Kiriman dibuat oleh DEVI KELANA RINDU BINTARA 2213053095

Nama: DEVI KELANA RINDU BINTARA
NPM: 2213053095

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern

Tingkat kekerasan yang meningkat di Indonesia merupakan masalah serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Salah satu penyebab yang mungkin adalah pengasuhan di rumah dan pengelolaan kelas oleh guru. Namun, penting untuk diingat bahwa tindakan kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan.

Selain itu, kurangnya keseimbangan antara kemampuan mengelola emosi anak dan kemampuan intelektualnya juga bisa menjadi penyebab. Terlalu fokus pada aspek akademik tanpa memperhatikan karakter dan moral anak dapat berdampak negatif.

Pengembangan karakter yang baik sangat penting. Ini bisa dimulai dengan penanaman etika dan moral sejak dini di lingkungan keluarga, dan juga melalui pendidikan nilai dan moral di sekolah. Dengan demikian, anak dapat belajar mengendalikan emosi, perilaku, dan memahami konsekuensi dari tindakan mereka. Upaya ini penting untuk menciptakan generasi yang lebih baik dan mencegah tingkat kekerasan yang meningkat.
Nama: DEVI KELANA RINDU BINTARA
NPM: 2213052095

A. Identitas Jurnal
Judul jurnal: PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Penulis: Enung Hasanah
Tahun Terbit: 2019
Bulan Terbit: September
Nomor: 2
Volume: 6
Kata Kunci: teori kohlberg, SD, moral

B. Isi Jurnal
Pendidikan moral adalah hal yang sangat penting, berfungsi sebagai kontrol dalam masyarakat dan alat untuk mencapai potensi diri. Banyak di antara kita, termasuk filsuf, orang tua, dan pendidik, percaya bahwa kedua fungsi moralitas tersebut saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk perkembangan anak-anak kita, dan sebaliknya.

Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral
merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.

Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak
mengenai kematangan moral. Memang seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil keduanya barangkali tidak mau mencuri mangga. Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran
yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam
pendangan moral orang tersebut.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
• Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
• Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.
Level 2. Moralitas Konvensional
• Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
• Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
• Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan.
• Tahap 6 - Prinsip Universal.
Nama: DEVI KELANA RINDU BINTARA
NPM : 2213053095

A. Identitas Jurnal
Judul Jurnal: Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global
Nama Jurnal: Cakrawala Pendidikan
Penulis: Sudiati
Tahun Terbit: 2009
Nomor Halaman: 2, 209-221

B. Isi Jurnal
Untuk menciptakan sebuah bangsa yang memiliki reputasi ganda, diperlukan upaya yang mencakup pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi, sekaligus pengembangan aspek-aspek lain seperti kepribadian dan etika moral. Semua ini dapat disebut sebagai pengembangan pendidikan nilai, yang seharusnya menjadi bagian integral dari seluruh upaya pendidikan.

Meskipun ada persamaan dalam pelaksanaan pendidikan nilai moral di empat negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina), perbedaan juga terjadi karena perbedaan ideologi masing-masing negara. Pendidikan nilai moral pada tingkat dasar memiliki fokus yang serupa, yaitu membentuk nilai-nilai kepribadian individual dan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, pendidikan nilai moral di negara-negara ini juga menghadapi berbagai tantangan, baik yang terintegrasi dalam kurikulum maupun yang tidak. Terdapat juga pendidikan nilai moral yang lebih terkait dengan pendidikan agama dan kewarganegaraan.

Untuk menerapkan konsep pendidikan nilai, berbagai metode dapat digunakan, termasuk metode langsung seperti dogmatis, deduktif, induktif, atau reflektif, serta metode tidak langsung.
Pendidikan harus memiliki pandangan ke depan dan kemampuan untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan global. Selain itu, perlu menjaga perilaku etis yang sesuai dengan keberagaman dan keunikan budaya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sastrapratedja, untuk menciptakan bangsa yang memiliki reputasi ganda seperti itu, kita tidak hanya perlu mengembangkan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga perlu mengembangkan aspek lainnya, seperti kepribadian dan etika moral. Ini disebut sebagai pengembangan pendidikan nilai. Dalam kerangka pengembangan nilai ini, terdapat berbagai klasifikasi nilai yang mencakup nilai-nilai terminal dan instrumental, intrinsik dan ekstrinsik, personal dan sosial, serta subjektif dan objektif. Nilai-nilai ini terkategori ke dalam enam klasifikasi utama dan menghadirkan enam dunia makna yang berbeda, melibatkan nilai-nilai teoretis, ekonomis, estetis, sosial, politik, dan agama.
Nama : DEVI KELANA RINDU BINTARA
Npm : 2213053095
Kelas : 3G


Terdapat 6 tahapan perkembangan moral menurut Lawrence Kholberg

Menurut Lawrence Kohlberg tahapan perkembangan moral dibagi menjadi 3 level , masing-masing tingkatan mempunyai 2 tahap, sehingga total ada 6 tahap.

