Kiriman dibuat oleh RIRI OKTAVIA ERLINA 2213053098

Nama : Riri Oktavia Erlina
Npm : 2213053098
Kelas : 3I

Analisis Video 2
"Pendidikan Moral di Sekolah Dasar"

Dalam kondisi indonesia akhir akhir ini telah menunjukkan terjadinya degradasi moral anak pelajar karena kurangnya kualitas personal bangsa terutama pada generasi muda atau generasi millenial yang memfaktorkan gejala-gejala adanya pengaruh degradasi moral tersebut. Karena pada dasarnya moral adalah akhlak kesusilaan seseorang dalam kehidupan bersosialisasinya, nilai-nilai moral yang menjadi alat untuk mengubah manusia indonesia menjadi lebih baik dengan keunggulan dan kecerdasan dalam berbagai bidang, serta kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan logis, musikal, linguistik, kecerdasan khusus. Di indonesia saat ini banyak dibicarakan tentang isu penting pendidikan moral akhir akhir ini yang banyak melatar belakangi mengapa pendidikan moral harus diutamakan dalam pembelajaran kurikulum sekolah dasar di indonesia ini. Karena halnya sekolah dasar adalah sebagai institusi pendidikan yang formal dalam memegang peran serta tanggung jawab terhadap menanamkan pendidikan moral karena sampai sekarang pendidikan masih dipercaya sebagai sarana untuk mengenalkan diri dan menanamkan nilai nilai moral kepada anak tetapi tidak dapat di kecuali kan juga terdapat berbagai macam masalah yang masih terjadi di dalam lembaga pendidikan di indonesia yang dalam hal nya mau fasilitasi anak untuk melatih diri dan berbuat sesuai dengan nilai nilai moral yang belum terpenuhi di indonesia sehingga adanya ungkapan bahwa lembaga pendidikan telah dianggap kurang mampu untuk membentuk suatu anak bangsa yang memiliki akhlak, moral serta budi pekerti yang baik. Pendidikan moral saat ini harus diajarkan kepada anak diawali saat mereka sedang berada di dalam lingkungan keluarga yang terutama nya adalah peran orang tua dengan melalui proses pengenalan diri sosialisasi norma dalam keluarga serta lingkungan dekat di luar rumah dengan menanamkan keadaan yang selaras, tenang dan penuh kasih sayang serta tanpa perselisihan dan saling menerima perbedaan menjadikan situasi dan kondisi penerapan pendidikan moral dalam keluarga ini menjadi hal yang tepat dalam mengajarkan apa itu moral saat anak masih Sekolah Dasar agar mereka bisa hidup bersosialisasi. Pendidikan moral ini sangat penting diterapkan di sekolah dasar karena jiwa bersosialisasi yang baik tepat diajarkannya pada saat anak sekolah di sekolah dasar karena pada sedari dini kita harus mengajarkan pentingnya moral bagi kehidupan masa depannya karena sekolah adalah tempat bersosialisasi kedua setelah keluarga, sekolah memiliki peran besar dalam menumbuhkan kesadaran moral pada diri anak dan penanaman kebiasaan bersikap baik ataupun sebaliknya, pada saat tahap awal pertumbuhan anak sering kali dapat sangat terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Solusi saat ini adalah dengan cara bagaimana kita menerapkan yang sebenarnya bahwa pendidikan moral itu terdapat pada setiap diri manusia kita juga harus menciptakan sekolah yang dilandasi dengan nilai nilai moral yang bisa dapat kita mulai dari mana saja sesuai dengan peran masing masing karena salah satu bagian yang penting yang harus kita perhatikan untuk mendorong arah perkembangan sekolah yang berlandaskan moral dengan melalui penanaman pendidikan moral dalam proses pembelajaran di sekolah dasar yang mengimplementasikan pendidikan moral Dalam pembelajaran yang bisa kita terapkan dalam berbagai metode. Ada banyak bagian sekolah yang bisa menjadi sarana pendidikan moral. Salah satu bagian dari sekolah yang menjadi sarana pendidikan moral adalah tata tertib sekolah, disiplin sekolah, sebagai bentuk tatanan hirarkis terendah, mencakup aspek pendidikan moral dan aturan hukum. Aturan yang dibuat tidak hanya legal secara formal, tetapi membutuhkan moralitas yang harus diikuti tentangnya. Hubungan ini berkaitan erat dengan sifat dan isi ketentuan. Pengenalan nilai-nilai moral pada mata pelajaran memerlukan upaya optimal untuk menjaga ketertiban, sehingga pelaksanaannya tidak hanya bersifat konstitusional, tetapi juga hakekat pendidikan moral. Persoalan menarik tentang perkembangan nilai moral anak adalah bahwa perkembangan nilai moral anak tidak sebatas menemukan dan menciptakan bentuk-bentuk interaksi sosial yang sangat bermanfaat dan positif bagi pertumbuhan dan perkembangannya, untuk bisa menjadi pribadi yang bermoral yang pertama adalah disiplin, lalu yang kedua adalah keterikatan pada lembaga sekolah dan lingkungan ketiga adalah otonomi. Ketiga unsur ini dibutuhkan setiap anak untuk bisa menjadi pribadi yang bermoral, dan tindakan moral pada hakikatnya merupakan fokus sentral dari dunia moral, yang akan membentuk kepribadian yang bertanggung jawab, disiplin, serta menjadi pribadi yang baik dalam lingkungan masyarakat, dan menghindari perilaku yang tidak baik, sesuai dengan cara berpikir moral yang telah diberikan, nilai-nilai moral dalam kehidupan anak yang pada akhirnya bermuara pada perilaku moral dalam kehidupan sehari-harinya. Namun yang tak kalah pentingnya, bahkan lebih penting dan sangat strategis dari yang pertama, adalah menciptakan dalam diri siswa saat sekolah dasar yang cerdas kemampuan untuk memahami dan menemukan nilai-nilai moral dalam dinamika interaksi sosial yang penuh tantangan dan tantangan. Dalam goncangan moral, apalagi dalam kondisi sosial yang demikian, yang dianggap tidak mendukung tumbuh kembangnya nilai-nilai moral, pendidikan moral harus diberikan, karena keteladanan dan nilai-nilai kehidupan masyarakat, tata krama dan norma sangat menentukan individu secara keseluruhan, diri atau identitas manusia, lingkungan sosial dan kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan yang bernilai yang mengarah pada pembentukan moralitas menurut standar kebenaran sangat penting bagi perkembangan umum seseorang dalam konteks sosialnya. Ini adalah pengingat bahwa dunia pengaruh dalam diri setiap orang harus selalu dipupuk secara berkelanjutan, terkelola dan terencana karena sifatnya yang tidak stabil dan kontekstual. Secara umum, tujuan pendidikan di sekolah dasar adalah suatu nilai dapat mempromosikan dan mendorong nilai dan standar moral, menumbuhkan dan memperluas struktur nilai keyakinan seseorang atau kelompok, meningkatkan kualitas hidup orang, kelompok atau orang, untuk mencegah, meminimalkan dan menghilangkan hal-hal negatif.

