Posts made by Ivo Yuniarta 2213053231

Nama: Ivo Yuniarta
NPM: 2213053231
Kelas: 3G

Analisis vidio yang berjudul “Degradasi Moral Pelajar Jaman Sekarang”

Degradasi berarti kemunduran, kemerosotan atau penurunan dari suatu hal sedangkan moral adalah akhlak atau budi pekerti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jika kita interpretasikan keduanya maka degradasi moral merupakan suatu fenomena adanya kemerosotan atas budi pekerti seseorang maupun sekelompok orang.

Krisis moral di kalangan anak muda ini sudah sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Jika kemerosotan moralitas ini terus menerus terjadi, maka tentu akan membahayakan bagi kualitas sumber daya manusia. Pelanggaran norma-norma sosial ini tentu juga bisa berdampak pada pembangunan bangsa. Lunturnya nilai kesopanan dan tata krama siswa terhadap gurunya telah menjadi permasalahan paling krusial saat ini, khususnya di Indonesia. Padahal guru merupakan sosok yang patut dihormati dan dihargai. Namun, sering kita jumpai siswa cenderung kehilangan etika dan sopan santun di hadapan para gurunya. Seperti dalam vidio tersebut peserta didik SMP Mengajak duel kepala sekolah. Lemahnya Etika serta moral yang terjadi pada peserta didik tersebut.

Lunturnya moral pada remaja juga bisa diakibatkan karena mereka melupakan
dan bahkan tidak mengetahui kebudayaan di daerah mereka sendiri, hal itu juga dapat terlihat dari maraknya para remaja yang mengikuti perilaku maupun kebudayaan yang
berasal dari luar, dimana hal itu banyak nya tidak memberikan dampak positif kepada mereka. Krisis moral siswa seharusnya menjadi output keras bagi orang tua serta tenaga pendidik untuk lebih peduli tentang masalah ini. Pendidikan karakter bangsa juga harus gencar dicanangkan agar dapat membentuk kompetensi moral siswa. Karena dengan moral dan perilaku yang apik, maka dapat menciptakan insan-insan luhur yang pantas menjadi penerus generasi bangsa di masa yang akan datang.
Nama: Ivo Yuniarta
NPM: 2213053231
Kelas: 3G

Analisis vidio yang berjudul "6 tahap perkembangan moral menurut Kohlberg"

Menurut Lawrence Kohlberg ada 3 tingkatan dalam tahap perkembangan moral, setiap tingkatan mempunyai dua tahap sehingga keseluruhannya menjadi 6 tahap, yaitu:

1. Pra-Konvensional
- Menghidari hukuman
Seseprang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak karena untuk menghindari hukuman. Misalnya, ketika seseorang tidak menerobos lampu merah di jalan raya. Orang tersebut melakukannya supaya tidak ditilang oleh polisi karena itu ia mematuhi peraturan lalu lintas.
- Keuntungan dan minat pribadi
Ditahap tindakan ini dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan diperolehnya. Misalnya, aku akan pergi membantu karena suatu hari pasti dia akan membantuku.

2. Konvensional
- Menjaga sikap orang baik
Seseorang mungkin menghidari konflik karena ia memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya. Misalnya, tidak berdiskusi dengan tetangga dan sudah sepatutnya mengikuti kerja bakti.
- Memelihara Peraturan jika peraturan tidak ada yang mematuhi maka keadaan akan menjadi kacau peraturan harus dipatuhi untuk memberi kenyaman bagi seluruh orang.

3. Pasca-Konvensional
- Orientasi kontrak sosial
Pada tahap ini seseorang menyadari bahwa setiap orang mempunyai latar belakang dan situasi yang berbeda. Tidak ada yang mutlak atau pasti ketika melihat sebuah kasus. Hak-hak induvidu harus dilihat bersama dengan hukum yang ada.
-Prinsip etika universal
Pada tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang. Ia melakukan hal yang dianggapnya benar, walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.

