Kiriman dibuat oleh MAE LISA INDRIYANI 2253053014

Nama : Mae Lisa Indriyani
NPM :2253053014

Kekerasan di Lingkungan Sekolah, banyak sekali kasus yang tercatat selama tahun 2015-2017. Pertama pada september 2015 siswa kelas 2 SD meninggal dunia akibat perkelahian mulut dengan teman sekelas nya. Kedua Agustus 2017 siswa kelas 2 SD akibat berkelahi dengan teman sekolah dirundung dan dilempar minuman beku. Ketiga November 2017 pada siswa kelas 5 SD saat perlombaan hari guru akibat duel pelaku yang terganggu korban yang menyalakan motor bising. Perkelahian yang terjadi masih dibawah umur yaitu berkisar 12-18 tahun yang mengakhawatir kan tidak hanya guru tetapi peran orang tua dibutuhkan dalam pembinaan. Penggunaan media sosial yang patut diawasi dalam penyebaran informasi yang membawa pengaruh negatif salah satunya penjualan senjata tajam dikalangan smp-sma.
Nama : Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014


"Mengorbankan yang lebih sedikit dibanding mengobarkan yang lebih banyak" dalam konteks ini pada tahun 1967 Philippa Food mengenalkan eksperimen the trolly problem diadaptasi untuk memahami konteks moral dalam berbagai kondisi seperti perang, penyiksaan, aborsi, dll. Pada zaman sekarang ini banyak sekali AI yang dibuat untuk bisa memahami konteks moral pada berbagai kondisi yanv terjadi. Apa mungkin yang selama ini kita pahami tentang konteks moral justru sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu atau diri sendiri untuk menyakiti pihak lain.

Salah satu contoh persoalan moralitas adalah mengorbankan tumbuh kembang anak kita saat ini dengan alasan pekerjaan demi masa depannya sehingga anak lantas menjadi pembantu. Lalu diskriminasi dan stigmatisasi kelompok minoritas oleh kaum mayoritas yang merasa dirinya paling benar paling berkuasa demi kepentingan umum atau kepentingan mayoritas dapat dibenarkan. Apakah perang terhadap sekelompok orang etnis terhadap oknum miliknya pembuat onar dengan menggambarkan orang yang bersalah hanya demi alasan kedamaian dan ketertiban dunia. Dari sinilah kita diberitahu bahwa moralitas yang terlalu sering jadi alat pembenaran saat kita berada di posisi yang diuntungkan atau memiliki kepentingan bukan sebab, pada akhirnya moralitas hanyalah soal egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri dengan membuktikan bahwa kamu lebih memilih untuk menggerakkan kereta yang hanya mengorbankan satu orang daripada 5 orang. Jika diibaratkan yang terbunuh satu orang itu merupakan anggota keluargamu lalu siapa yang akan kamu selamatkan.
Nama: Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014

Dalam kehidupan dewasa ini banyak tuntutan tantangan dan masalah upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia kelangkaan gas yang orang tua tersebut kini gejala dengan munculnya berbagai kenakalan remaja atau orang pelajar dan penggunaan obat terlarang ataupun semacamnya maka diperlukan;

1. Membangun hubungan interpersonal antar bangsa dalam kehidupan sehari-hari kita harus menjalin hubungan antar sesama atau orang-orang yang bertetangga yang berbasis nilai moral yang membentuk saling menghargai dan saling percaya saling menolong dengan tulus untuk menciptakan kehidupan berbangsa Indonesia yang sejahtera masalah bangsa ini memerlukan masyarakat bangsa Indonesia untuk mengubah pola pembinaan sistematis dan terarah dalam membangun interaksi sosial antar warga bangsa yang baik tersebut seyogyanya dibangun melalui lembaga pendidikan formal dengan tidak mengesamkan unsur keluarga masyarakat dalam membangun bangsa ini.

2. Pendidikan generasi muda yang memiliki jati diri Indonesia yang beredar modern dalam pembinaan generasi muda pendidikan berbeda dari zaman ke zaman dalam membina kepribadian upaya membentuk jati diri remaja tidak bisa lepas dari filsafat hidup atau pandangan hidup seseorang cantik generasi muda dapat dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat atau oleh usaha yang terpegang dan direncanakan secara sistematis maupun modern dengan memahami jati diri yang sebenarnya menjadikan diri sendiri tidak tinggi hati rakus maupun berupa daratan justru menjadi lebih rendah hati menghargai makhluk lain dan mempertanggungjawabkan segala sesuatu kepada sang pencipta.

3. Diperlukan pendidikan dalam arti seluas-luasnya yaitu orang tua guru dosen tokoh masyarakat formal maupun non formal artinya pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam upaya memanusiakan manusia yang memiliki jati diri yang khas dari seorang individu.

4. penciptaan suasana yang kondusif aktif efektif komunikatif penuh nilai kreatif dan bertanggung jawab.

