakan tentang orang tua sebagai pendidik berhadapan kelompok sosial pertama dan terutama yang dikenal oleh anak-anak meletakkan dasar-dasar pendidikan pada diri si bayi. Keluarga sebagai primary group tempat pembentukan kepribadian yang sangat penting. Di sekolah yang bertindak sebagai pendidik adalah guru-guru, bertugas mengembangkan potensi anak secara berkelanjutan dari tahun ke tahun dengan berbagai materi pelajaran sudah dirancang dalam kurikulum yang berlaku.
1. Pentingnya Nilai-Nilai Moral: Artikel ini menekankan pentingnya nilai-nilai moral dalam membentuk hubungan antarmanusia yang baik. Nilai-nilai seperti menghargai, percaya, dan tolong-menolong dianggap sebagai pondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera.
2. Peran Keluarga: Artikel ini menyoroti peran penting keluarga dalam membina individu sejak usia dini. Keluarga harus menanamkan nilai-nilai keimanan, etika pergaulan, dan nilai-nilai moral kepada anak-anak mereka. Ini merupakan dasar untuk pembentukan karakter yang baik.
3. Pendidikan Formal dan Non-Formal: Artikel ini menjelaskan peran pendidikan formal (sekolah) dan non-formal (misalnya, pendidikan dalam keluarga) dalam pembentukan individu. Sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi akademik dan non-akademik anak-anak. Pendidikan formal perlu diselaraskan dengan nilai-nilai moral.
4. Kisah Contoh: Artikel ini membagikan kisah yang menunjukkan hubungan antara sesama manusia yang didasari oleh nilai-nilai moral seperti tolong-menolong, rasa terima kasih, dan kesetiaan. Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan yang baik antarindividu dalam masyarakat.
5. Pendidikan Agama: Artikel ini membahas peran penting pendidikan agama dalam pembentukan perilaku peserta didik. Pendidikan agama dianggap sebagai landasan untuk memahami nilai-nilai moral dan mengatur hubungan dengan sesama manusia.
6. Multikulturalisme: Artikel ini menguraikan pentingnya multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang pluralistis. Multikulturalisme dianggap sebagai kerangka yang memungkinkan keragaman budaya dan kepercayaan untuk hidup berdampingan dalam kesederajatan.
7. Faktor-Faktor Personal vs. Faktor Sosial: Artikel ini menggambarkan dua pendekatan dalam pembentukan perilaku manusia, yaitu faktor-faktor personal (internal) dan faktor-faktor sosial (eksternal). Ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan perilaku manusia dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari dalam diri individu maupun lingkungannya.
Dalam keseluruhan teks, pesan yang disampaikan adalah pentingnya membangun hubungan interpersonal yang positif dan membentuk kepribadian yang baik melalui pendidikan, nilai-nilai moral, dan pemahaman multikulturalisme dalam masyarakat yang beragam. Artikel ini menyoroti bahwa pembentukan individu yang berkarakter baik adalah tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Artikel ini juga menguraikan berbagai pandangan dan teori tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia, mulai dari faktor personal dan biologis hingga teori-teori psikologi seperti psikoanalisis dan behaviorisme. Selain itu, artikel juga menyoroti pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk identitas nasional dan mencegah konflik sosial. Artikel ini memberikan wawasan yang luas tentang pemahaman manusia dan perilaku manusia dari berbagai sudut pandang. selain itu dalam artikel menguraikan:
1. Pentingnya Faktor Personal: McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dan membentuk perilaku individu. Ini menggarisbawahi peran faktor internal seperti insting, motif, kepribadian, dan sistem kognitif dalam menjelaskan perilaku manusia.
2. Aspek Biologis: Artikel membahas pengaruh faktor biologis dalam perilaku manusia. Menurut Wilson, perilaku sosial dipengaruhi oleh aturan-aturan genetis dalam jiwa manusia. Faktor biologis termasuk kebutuhan makan, seksual, dan perlindungan diri.
3. Aspek Sosiopsikologis: Artikel mengklasifikasikan aspek sosiopsikologis ke dalam tiga komponen: afektif (emosional), kognitif (intelektual), dan koaktif (volisional). Ini membantu memahami berbagai faktor psikologis yang memengaruhi perilaku manusia.
4. Motif Sosiogenesis: Artikel menjelaskan berbagai motif sosiogenesis, yaitu faktor-faktor yang mendorong perilaku manusia. Ini termasuk keinginan untuk memperoleh pengalaman baru, respon, pengakuan, rasa aman, berprestasi, kasih sayang, dan kekuasaan.
5. Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis: Artikel merinci pandangan Sigmund Freud tentang perilaku manusia sebagai hasil interaksi antara Id (prinsip kesenangan), Ego (mediator antara hasrat hewani dan tuntutan rasional), dan Superego (hati nurani internal).
6. Teori Behaviorisme: Artikel mencakup teori Behaviorisme yang menekankan perilaku sebagai hasil belajar dari pengalaman dan pemeliharaan. Ini mencakup konsep manusia sebagai "mesin" yang merespon lingkungan.
7. Teori Belajar Behaviorisme: Artikel merinci teori belajar Behaviorisme dari tokoh seperti Thorndike, Pavlov, Skinner, dan Bandura. Mereka menekankan konsep penghargaan dan penguatan dalam membentuk perilaku.
8. Internalisasi Nilai Pancasila: Artikel juga membahas pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk jatidiri dan berwawasan kebangsaan individu. Ini dilihat sebagai upaya untuk mencegah konflik sosial dan disintegrasi bangsa.
Dalam artikel ini, penulis menekankan pentingnya faktor personal dan sosial dalam membentuk perilaku individu. Faktor-faktor seperti nilai moral, pendidikan, dan multikulturalisme dijelaskan sebagai elemen kunci dalam pembentukan karakter yang baik dalam masyarakat yang beragam. Selain itu, artikel ini juga mengulas teori-teori psikologi seperti psikoanalisis dan behaviorisme untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang perilaku manusia. Keseluruhan, artikel ini menggarisbawahi kompleksitas dan beragamnya faktor yang memengaruhi perilaku manusia.