Pendidikan moral di sekolah dasar sangat diperlukan sejak dini karena menurut pendapat Emile Durkheim, ketika fase masa kanak-kanak selesai, maka pondasi moralitas tidak akan diletakkan, maka fondasi moralitas tidak akan pernah berakar pada moralitas. Anak (Durkheim, Lukas Ginting 1990:13). Sekolah memiliki fungsi yang sangat penting dan khusus bagi Durkheim; untuk menciptakan makhluk baru yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Durkheim berusaha untuk memahami kebutuhan anak, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan moral, metode apa yang digunakan untuk anak, agar siswa memahami dan menerima pendidikan moral ini. Hubungan sosial dengan "moralitas" berjalan seperti benang merah melalui tulisan-tulisannya. Moralitas adalah fakta sosial itu sendiri. Efek langsung dari pendidikan adalah diperolehnya pengetahuan yang luas. Pendidikan memberi orang pelajaran penting tentang dunia di sekitar mereka dan mengembangkan perspektif tentang cara memandang kehidupan. Pendidikan sejati berasal dari pelajaran kehidupan. Itulah sebabnya banyak pemerintah yang mendorong pendidikan yang baik sejak dini agar mereka memiliki sumber daya manusia yang baik ketika mereka besar nanti. Kehadiran pendidikan dapat menghilangkan keyakinan yang salah dalam pikiran kita. Selain itu, ini juga dapat membantu untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hal-hal di sekitar kita dan juga dapat menjernihkan semua kebingungan. Orang yang berpendidikan tinggi biasanya lebih pandai memecahkan suatu masalah karena telah belajar melalui pendidikan kehidupan. Suatu kenyataan bahwa tidak semua guru mencerminkan perilaku atau sikap moral yang baik. Banyak guru yang menampakkan keegoisannya, mungkin mereka lupa bahwa sosok seorang guru adalah orang yang secara sengaja/tidak sengaja keseluruhan aspek kepribadiannya akan ditiru murid nya. Oleh karna itu proses modeling perlu dikondisikan baik melalui tata cara berbicara, sikap, pendiriannya, kedisiplinan ibadah, dan lain sebagainya, baik berlaku untuk pendidik maupun orang tua. Pendidik atau pengajar dapat dikatakan berhasil bila anak mengalami proses perubahan. Artinya perunahan tentang pendidikan moral belum menjamin tercapainya perkembangan moral yang baik, evaluasi harus selalu di kembangkan pada semua ranah dan harus dilakukan pada seluruh mata pelajaran. Maksudnya keberhasilsn pendidikan moral jangan dibebankan pada mata pelajaran pendidikan agama atau pendidikan moral saja, akan tetapi setiap mata pelajaran harus mempunyai kurikulum tersimpan yang disusun oleh guru masing masing mata pelajaran. Setiap guru harus mempunyai misi untuk membantu anak didiknya mencapai moral yang sempurna dan jangan menganggap bahwa pendidikan moral itu hanya tugas guru agama saja. Selain mengajar guru juga harus mempunyai tugas memberikan informasi tentang materi pelajaran, juga bertanggung jawab secara moral untuk membantu anak didik menjadi manusia yang sempurna baik jasmani maupun rohani, dan mampu memenuhi tugasnya sebagai makhluk tuhan, dan makhluk sosial.