Pra-Konvensional
1. Menghindari hukuman
Seseorang mempunyai alasan untuk bertindak atau tidak bertindak untuk menghindari hukuman. Misalnya, ketika seseorang gagal menerobos lampu merah di jalan raya, hal tersebut hanya dilakukan karena tidak ingin dikejar polisi dan didenda.
2. Keuntungan dan minat pribadi
Pada tahap ini seseorang memikirkan tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.

Konvensional
3. Menjaga sikap sebagai orang baik
Seseorang memikirkan tatanan sosial yang ada dan apa pendapat orang lain tentangnya.

4. Memelihara aturan
Apabila tidak ada yang menaati aturan, keadaan jadi kacau. Oleh sebab itu kita harus menghormati Peraturan tersebut. Misalnya saja ketika pengawas kelas turun tangan ketika teman-temannya sedang berkelahi.

Pasca-konvensional
5. Orientasi kontrak sosial
Setiap individu mempunyai latar belakang dan keadaan yang berbeda-beda. Tidak ada pertaruhan yang mutlak atau pasti ketika mempertimbangkan suatu kasus. Hak-hak individu harus diperhatikan sesuai dengan hukum yang berlaku.

6. Prinsip Moral Universal
Tahap ini menggambarkan prinsip batin seseorang. Ia melakukan apa yang menurutnya benar, meskipun itu bertentangan dengan hukum yang sudah ada.
Nama : Devi Kelana Rindu Bintara
Npm : 2213053095
Kelas : 3G

Hasil Analisis Video I

Pada tahun 1967, Philippa Foot memperkenalkan sebuah eksperimen yang dikenal sebagai "trolly problem." Eksperimen ini mengajak kita untuk merenungkan lebih mendalam mengenai konsekuensi dari suatu pilihan, dimana terkadang diperlukan pengorbanan demi kepentingan yang lebih besar. Hal ini mengakibatkan moral seringkali digunakan sebagai alat untuk melegitimasi tindakan-tindakan seperti perang, penindasan etnis tertentu, diskriminasi terhadap minoritas, kerusakan lingkungan, industrialisasi, dan lain sebagainya. Semua ini dilakukan dengan dalih demi perdamaian dunia, kepentingan umum, atau kelompok yang lebih besar. Karena sebagian besar orang berpikir bahwa mengorbankan sedikit demi kepentingan yang lebih besar adalah hal yang dapat diterima, maka tindakan tersebut sering dianggap benar dan moral.

Apa yang kita telah pahami selama ini mengenai moral seringkali dimanfaatkan oleh pihak tertentu, bahkan oleh diri kita sendiri, untuk menyakiti orang lain. Pertanyaannya, apakah mengorbankan sebagian untuk kepentingan yang lebih besar selalu merupakan pilihan yang lebih baik? Apakah kita dapat menyetujuinya atau membiarkannya terjadi hanya karena tindakan tersebut tidak dilakukan oleh tangan kita sendiri?

Kita dapat menggunakan kasus trolly problem sebagai cara untuk mengajukan pertanyaan tentang moralitas terkait dengan isu-isu seperti diskriminasi dan stigmatisasi terhadap kelompok minoritas oleh mayoritas yang merasa superior, dengan dalih demi kepentingan umum atau mayoritas. Apakah perang melawan sekelompok orang atau individu yang dianggap sebagai penyebab masalah, dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah demi alasan perdamaian dan ketertiban dunia, benar-benar merupakan pilihan yang lebih bermoral?

Semua ini membawa kita pada pemahaman bahwa moralitas terlalu sering digunakan sebagai alat pembenaran ketika kita berada dalam posisi yang menguntungkan atau memiliki kepentingan pribadi atau kelompok. Pada akhirnya, moralitas sering kali dapat dikaitkan dengan egoisme manusia dan kepentingan pribadi atau kelompok.