Posts made by ADELIA SHINTIA NINGRUM

Nama : Adelia Shintia Ningrum
NPM : 2213053192
Kelas : 3H

Para siswa SD Negeri Glak Kabupaten Sikka, NTT membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya, sekolah yang terletak di sebuah Dusun terpencil ini terpaksa harus melakukan kegiatan belajar mengajar di teras kelas. Teras dipakai sebagai ruang kelas lantaran ketiadaan ruang kelas. Sekolah yang terletak di kaki gunung api Egon ini hanya memiliki 6 ruangan di mana 5 ruangan dipakai sebagai ruang kelas dan satu ruangan sebagai ruang guru. Jangankan kelas, perpustakaan saja tak dimiliki sekolah ini. Meski begitu, para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga 2 kilometer guna bisa belajar di sekolah. Di masa pandemi covid-19 ini, ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar dari rumah, sekolah ini tak mampu melaksanakannya.
Di wilayah ini belum ada jaringan telekomunikasi sama sekali, karena itu pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan belajar di sekolah.
Jika hujan anak-anak yang belajar di luar tidak bisa belajar karena hujan angin, pagi hari mereka juga harus berteduh di bawah pohon karena panas matahari tembus langsung ke anak-anak, jadi setelah panas matahari tidak ada baru mereka masuk.
Harapan pihak sekolah kepada pemerintah supaya pemerintah segera membangunkan satu ruang kelas supaya anak-anak aman belajar.
Pihak sekolah pun berharap pemerintah bisa buka mata melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.
Nama : Adelia Shintia Ningrum
NPM : 2213053192
Kelas : 3H

SEPENGGAL CERITA PENGAJAR MUDA DI PELOSOK KALIMANTAN
Martencis Veronica Siregar

Pendidikan itu seperti cahaya sebenarnya jadi ketika kita tidak punya cahaya untuk melakukan perjalanan kita bisa tersesat tapi ketika kita punya cahaya kita tahu arah Kita akan kemana itu akan menuntun kita sampai ke tujuan yang kita mau
Ini lah anak - anak dayak Kalimatan Utara mereka satu dari sekian banyak keragaman dalam negara kesatuan kita Indonesia
Martencis Siregar pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar yang ditempatkan di Desa Tanjung Matol Nunukan Kalimantan Utara sebelum bergabung dengan Indonesia mengajar aku sempat menjadi relawan di gerakan peduli HIV AIDS di Jayapura Papua.
Martencis mengajar kelas 1 dan juga guru les bagi anak murid kelas 6, Tanjung Matol Nunukan Kalimantan Utara berjarak tempuh 7 jam dari kabupaten, dia belum pernah tinggal di pelosok seperti Tanjung Matol Nunukan Kalimantan Utara tak heran jika Mama dan Bapak masih selalu cemas.
Anak anak dari Tanjung Matol masih sangat sedikit yang minat untuk melanjutkan pendidikan jenjang SD. orang tua di sini masih kurang sadar pentingnya pendidikan anak perempuan di desa penempatanku malah banyak yang menikah di usia dini sekitar umur 12 tahun atau lulus SD sudah ada yang melamar, beliau bertemu dengan satu anak perempuan yang sudah mau dilamar, sudah mau dibawa menikah sama orang yang usianya lebih dewasa.
Kapan perempuan disini akan maju kalau di kampung ini saja budaya seperti ini masih terus ada hingga bulan keenam di sini aku pribadi masih takut mencampuri urusan tradisi dan kebiasaan warga tak hanya soal pernikahan dini anak perempuan kurangnya perhatian orang tua pada pendidikan anak jadi persoalan.
Martencis harus membuat para orang tua atau wali muridku sadar pentingnya pendidikan. Cita-citanya di sini sederhana membuat anak-anak Tanjung Matol mau pergi ke sekolah belajar dan bisa punya bekal yang lebih baik untuk masa depannya.
Ia mengajar di SDN 11 Sembakung, Tk dan PAUD belum masuk ke Desa Tanjung Mato, jadi kelas 1 adalah awal dari Jalan Panjang menempuh pendidikan di sini biar mereka bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena mereka juga kelas rendah jadi perlu metode-metode yang lebih kreatif supaya mereka tertarik jadi jangan heran dengan bentuk kelasnya yang seperti kelas TK tantangan selanjutnya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan menggunakan metode belajar yang ampuh mengusir rasa jenuh pada anak muridku sekali lagi aku tekankan kepada mereka bahwa belajar itu bisa dari mana saja dan di mana saja.
Bapak kepala sekolah tahun ini mulai memberi hadiah untuk murid yang berprestasi hadiah yang di beri cukup unik bukan sebuah barang atau uang melainkan perjalanan keluar tanjung matol, alasan memberi hadiah seperti ini untuk memberi wawasan pada anak - anak terutama tentang cerita dunia luar.
Ketika mengenal seorang gadis yang bernama Loly, gadis berusia 18 tahun yang memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan di desa Tanjung Matol dan ialah yang juga membantu Martencis mengajar anak anak di Sekolah Dasar. Tidak hanya Loly, tetapi guru-guru yang penuh semangat bersama orang-orang hebat seperti mereka kelak masa depan anak-anak desa Tanjung Matol dapat terukir.
Nama : Adelia Shintia ningrum
NPM : 2213053192
Kelas : 3H