Moral adalah akhlak kesusilaan seseorang dalam kehidupan bersosialisasinya, nilai-nilai moral yang menjadi alat untuk mengubah manusia indonesia menjadi lebih baik dengan keunggulan dan kecerdasan dalam berbagai bidang, serta kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan logis, musikal, linguistik, kecerdasan khusus, nilai-nilai moral dalam kehidupan anak yang pada akhirnya bermuara pada perilaku moral dalam kehidupan sehari-harinya. Namun yang tak kalah pentingnya, bahkan lebih penting dan sangat strategis dari yang pertama, adalah menciptakan dalam diri siswa saat sekolah dasar yang cerdas kemampuan untuk memahami dan menemukan nilai-nilai moral dalam dinamika interaksi sosial yang penuh tantangan dan tantangan. Persoalan menarik tentang perkembangan nilai moral anak adalah bahwa perkembangan nilai moral anak tidak sebatas menemukan dan menciptakan bentuk-bentuk interaksi sosial yang sangat bermanfaat dan positif bagi pertumbuhan dan perkembangannya, Moralitas adalah fakta sosial itu sendiri. Efek langsung dari pendidikan adalah diperolehnya pengetahuan yang luas. Keberhasilan pendidikan moral jangan dibebankan pada mata pelajaran pendidikan agama atau pendidikan moral saja, akan tetapi setiap mata pelajaran harus mempunyai kurikulum tersimpan yang disusun oleh guru masing masing mata pelajaran. Setiap guru harus mempunyai misi untuk membantu anak didiknya mencapai moral yang sempurna Setiap orang tua dan Pendidik harus mampu untuk memahami kebutuhan anak, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan moral, dengan metode apa yang digunakan kita untuk anak, agar siswa memahami dan menerima pendidikan moral ini. Hubungan sosial dengan "moralitas" berjalan seperti benang merah melalui tulisan-tulisannya.
Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098
Kelas : 3I

Analisis Jurnal 2

Identitas jurnal
Halaman : 1-10
Nama penulis : : Lia Yuliana, M.Pd
Judul : Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini


Menurut Sjarkawi, 2005: 29 Nilai moral diartikan sebagai isi mengenai keseluruhan tatanan yang mengatur perbuatan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan manusia dalam masyarakat berdasarkan pada ajaran nilai, prinsip dan norma.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000: 52-55) nilai moral memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Berkaitan dengan tanggung jawab kita
2. Berkaitan dengan hati nurani
3. Mewajibkan
4. Bersifat formal
Nilai-nilai moral yang bersifat objectivistic dikategorikan sebagai moral kesusilaan, seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan, tanggung jawab dan lain-lain. Adapun nilai-nilai moral yang bersifat relativistic
dikategorikan sebagai moral kesopanan, seperti berbicara secara sopan, hormat kepada orang yang lebih tua, tidak bertamu pada jam istirahat dan sebagainya.

Menurut Isjoni, 2009: 19-24, Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami
proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Anak usia dini merupakan anak yang berusia 0-6 tahun.

