Kiriman dibuat oleh Farida Juwita 2213053179

Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis video berjudul "Penanaman dan Penerapan Nilai-Nilai Moral Melalui 8 Fungsi Keluarga" oleh Denyar Agus.

Didapat bahwa terdapat 8 fungsi keluarga dalam proses penanaman dan penerapan nilai moral, diantaranya :

1. Fungsi Agama. Artinya, dalam keluarga terdapat nilai moral seperti keimanan, ketakwaan, kejujuran, bersyukur, kepedulian, tenggang rasa, ketaatan, suka menolong, disiplin, kesabaran, kasih sayang.
2. Fungsi sosial budaya. Dalam keluarga, nilai moral yang dapat diterapkan seperti gotong royong, sopan santun, kerukunan, kepedulian, kebersamaan, toleransi, dan kebangsaan.
3. Fungsi cinta kasih. Nilai moral seperti empati atau peka terhadap suatu hal, keakraban, keadilan pemaaf, kesetiaan, pengorbanan suka menolong, dan bertanggung jawab. Nilai ini dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga.
4. Fungsi perlindungan. Nilai moral yang dapat diterapkan seperti pemaaf, tanggap, dan berusaha tabah.
5. Fungsi reproduksi. Artinya, dalam keluarga dapat menerapkan nilai moral yaitu bertanggung jawab termasuk pada kesehatan maupun keteguhan.
6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan. Dalam keluarga, nilai moral yang dapat diterapkan seperti sikap percaya diri, keluwesan, kebanggaan,  kreativitas, bertanggung jawab, dan bekerja sama.
7. Fungsi ekonomi. Yakni mengandung nilai moral seperti hemat, ketelitian, disiplin, kepedulian, dan keuletan.
8. Fungsi peliharaan lingkungan. Dalam keluarga, dapat diterapkan nilai moral berupa kebersihan dan kedisiplinan.
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis video berjudul "Pendidikan Moral di Sekolah Dasar" oleh Fadila Ti Allutfhia.

Didapat bahwa pendidikan moral merupakan suatu upaya terencana untuk mengubah sikap, perilaku, dan tindakan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan sesuai dengan nilai atau norma yang ada. Dalam pendidikan moral, terdapat beberapa tahap perkembangannya, yakni :
1. Usia 6 sampai 12 bulan. Tahap ini orang tua fokus mengendalikan dan melindungi bayi.
2. usia 12 sampai 18 bulan. Membuat komitmen dan patuh sesuai dengan keadaan.
3. usia 18 sampai 30 bulan. Anak mulai menunjukkan rasa menolong, rasa bersalah, malu dan empati.
4. usia 30 sampai 36 bulan. Akurasi verbal lebih berkembang.
5. usia 3 sampai 4 tahun. Usaha memperoleh pujian melalui perilaku menolong atau perilaku lain secara lazim
6. usia 4 sampai 6 tahun. Penalaran moral fleksibel.
7. usia 7 sampai 8 tahun. Makin fleksibelnya penalaran moral.
8. usia 9 sampai 11 tahun. Muncul rasa keadilan di mana anak ingin menjadi baik untuk memelihara hubungan sosial.
9. usia 12 sampai 15 tahun. Muncul kesadaran akan keadilan dan pembuat peraturan.
10. usia 16 sampai 20 tahun. Relativisme menjadi hal penting.
11. dewasa muda (20-40 tahun). Penilaian moral dianggap lebih rumit.
12. dewasa tengah (40-60 tahun). Semakin rumitnya penilaian moral
13. dewasa tua (65 tahun). Penilaian moral semakin rumit.

Implikasi perkembangan sosial dan pribadi anak sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar. Yang mana interaksi sosial seperti pertemanan dapat menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses belajar. Oleh karena itu, penting untuk diajarkannya identitas gender di sekolah maupun di rumah. Identitas gender ini bertujuan untuk mengarahkan perilaku dan moral anak sesuai dengan gendernya. Ini merupakan hal penting untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pada anak.

Selanjutnya, ada beberapa permasalahan beserta solusi perkembangan moral anak Sekolah Dasar, yakni :
1. Hilangnya kejujuran. Di mana anak cenderung berbohong dan takut untuk jujur. Contohnya seperti mencontek saat ujian. Hal ini dapat diatasi dengan mengajarkan anak untuk lebih percaya diri dan belajar bicara jujur dan menerimanya.
2. Hilangnya rasa tanggung jawab. Seorang anak kurang memiliki sikap tanggung jawab. Misalnya, seperti tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Hal ini dapat diatasi dengan mengajarkan anak mengenai sikap tanggung jawab seperti memberi pengarahan atau pengayaan pada peserta didik yang tidak mengerjakan tugas.
3. Rendahnya disiplin. Contohnya dapat dilihat dari terlambatnya peserta didik masuk kelas. Di sini, pendidik harus tegas pada peserta didik untuk lebih disiplin.
4. Kurang bisa bekerja sama. Contohnya ketika tidak bekerja dalam kerja kelompok.
Solusinya adalah membiasakan anak untuk aktif terlibat dalam diskusi maupun kegiatan yang membangun kerja sama.
5. Mengambil hak orang lain. Ini marak terjadi, contohnya seperti mencuri barang teman. Hal ini dapat diatasi dengan membiasakan anak untuk bersyukur dan menerima atas apapun yang mereka miliki tanpa perlu mengambil hak orang lain.
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis video berjudul "Pendidikan Moral Tanggung jawab Diri dalam Keluarga".