Perbedaan Hard Skills (Keterampilan Teknis) dan Soft Skills (Keterampilan Interpersonal)

1. Definisi
• Hard Skills:
Keterampilan yang terkait dengan pengetahuan dan keterampilan teknis yang dapat diukur dan diukur secara konkrit. Mereka seringkali spesifik untuk suatu pekerjaan atau industri dan dapat diajarkan melalui pendidikan formal atau pelatihan. Contoh hard skills mencakup hal-hal seperti kemampuan pemrograman, bahasa asing, keahlian matematika, atau penggunaan perangkat lunak khusus.
• Soft Skills: Keterampilan ini lebih bersifat abstrak dan terkait dengan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain dan situasi sosial. Mereka melibatkan keterampilan kepribadian dan emosi serta seringkali tidak dapat diukur dengan cara yang sama seperti hard skills. Contoh soft skills mencakup kemampuan komunikasi, kepemimpinan, empati, atau keterampilan manajemen waktu.

2. Pengukuran
• Hard Skills:
Keterampilan teknis dapat diukur dengan cara yang relatif objektif. Misalnya, seorang programmer dapat diukur berdasarkan seberapa baik mereka dapat menulis kode yang berfungsi.
• Soft Skills: Soft skills lebih sulit diukur secara langsung. Penilaian sering kali bergantung pada persepsi, dan mereka cenderung dievaluasi melalui pengamatan perilaku, wawancara, atau tinjauan dari orang lain.

3. Pemahaman
• Hard Skills:
Keterampilan teknis dapat diajarkan dengan cara yang lebih terstruktur melalui pendidikan formal, kursus, buku, dan pelatihan. Mereka seringkali mengikuti pola kurikulum yang jelas.
• Soft Skills: Soft skills cenderung berkembang melalui pengalaman hidup, interaksi sosial, dan refleksi pribadi. Meskipun pelatihan dapat membantu memperkuat keterampilan ini, seringkali mereka lebih ditentukan oleh pengalaman dan situasi sehari-hari.

4. Spesifik vs Universal
• Hard Skills:
Mereka seringkali sangat spesifik untuk pekerjaan atau industri tertentu. Sebagai contoh, kemampuan untuk mengoperasikan mesin tertentu mungkin hanya relevan dalam industri manufaktur.
• Soft Skills: Soft skills adalah keterampilan yang lebih universal dan dapat diterapkan di berbagai konteks dan pekerjaan. Kemampuan berkomunikasi dengan efektif atau bekerja dalam tim, misalnya, berguna di hampir semua jenis pekerjaan.