Hamid Darmadi, (2007: 56-57) Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
dapat dilakukan dengan berbagai macam metode yaitu:
1. Metode Bermain
2. Metode Bercerita
3. Metode Pemberian Tugas
4. Metode Bercakap-cakap

Cara Pelaksanaan Penanaman Nilai-nilai moral pada anak usia dini dapat diselenggarakan melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang Sekolah Dasar. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal.
Pada jalur pendidikan formal cara penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dengan jadwal tatap muka yang ditentukan yaitu meliputi :
1. Persiapan Kegiatan Pembelajaran
2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran (Penataan lingkungan bermain, Kegiatan Inti Pembelajaran, Kegiatan Penutup)
Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098
Kelas : 3I

Analisis Jurnal 1

Identitas jurnal
Nama jurnal: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD FKIP Unsyiah
Volume: 1
Nomor: 1
Tahun: 2016
Judul: Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Siswa di Sd Negeri Lampeuneurut
Penulis: Ruslan, Rosma Elly, Nurul Aini

Penanaman nilai-nilai moral bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral yang mulai luntur di lingkungan anak-anak akibat pengaruh buruk yang mereka dapatkan sehingga diharapkan anak-anak di masa yang akan datang mempunyai moral yang baik, karena kalau dibiarkan semenjak kecil maka akan mungkin menghancurkan generasi-generasi muda pada masa yang akan datang.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan merosotnya moral anak, diantaranya yaitu: “a) Penyalahgunaan sebagian ajaran moral, b) Penyalahgunaan Konsep- Konsep Moral, c) Masuknya Budaya Westernisasi (budaya kebarat-baratan), d) Perkembangan Teknologi, e) Lemahnya Mental Generasi Bangsa, dan f) Kurangnya Materi Aplikasi tentang Budi Pekerti” (dalam Anggun,2013:5).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Nilai moral yang banyak ditanamkan yaitu kebiasaan berdoa sebelum memulai pelajaran, tidak membedakan siswa yang pintar dan kurang pintar, mengajarkan saling menghargai perbedaan pendapat, mengajarkan melakukan sendiri tugas yang menjadi tanggung jawabnya, mengajarkan sikap berani dan sportif, dan mengajarkan pentingnya pembagian tugas piket secara bergiliran. Sedangkan untuk nilai-nilai moral yang tidak banyak ditanamkan yaitu mengajarkan sikap baris-berbaris yang tertib, tidak membedakan perlakuan antara siswa laki-laki dan perempuan saat pembelajaran, mengajarkan mengoreksi hasil ulangan/soal secara jujur, dan mengajarkan menjaga lingkungan hidup.

Penanaman nilai-nilai moral bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral yang mulai luntur di lingkungan anak-anak akibat pengaruh buruk yang mereka dapatkan sehingga diharapkan anak-anak di masa yang akan datang mempunyai moral yang baik, karena kalau dibiarkan semenjak kecil maka akan mungkin menghancurkan generasi-generasi muda pada masa yang akan datang. Guru menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa melalui semua mata pelajaran, dengan cara menyisipkan nilai- nilai moral tertentu, maupun guru itu sendiri yang menjadi contoh panutan karena jika guru memberikan contoh yang konkret kepada siswa maka akan lebih cepat untuk diterima.

Nilai kemandirian: Mengajarkan melakukan sendiri tugas yang menjadi tanggung jawabnya seperti member latihan individu tanpa ada yang menyontek dan apabila kedapatan akan diberi sanksi yang tegas. Nilai tanggung jawab: Mengajarkan Pentingnya pembagian tugas tugas piket secara bergiliran, karena tidak akan menciptakan kecemburuan diantara masing-masing siswa apabila semua siswa mendapatkan piket dan pekerjaan yang dilakukan bersama-sama akan cepat selesai.
Nilai gender: Mengajarkan tidak membedakan perlakuan antara siswa laki-laki dan perempuan karena semua sama di mata seorang guru dan memberi kesempatan yang sama kepada keduanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Nilai keadilan: tidak membedakan siswa yang pintar dan kurang pintar karena tugas guru membimbing semua siswanya agar menjadi pintar jadi tidak ada perlakuan yang berbeda antara siswa yang pintar dan kurang pintar hanya saja memberi lebih banyak bimbingan/arahan kepada siswa yang kurang pintar.
Daya juang: mengajarkan sikap berani dan sportif, ini terlihat ketika di dalam kelas siswa berani bahkan berebut untuk maju ke papan tulis menyelesaikan soal dan berani mengemukakan pendapatnya. Hidup sehat: dengan mengajarkan hidup sehat akan menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman dalam belajar. Dan sopan- santun: merupakan hal yang sangat perlu diajarkan kepada siswa karena di dalam kehidupan sehari-hari siswa harus bersikap sopan baik kepada guru maupun teman-temannya.