Teori Kohlberg didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif. Pada tahap pertama, individu fokus pada konsekuensi langsung dari tindakannya. Kohlberg percaya bahwa perkembangan moral meningkat seiring bertambahnya usia.
Nama: Ivo Yuniarta
NPM: 2213053231
Kelas: 3G

A. Identitas Jurnal
Judul jurnal: PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Penulis: Enung Hasanah
Tahun Terbit: 2019
Bulan Terbit: September
Nomor: 2
Volume: 6
Kata Kunci: teori kohlberg, SD, moral

B. Isi Jurnal
Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan
tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Sebagian besar dari kita, termasuk filsuf serta orang tua dan pendidik, menganggap bahwa kedua fungsi moralitas saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak kita, dan sebaliknya.

Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral
merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak
mengenai kematangan moral. Memang seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil keduanya barangkali tidak mau mencuri mangga. Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran
yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam
pendangan moral orang tersebut.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
• Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
• Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.
Level 2. Moralitas Konvensional
• Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
• Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
• Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan.
• Tahap 6 - Prinsip Universal.
Nama: Ivo Yuniarta
NPM: 2213053231
Kelas: 3G

A. Identitas Jurnal
Judul jurnal: PENDIDIKAN NILAI MORAL
DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Penulis: Sudiati
Tahun Terbit: 2009
Bulan Terbit: Juni
Nomor: 2
Kata Kunci: moral value education, global perspective (pendidikan nilai moral, perspektif global)

B. Isi Jurnal
Sistem nilai merupakan sekelompok nilai yang saling berkaitan, saling menguatkan dan tidak terpisahkan, seperti nilai-nilai yang bersumber dari agama atau tradisi humanistik. Karakteristik beberapa negara pasti berbeda, khususnya jika dilihat berdasarkan ideologinya karena perbedaan ideologi itu di antaranya berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai. Nilai moral
merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar Pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Ada beberapa model pendidikan afektif (nilai) yang dapat dipertimbangkan. Sekurang-kurangnya, ada tujuh belas model. Setiap model mempunyai tujuan yang berbeda. Sumber pengembangan nilai-nilai dan banyak pula faktor lain yang membatasinya. Di sisi lain, keseluruhan kurikulum sekolah berfungsi sebagai suatu sumber penting pendidikan nilai.

Pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif. Dengan penerapan metode langsung dimungkinkan nilai-nilai yang diindoktrinasi dapat diserap peserta didik, bahkan dihafal di luar kepala, tetapi tidak terinternalisasikan, apalagi teramalkan. Kemungkinan kedua, nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan, tetapi berkat pengawasan pihak penguasa bukan atas kesadaran diri peserta didik.

Contoh implementasi pendidikan nilai berkenaan dengan keteladanan. Pengimplementasian pendidikan nilai kepada peserta didik memerlukan adanya kesadaran para pendidik agar senantiasa menjadi contoh bagi peserta didik agar tidak bersikap mendua. Misalnya, jika peserta didik dituntut berperilaku jujur, berucap dengan upacan yang baik, konsekuensinya para pendidik dituntut berperilaku jujur, tidak mengajarkan kebohongan, dan bertutur kata yang baik. Sebagai konsekuensinya, para pendidik (orang tua, guru, dan para pembimbing) harus konsisten dalam berperilaku moral karena peserta didik tumbuh dan berkembang mengikuti model perilaku para pendidik.
Nama: Ivo Yuniarta
NPM: 2213053231
Kelas: 3G

Analisis Vidio yang berjudul "Mirisnya Kekerasan Di Lingkungan Sekolah"

Sudah sangat mengkhawatirkan terjadinya pembullyan di sekolah sampai mengakibatkan kematian. Para orang tua sudah sepatutnya menaruh perhatian penting kepada anak-anak mereka, mulai dari membatasi penggunaan media sosial hingga pergaulan yang dirasa tidak patut. Sebagai pendidik haruslah selalu mengawasi dan mendidik sebagai wadah bagi seorang anak untuk membentuk karakter dan sikap yang baik agar tidak menimbulkan perkelahian, pembullyan, dan pertengkaran.

Biasanya orang tua dan pendidik menganggap teguran sudah cukup untuk mengakhiri candaan di sekolah. Padahal, ini sebenarnya luka psikis atau emosional yang lebih dalam serta menyakitkan dan efeknya bisa jangka panjang. Kemudian juga karena minimnya pengetahuan guru dan orang tua tentang bullying dan dampaknya terhadap anak. Pengetahuan ini sangat penting untuk melihat apakah masalah di sekitar anak serius atau tidak.