5. Perubahan seiring waktu
• Hard Skills:
Keterampilan teknis cenderung berubah seiring perkembangan teknologi dan perubahan di industri. Sehingga, seseorang mungkin perlu memperbarui atau memperluas keterampilan mereka sepanjang karier mereka.
• Soft Skills: Soft skills cenderung lebih stabil dan tidak mengalami terlalu banyak perubahan seiring waktu. Mereka sering menjadi aset yang berharga dalam jangka panjang dalam berbagai pekerjaan dan situasi.

6. Keterlibatan dalam tugas
• Hard Skills:
Hard skills langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan teknis. Misalnya, seorang insinyur memerlukan keterampilan teknis khusus untuk merancang struktur bangunan.
• Soft Skills: Soft skills terlibat dalam interaksi sosial, manajemen konflik, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi, yang semua sangat penting untuk berfungsi dengan baik dalam situasi sosial dan tim.

7. Tangible vs Intangible
• Hard Skills:
Keterampilan teknis seringkali lebih mudah diamati secara fisik dan dapat dibuktikan melalui hasil konkrit, seperti produk yang dibuat atau kode yang ditulis.
• Soft Skills: Soft skills cenderung lebih sulit diamati secara fisik, dan dampaknya seringkali bersifat abstrak. Contohnya, kualitas kepemimpinan atau kemampuan berkolaborasi sulit diukur secara langsung.

8. Pelatihan
• Hard Skills:
Keterampilan teknis dapat diajarkan melalui pelatihan formal, kursus, dan sertifikasi yang berstruktur.
• Soft Skills: Soft skills juga dapat diperkuat melalui pelatihan, tetapi pengembangan yang lebih besar sering kali terjadi melalui pengalaman dan refleksi pribadi, seperti belajar dari kesalahan atau mencoba berbagai pendekatan dalam interaksi sosial.

9. Meningkatkan Kerja Tim
• Hard Skills:
Meskipun hard skills penting dalam pekerjaan individu, mereka biasanya tidak langsung berkontribusi pada kemampuan seseorang untuk bekerja dalam tim atau berinteraksi dengan rekan kerja.
• Soft Skills: Soft skills sangat penting dalam meningkatkan kemampuan untuk bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan efektif, dan memecahkan masalah dalam konteks kerja sama.

10. Peran dalam Karier
• Hard Skills:
Hard skills biasanya penting untuk memenuhi persyaratan pekerjaan tertentu, dan pekerja sering kali dinilai berdasarkan tingkat kemahiran teknis yang dimiliki.
• Soft Skills: Soft skills juga penting untuk keberhasilan jangka panjang dalam karier. Mereka dapat berperan dalam promosi, pengembangan kepemimpinan, dan kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan kerja.
Nama : Adelia Shintia Ningrum
NPM : 2213053192
Kelas : 3H

Dalam video nampak seorang murid yang berlaku tidak sopan terhadap guru dengan melemparkan kertas pada gurunya ketika sedang menerangkan didepan papan tulis.
Sikap yang diambil oleh gurunya adalah dengan membuat murid tersebut keluar dari kelas, hal tersebut dilakukan untuk memberikan pembelajaran serta efek jera untuk murid tersebut.

Kemudian Ketika pulang dari sekolah terdapat peserta didik yang sedang bermain serta merokok dan meminum minuman keras.
Sikap yang diambil oleh gurunya setelah mengetahui hal tersebut adalah dengan menasehati kedua murid tersebut.

Dari dua kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan nilai dan moral sangat penting untuk membangun etika dan moral peserta didik di kehidupan sehari-hari.
Selain itu pendidikan Pancasila juga sangat penting diajarkan kepada para peserta didik karena dengan pendidikan Pancasila, peserta didik yang merupakan generasi muda dan penerus bangsa dapat tumbuh menjadi pribadi yang beretika, bermoral, bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta tanah air