Kiriman dibuat oleh Nura Assyifa 2213053134

Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Hasil Analisis Video 1,
"Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral"

Kesadaran nilai moral mengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang atas perilakunya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di masyarakat. Kemajuan teknologi yang menjadikan banyak generasi muda Indonesia beranjak untuk meninggalkan nilai-nilai yang telah ada, sehingga terjadi penurunan nilai, moral dan etika di kalangan anak muda Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan moral sangat penting disosialisasikan kepada seluruh peserta didik demi kemajuan bangsa. Pendidik yang menjadi peran penting dalam menanamkan moral melalui pelajaran PKn dalam meningkatkan pendidikan Nilai dan Moral, pembelajaran PKn penting untuk,
• Pembangunan watak atau karakter peserta didik,
• Secara makro PKn juga merupakan wahana sosial- pedagogis pencerdasan kehidupan bangsa,
• Sebagai acuan penerapan keberhasilan pendidikan moral di sekolah.
• Jembatan untuk menuju pendidikan moral yang baik

Pendekatan Yang harus dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik yaitu memberikan, indoktrinasi, teladan atau contoh, klarifikasi nilai, pembiasaan dalam perilaku.

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan yaitu,
• Memberikan pengertian, pengetahuan, dan pemahaman tentang Pancasila
• Menanamkan nilai-nilai moral Pancasila ke dalam diri anak didik
• Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila
• Menggugah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan warga
• Memberiakan motivasi agar dalam setiap langkah laku lampahnya bertindak dan berperilaku sesuai Pancasila
• Mempersiapkan anak didik untuk menjadi warga negara dan warga masyarakat Indonesia yang baik
• Pembangunan watak dan karakter
Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Hasil Analisis Jurnal,
"PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI SECARA KOMPREHENSIF SEBAGAI SUATU ALTERNATIF PEMBENTUKAN AKHLAK BANGSA"

Abstract
A single approach of values education is considered to be ineffective, that is why it is needed a comprehensive one. The development of students' personality should be holistic in nature, including the intelectual~ emotional, and spiritual intelligence. Four important substances of value~ education are values realization, character education, citizenship education, and moral education. Various programs are needed to help young people develop their "life skills".

Pendekatan Komprehensif istilah komprehensif yang digunakan
dalam pendidikan nilai mencakup berbagai aspek. Pertama, isi pendidikan nilai harus komprehensif, meliputi semua permasalahan yang berkaitan dengan nilai mulai pilihan nilai-nilai yang bersifat pribadi sampai
pertanyaan-pertanyaan yang mengenai etika secara umum. Kedua, metode pendidikan nilai juga harus komprehensif, termasuk didalamnya inkulkasi (penanaman) nilai, pemberian teladan, dan penyiapan generasi muda agar dapat mandiri dengan mengajarkan dan memfasilitasi pembuatan keputusan moral secara bertanggung jawab dan keterampilan-keterampilan hidup yang lain. Ketiga, Pendidikan nilai hendaknya terjadi dalam keseluruhan proses pendidikan. Di kelas, dalam kegiatan ekstrakurikuler, dalam proses bimbingan dan penyuluhan, dalam upacara-upacara pemberian penghargaan dan semua aspek kehidupan. Yang terakhir, pendidikan nilainya hendaknya terjadi melalui kehidupan dalmn masyarakat. Orang tua, lembaga keagamaan, penegak hukum, polisi, organisasi masyarakat, semua perlu berpartisipasi dalam pendidikan nilai.

1. Realisasi nilai
Realisasi nilai merupakan istilah yang diutarakan oleh Sidney Simon pada tahun 1980. Hal ini merupakan gerakan utama yang pertama dalam bidang pendidikan nilai. Semua pendekatan untuk menolong individu menentukan, menyadari, mengimplementasikan, bertindak dan mencapai nilai-nilai yang mereka yakni dalam kehidupan, termasuk pendekatan realisasi nilai.

2. Pendidikan Watak
Tujuan pendidikan watak adalah
mengajarkan nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini juga digambarkan sebagai perilaku moral. Jika orang mengatakan bahwa kita perlu mengajarkan nilai-nilai kepada anak, biasanya yang dimaksudkan adalah nilai-nilai tradisional atau perilaku moral.

3. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan nilai atau moral juga ditunjukan untuk mengajarkan nilai-nilai yang menjadi dasar negara, yang menjadi dasar hukum dan politik. Di Indonesia, nilai-nilai Pancasila telah di ajarkan di semua jenjang pendidikan. Lingkungan sosial yang kurang kondusif juga merupakan faktor utama yang menghambat pengamalan nilai-nilai Pancasila.

4. Pendidikan Moral
Tujuan utama pendidikan moral adalah menghasilkan individu yang otonom, yang memahami nilai-nilai moral dan memiliki komitmen untuk bertindak konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Pendidikan moral mengandung beberapa komponen, yaitu: pengetahuan tentang moralitas, penalaran moral, perasaan kasihan dan mementingkan kepentingan orang lain, dan tendensi moral.

Kesimpulan
Pendidikan nilai dengan pendekatan komprehensif dipandang sesuai untuk di terapkan, karena pada masa sekarang ini kehidupan sudah semakin kompleks dan perubahan di segala segi kehidupan berlangsung dengan sangat cepat. Dilihat dari segi materinya, pendidikan nilai dan moral Indonesia sudah cukup komprehensif, karena nilai-nilai fundamental yang dapat menuntun ke arah pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat untuk seluruh umat manusia telah di sampaikan kepada subjek didik di semua jenjang pendidikan, melalui Pendidikan Agama dan Pendidikan Moral Pancasila.
Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Hasil Analisis Jurnal,
"PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH"

Abstrak
Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.

PENDAHULUAN
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik.

METODE PENELITIAN
Tulisan ini merupakan gabungan antara teori dan hasil penelitian lapangan. Rangkuman berbagai teori diambil dari hasil pemikiran dan penelitian para pakar pendidikan moral seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona, Darmiyati Zuchdi dan Nurul Zuriah yang kemudian diinterpretasi dan disintesiskan oleh penulis sehingga diperoleh kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pendidik Moral di Sekolah
Guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.

2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).

3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. metode yang lebih sesuai di era modern yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga dengan berbagai cara. Kirschenbaum mengetengahkan 34 cara inkulkasi nilai, di antaranya adalah identifikasi nilai- nilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita.
b.Metode keteladanan
Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
c.Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi  pencerahan pada subjek didik. Seberapa jauh sesuatu moral diterima oleh anak, sangat ditentukan oleh anak itu sendiri. Anak diberikan kebebasan untuk memutuskan sendiri.
d. Metode fasilitasi nilai
Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok, misalnya fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi, perpustakaan dengan buku-buku cerita yang memuat nilai-nilai moral, dan sebagainya.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan. Lama kelamaan pembiasaan itu ditingkatkan dengan cara peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.

4. Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).

SIMPULAN
Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Analisis video 2,
“Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern - Opini”

Emosi sesaat dalam mengejar pengenalan diri telah merusak akal sehat siswa. Sebagian besar pelajar tampaknya sudah terbiasa dengan tindakan keji. kunci dari permasalahan ini yang pasti terdapat pada sistem pengajaran dan pendidikan serta harmonisasi kehidupan siswa dalam keluarga. Ketika nilai-nilai agama tidak lagi efektif dalam mengarahkan moral manusia, maka tidak akan ada lagi rasa saling menyayangi satu sama lain.

Sekolah dan seluruh instrumennya mungkin hanya memberikan sedikit pengajaran dan pemahaman kepada siswa tentang sisi moral dari berbagai masalah kemanusiaan. Selama ini siswa hanya terpaku pada pengetahuan buku teks yang berisi teori-teori saja. Di sisi lain, perkembangan zaman terus mengejar etika budaya baru dan aktivitas humanistik yang terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Dalam hal ini, sekolah lalai dalam mendidik siswanya mengeksplorasi realitas sosial yang masif. Akibatnya siswa tidak lagi berakhlak mulia dan terjebak dalam perilaku sadis dan egois.

Solusi sederhana yang mungkin bisa mengurangi dekadensi moral siswa, salah satunya adalah sistem pendidikan di sekolah mengembangkan dan meningkatkan perkembangan moral dan mental peserta didik dalam pergaulan sosialnya serta diajarkan bagaimana cara mengelola emosi diri. Orang tua juga wajib menanamkan nilai dan norma sosial kepada anaknya. Orang tua juga berperan penting dalam melakukan pengawasan pendidikan dirumah ketika anak menggunakan teknologi. Sehingga akan tercapainya generasi muda Indonesia yang memiliki nilai dan moral.