5. Peranan strategis pendidikan agama dalam pembentukan perilaku peserta didik dalam kondisi masyarakat yang pluralistis tujuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural dan pluralistis adalah multikulturalisme yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun kebudayaan.

6. faktor-faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia yaitu aspek biologis aspek sosiologis motif sosiogenesis konsepsi manusia dalam psikoanalisis teori behaviorisme.

7. Menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila membina jati diri berwawasan nasional semua nilai-nilai harus di internalisasikan dan diuraikan supaya lebih berhasil dan berdaya guna optimal harus dilandasi ajaran agama yang kuat sebagaimana tercantum dalam sila Pancasila pertama.
Nama: Mae Lisa Indriyani
NPM: 2253053014

Pendidikan moral pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan nilai nilai yang terkandung dalam pancasila. Moral berasal daru kata mos (mores) artinya tabiat, kelakuan, dan kesusilaan. Moral adalah ajaran tentang yang baik dan buruk menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan atau prinsip yang baik benar terpuji dan mulia nilai norma dan moral secara bersamaan mengatur kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya.

Pengertian moral menurut Suseno 1998 adalah ukuran baik buruknya seseorang baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat dan warga negara sedangkan menurut ouska dan whellan 1997 moral adalah prinsip baik buruk yang ada dan melekat dalam diri individu seseorang. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral adalah tuntunan perilaku yang baik yang dimiliki individu sebagai moralitas yang mencerminkan pemikiran sikap dan tingkah laku.

Nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk merujuk pada benda yang abstrak yang artinya keberhargaan kebaikan atau tindakan kejiwaan dalam menilai atau melakukan penilaian. Pada jurnal di atas tujuan dari penerapan nilai moral Pancasila sejak dini dalam mewujudkan generasi anti korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah dengan peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila untuk menghadapi dinamika perubahan dan mengembangkan pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan moral Pancasila sebagai jiwa utama. Fungsi nilai moral dan hukum yaitu mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi diri sendiri dan sesama, sebagai bagian dari masyarakat menarik perhatian pada permasalahan-permasalahan moral yang kurang ditanggapi manusia, menjadi penarik perhatian manusia kepada gejala pembiasaan emosional dari sosialisasi. Penerapan nilai moral Pancasila dalam mewujudkan generasi anti korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah dapat disimpulkan bahwa dengan penanaman nilai moral itu mencegah ajakan atau dorongan negatif untuk melakukan tindak kejahatan sejak dini yaitu korupsi.
Nama : Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014

Penerapan sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari lambang negara Indonesia adalah burung garuda dalam burung garuda terdapat sila Pancasila di tengah burung garuda itu berisi berisi lambang sila Pancasila. Pengalaman sila Pancasila artinya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pengamalan sila pertama berbunyi ketuhanan yang maha esa. Artinya melambangkan bersyukur kepada Tuhan, melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut, tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain, berdoa sebelum dan sesudah makan, dan menghormati agama orang lain.

2. pengamalan sila ke-2 yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, artinya kita semua diajak untuk bersikap saling mencintai sesama manusia, saling tolong-menolong dalam bencana, tidak berbuat kasar kepada orang lain, menolong teman yang kesulitan, dan bersikap sopan kepada orang tua.

3. Pengamalan sila ke-3 yaitu persatuan Indonesia, artinya kita semua diajak untuk cinta terhadap bangsa Indonesia dan tanah air, mengikuti upacara bendera dengan tertib, mencintai dan bangga menggunakan barang atau produk Indonesia, bermain dengan teman secara rukun, melestarikan budaya daerah, dan pertemanan yang tidak membeda-bedakan suku ataupun agama.

4. Pengalaman sila ke-4 yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, artinya diajak untuk bermusyawarah dan menyelesaikan sesuatu masalah, lapang dada dan saling menghargai pendapat, dan musyawarah dalam pemilihan ketua kelas.

5. Pengamalan sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, artinya diajak untuk bersikap adil terhadap sesama, tidak berbuat curang kepada orang lain, menghargai hasil karya orang lain, tidak boros dan suka menabung, melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang, dan bergotong-royong antar sesama.

Masyarakat yang modern saat ini sangat sulit menerima pembaharuan tentang perubahan sikap, dikatakan terlalu agama maupun sok mengatur. Maka perbaiki dulu lingkungan yang akan kita tempati, memilih lingkungan yang positif juga akan membangun jati diri dan kepribadian yang positif. Jika sangat sulit menemukan lingkungan yang positif, maka tanamkan dalam diri sendiri bahwa tingkah laku, perbuatan maupun perilaku yang buruk akan berimbas di masa yang akan mendatang, melakukan perubahan dan penanaman nilai dan moral saat ini perlu sekali ada niat dalam diri sendiri. Jika kelas kita tidak memperbaiki moral dan nilai bagaimana dengan peserta didik yang akan kita ajarkan sebagai calon guru nanti.