Pada video di atas, disebutkan bahwa tanggung jawab merupakan salah satu hal penting dalam lingkungan keluarga. Contohnya seperti :
- Pauh terhadap nasihat ayah maupun kedua orang tua
- Membantu ibu meringankan tugasnya
- Menemani kakak dan menjaga adik.
Artinya, tanggung jawab ini menjadi hal penting karena merupakan tugas atau keharusan yang mesti kita lakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Keharmonisan ini dapat terlihat pada saat pulang kampung misalnya. Selain itu, tanggung jawab juga menjadikan kita mampu menjaga rumah tetap aman, sadar untuk membantu anggota keluarga serta tanggung jawab belajar sungguh-sungguh untuk mencapai cita cita. 

Dengan adanya tanggung jawab dalam diri dan melakukannya, dapat mewujudkan rasa bangga keluarga terhadap seorang anak serta mempererat hubungan keluarga.
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis jurnal yang berjudul "Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini" oleh Lia Yuliana.

Diketahui bahwa penting untuk menanamkan nilai-nilai moral pada anak terutama sejak dini. Maka dari itu adanya pendidikan nilai sejak tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu upaya untuk membentuk karakter moral agar terbentuk perilaku baik dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya. Pendidikan moral juga bertujuan untuk mengembangkan karakter, sikap, dan perilaku peserta didik. Secara konkret, pendidikan nilai juga mengajarkan bagaimanaa tingkah laku, perbuatan, sikap atau karakter yang didasarkan pada ajaran
nilai, prinsip atau norma. Nilai moral ini memiliki ciri-ciri, diantaranya :
- Berkaitan dengan tanggung jawab, artinya tanggung jawab merupakan syarat mutlak dalam nilai moral.
b. Berkaitan dengan hati nurani, mewujudkan nilai nilai moral merupakan bentuk ajakan dari hati nurani.
c. Mewajibkan, nilai moral merupakan wajib bagi kehidupan manusia.
d. Bersifat formal, artinya nilai moral memiliki kaitan dengan nilai nilai lain.

Pada usia dini, anak sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Mereka berusia 0-6 tahun. Di mana pada PAUD, usia mereka berada antara 4-6 tahun. Usia ini anak sangat aktif dan memiliki perkembangan kognitif sangat pesat. Nah, terdapat berbagai cara atau metode dalam melakukan penanaman nilai pada anak usia dini, diantaranya :
1. Metode bermain
Dengan bermain, memberikan kesenangan kepada anak-anak untuk dapat menuangkan imajinasi mereka secara bebas sehingga membantu anak bersosialisasi dengan mudah
2. Metode bercerita
Menambah pengetahuan anak tentang nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat dapat disampaikan melalui cerita yang mengandung pesan atau nilai moral di dalamnya.
3. Metode pemberian tugas
Dengan metode ini, tugas dalam individu maupun kelompok dapat mendorong anak untuk bertanggung jawab dan juga bekerja sama.
4. Metode bercakap- cakap,l
Metode ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi anak di mana pendidik dapat mengajarkan aturan, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat, agar anak dapat menjalin hubungan dan dapat diterima oleh lingkungan sosial.
Metode-metode inilah yang menjadi strategi dalam proses penanaman nilai pada usia dini sebelum mereka melanjutkan ke jenjang berikutnya yakni Sekolah Dasar. Dengan penananaman nilai pada PAUD, dapat membantu perkembangan serta kecerdasan moral anak. Serta dapat memberikan sedikit bekal terkait baik buruknya suatu nilai yang berguna untuk mereka ketika duduk dibangku SD kelak. Selain itu, perlu untuk dilakukan penanaman nilai-nilai moral sejak dini tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis jurnal yang berjudul "PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI LAMPEUNEURUT" oleh Ruslan, Rosma Elly, dan Nurul Aini.

Sekolah memiliki peran penting dalam penanaman nilai-nilai moral sejak dini kepada peserta didik. Kemerosotan moral pada remaja yang terjadi saat ini merupakan bentuk lunturnya nilai-nilai moral yang dimiliki oleh generasi. Penanaman nilai bertujuan untuk mencegah lunturnya nilai-nilai moral tersebut saat anak beranjak menjadi remaja. Sebelum melakukan hal ini, para pendidik haruslah memahami terlebih dahulu terkait nilai moral untuk dapat melakukan aksi dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak di sekolah. Nilai-nilai seperti baik, buruk, pantas, sopan, wajar dan lainnya merupakan nilai yang harus ditanamkan untuk dapat membentuk cara pandang dan sikap seseorang dalam kehidupan. Kebiasaan juga akan terbentuk dari nilai-nilai yang dijalankannya sehingga penting untuk menjadikan seorang anak memiliki kebiasaan atau moral yang baik.

Pada artikel ini, para guru di SD Negeri Lampeuneurut telah berupaya menanamkan nilai-nilai sejak dini kepada peserta didik. Penanaman nilai dilakukan bertahap melalui mata pelajaran yang diajarkan. Selain itu, para guru juga mengajarkan kebiasaan baik sejak dini seperti berdoa sebelum memulai pelajaran, mengajarkan saling menghargai perbedaan pendapat, membimbing anak melalukan tugas sendiri untuk tanggung jawab, dan banyak nilai lainnya. Bahkan terdapat 10 nilai moral yang ditanamkan secara umum yaitu nilai religius, nilai sosialitas, nilai gender, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggungjawab, dan nilai yang diberikan terhadap lingkungan. Nilai-nilai ini disisipkan melalui kegiatan pembelajaran atau dengan guru memberi contoh konkret dan juga menjadi panutan.
Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa nilai-nilai moral sudah berhasil ditanamkan di SD Negeri Lampeuneurut ini. Selain melalui pembelajaran, para guru juga bekerja sama dengan wali atau orang tua peserta didik untuk saling mengajarkan nilai-nilai moral ini di luar sekolah atau di rumah. Sehingga harapannya tujuan dari penanaman nilai moral di SD Negeri Lampeuneurut dapat dicapai secara maksimal.