Adapun nilai-nilai moralitas dan budi pekerti yang perlu ditanamkan pada jenjangSekolah Dasar adalah sebagai berikut:
1). Nilai Religius
2). Nilai Sosialitas
3).Nilai Gender
4). Nilai Keadilan
5). Nilai Demokrasi
6). Nilai Kejujuran
7). Nilai Kemandirian
8). Nilai Daya juang
9). Nilai Tanggung jawab, dan
10). Nilai Penghargaan terhadap lingkungan”
(dalam Zuriah, 2007:46-50).
Nama : Riri Oktavia Erlina
Npm : 2213053098
Kelas : 3I

Analisis Video 1
"Pendidikan Moral Tanggung Jawab Diri Dalam Keluarga"

Tanggung jawab dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang berhubungan dengan sikap pertanggung jawaban seorang individu atas perbuatan yang dilakukannya. Sehingga rasa tanggung jawab harus diterapkan maupun ditanamkan pada setiap individu. Rasa tanggung jawab, pada dasarnya diklasifikasikan menjadi tiga tingkat, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan alam sekitar. Keluarga merupakan dalam lingkup masyarakat yang lebih kecil. Umumnya, keluarga terdiri dari orang tua, anak, dan orang lain yang mejadi anggota keluarga. Setiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya.
Pendidikan dalam keluarga merupakan fondasi pembentuk watak kepribadian anak. Dalam kehidupan kesehariannya, banyak anak berkumpul dengan keluarga. Segala tingkah laku orang tua terutama
orang tuanya akan ditiru oleh anak, sebab anak merupakan peniru yang
ulung. Apabila obyek peniruannya jelek, orang tua tidak memberikan
kasih sayang yang mampu dan tidak memberikan teladan yang baik, serta jauh dari nuansa agama, maka jangan berharap kedua orang tuanya akan menunai buah hasil yang baik. Jernih memilih tanggung jawab merupakan kesadaran seseorang terhadap pekerjaannya baik di lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat.
Tanggung jawab dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang berhubungan dengan sikap pertanggung jawaban seseorang atas perbuatan yang dilakukannya. Sehingga rasa tangung jawab harus diterapkan maupun ditanamkan pada setiap individu. Rasa tanggung jawab, pada dasarnya diklasifikasikan menjadi tiga tingkat, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan alam sekitar. Tanggung jawab dalam keluarga, keluarga merupakan masyarakat dalam lingkup yang lebih kecil. Umumnya, keluarga terdiri dari orang tua, anak, dan orang lain yang mejadi anggota keluarga. Setiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya beberapa contoh sikap tanggung jawab dalam keluarga, yaitu:
menjaga nama baik keluarga, memelihara kebersihan, kenyamanan, keamanan dalam keluarga, memathui aturan yang ditetapkan bersama, bertingkah laku sesuai norma dan aturan yang berlaku dalam keluarga, menjaga keharmonisan keluarga dengan saling menghargai, dan menghormati.
Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098

Analisis Jurnal 2

• Identitas Jurnal
Nama jurnal : Jurnal Pengabdian Dharma Laksana Mengabdi Untuk Negeri
Nomor : 1
Volume : 3
Halaman : 79 - 84
Tahun terbit : 2019
Nama penulis : Ahmad Yani Nasution, Moh Jazuli
Judul : MENANGKAL DEGRADASI MORAL DI ERA DIGITAL BAGI KALANGAN MILLENIAL

• Pembahasan
Sebuah perguruan tinggi berkewajiban melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi berupa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (P3KM) . Diharapkan dengan P3KM tersebut keberadaan perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi besar kepada pengembangan keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan PKM yang dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat program studi Manajemen Universitas Pamulang dengan tema “Menangkal Degradasi Moral di Era Digital bagi kalangan Millenial di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogo Bogor terlaksana dengan baik sesuai dengan yang direncanakan.

Diharapkan PKM yang dilaksanakan dengan sasaran Siswa di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogo Bogor ini dapat bermanfaat kepada semua pihak yang terlibat baik secara langsung ataupun tidak. Selain itu diharapkan PKM ini dapat menginspirasi berbagai pihak untuk terus mendukung berbagai kegiatan yang serupa.