གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Farida Juwita 2213053179

Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis jurnal
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Penulis : Enung Hasanah

Analisis saya terhadap jurnal tersebut yakni terdapat teori Kohlbreg yang disebut sebagai pengukur tingkatan moral seseorang. Ini disebabkan karena teroi Kohlbreg berakar pada asumsi Piaget bahwa pikiran dan perasaan berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Kemudian Kohlbreg mengembangkan teorinya dengan tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Teori ini dapat berhubungan dengan perkembangan moral generasi saat ini. Pada orang dewasa dan seorang anak kecil memiliki kematangan moral yang berbeda. Namun, kematangam moral ini tidak sepenuhnya dapat tercermin dalam tingkah lakunya. Tingkah lakunya dapat sama tergantung dari pertimbangan mereka dalam bertindak. Pertimbangan-pertimbangan inilah yang menjadi indikator dari tingkatan atau tahap perkembangan moral
Hasil penelitian yang pernah dilakukan Kohlberg pun menunjukan bahwa apabila penalaran-penalaran yang dihasilkan oleh seseorang mempunyai pertimbangan moral tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut daripada yang tidak mempertimbangkannya.

Nah, teori Kohlberg mengklasifikasikan 3 tahap atau level terkaig Perkembangan Moral, yakni:
a) Level 1 - Moralitas Pra-konvensional
- Tahap 1 : Ketaatan dan Hukuman
Tahap ini terjadi pada anak anak di mana melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut untuk menghindari hukuman.
- Tahap 2 : Individualisme dan Pertukaran Tahap ini anak anak mulai dapa tmenjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu.

b) Level 2 - Moralitas Konvensional
- Tahap 3 : Hubungan Interpersonal (fokus Mulai berfokus pada memenuhi harapan dan peran sosial, penekanan pada konformitas
- Tahap 4 : Menjaga Ketertiban Sosial
Pada tahap ini orang mulai menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan.

c) Level 3 - Moralitas Pasca-konvensional
- Tahap 5 : Kontrak sosial dan hak
Pada tahap ini, seseorang mulai memperhitungkan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain, aturan hukum sangat penting.
- Tahap 6 : Prinsip Universal
Tahap dimana sudah mengikuti prinsip keadilan yang diinternalisasi, bahkan jika bertentangan dengan hukum dan peraturan.

Dengan menjadikan level perkembangan yang diajukan oleh teori Kohlbreg ini sebagai acuan, perkembangan seorang anak atau peserta didik dapat diketahui. 
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053174
Kelas : 3G

Analisis video yang berjudul "6 Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Kohlberg" 

Setelah menonton video tersebut, dapat di ketahui bahwa perkembangan moral menurut teori Kohlberg terbagi menjadi 3 level, dimana setiap level terdapat dua tahap.
6 tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Level 1 -Pra-Konvensional-
• Tahap 1 'Menghindari Hukuman'
Untuk menghindari hukuman, seseorang mempunyai alasan untuk bertindak atau bahkan tidak bertindak.
• Tahap 2 'Keuntungan dan minat pribadi'
Tahap kedua ini mengenai adanya adanya pertimbangan atas tindakan yang akan dilakukan, dengan memperhitungkan keuntungan atau timbal balik yang akan didapat.

2) Level 2 -Konvensional-
• Tahap 3 'Menjaga sikap orang lain'
Pada tahap ini seseorang akan bertindak dengan memikirkan pandangan dan pendapat orang lain, serta memikirkan kesepakatan yang ada disekitarnya.
• Tahap 4 'Memelihara peraturan'
Apabila suatu peraturan tidak dipatuhi, maka keadaan akan menjadi kacau. Oleh karena itu, peraturan harus selalu dipatuhi untuk memberikan kenyamanan bagi semua orang.

- Level 3 -Pasca-Konvensional-
• Tahap 5 'Orientasi Kontrak sosial'
Pada tahap ini terdapat pemikiran bahwa semua orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda. Terdapat pula keyakinan bahwa tiada yang absolut atau pasti saat melihat suatu kasus. Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
• Tahap 6 'Prinsip etika Universal'
Pada tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang. Ia akan tetap melakukan suatu hal yang dianggap benar walaupun bertentangan dengan aturan hukum yang ada.
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis video berjudul "Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern"
Dari video tersebut, saya dapat mengetahui bahwa kali ini dunia pendidikan sangat memprihatinkan. Dimana terjadi krisisnya moralitas pelajar saat ini salah satunya yaitu seorang siswa yang tega membunuh gurunya sendiri. Ini dapat menunjukkan bahwa masih kurangnya kemampuan siswa dalam mengelola emosi mereka sehingga menyebabkan seorang anak dapat melakukan tindak kekerasan.


Krisis atau degradasi moralitas ini dapat disebabkan oleh pola asuh orang tua di rumah maupun pola asuh dari guru di kelas atau lingkungan sekolah. Maka dari itu, pola pengasuhan sejak dini oleh orang tua di rumah merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena dapat berakibat fatal apabila tidak dilaksanakan dengan baik. Kemudian di lingkungan sekolah, guru pun harus memiliki kecakapan yang dapat membantu dalam pembentukan karakter peserta didik. Dalam lingkungan sekolah, pendidikan nilai dan moral pun dapat berperan penting dalam mengajarkan nilai-nilai positif ataupun etika yang dapat membantu dalam mencegah degradasi moral ini. Artinya, diperlukan keikutsertaan dari berbagai pihak untuk mencegah maupun mengatasi permasalahan degradasi moral ini.
Nama : Farida Juwita
NPM : 2213053179
Kelas : 3G

Analisis jurnal 1
Judul : PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL Penulis : Sudiati

Secara umum, pendidikan nilai moral didefinisikan sebagai tuntutan serta kebutuhan pada kehidupan global bagi manusia dalam berbangsa, dan bernegara. Pendidikan nilai dan moral berhadapan dengan kehidupan manusia yang semakin kompleks. Terdapat banyak masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika.
Maka, pendidikan dapat berperan penting dalam menghadapi era global saat ini. Termasuk pendidikan nilai moral yang dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah baik yang bersifat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Karena pendidikan nilai moral dinilai dapat berfokus dalam pembentukan pribadi warga negara secara intregratif. Serta nilai etik-moral; terutama dalam hal yang bersifat asasi manusia, universal, dan global. Pada beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, India, dan Cina, pendidikan nilai moral memiliki perbedaan dan kesamaan. Negara-negara tersebut memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal atau nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global karena memiliki perbedaan ideologi bangsa. Pendidikan nilai moral memililiki enam tahap tingkat pertimbangan moral menurut Kohlberg, yaitu (i) orientasi hukuman atau kepatuhan, (ii) orientasi instrumental-relatif, (iii) orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik, (iv) orientasi hukum dan ketertiban, (v) orientasi kontrak sosial legalitas, dan (vi) orientasi prinsip kewajiban. Konsep yang dikemukakan ini oleh Kohlberg dan Miller bahwa pendidikan nilai moral cenderung bersifat individualistik.


Dalam implementasi pendidikan nilai moral terdapat banyak pendekatan yang dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dalam penerapannya. Beberapa pendekatan tersebut menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) yakni (i) inculcating atau menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling atau meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating atau memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development ataupengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif. Sedangkan terdapat dua metode lansung maupun tidak lansung yang juga dapat diterapkan. Melalui metode langsung, nilai-nilai yang diindoktrinasi diharapkan dapat diserap peserta didik. Selain itu, dalam implementasinya, diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui berbagai langkah seperti pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.