Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G
Analisis Jurnal
Judul : Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Perspektif Global
Penulis : Sudiati
A. Pendahuluan
Revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi serta semakin kompleksnya kehidupan ditandai munculnya berbagai masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Oleh karna itu dibutuhkan adanya nilai intrumental dan nilai terminal yang dapat ditanamkan melalui pendidikan nilai moral bagi setiap jenis dan jenjang pendidikan; terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Tentunya pendidikan nilai moral disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing negara berdasarkan ideologi yang dianut.
Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Pendidikan nilai moral yang dilaksanakan di empat negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena setiap negara mempunyai ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan dasar menunjukkan beberapa kesamaanpada fokusnya yaitunilai moral pada jenjang pendidikan tersebut berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara. Pendidikan nilai moral di empat negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang pendidikan nilai moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun yang tidak. Akan tetapi, pendidikan nilai moral pada hakikatnya inheren dalam setiap mata pelajaran. Terdapat jugapendidikan nilai moral yang lebih diarahkan pada pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan.
2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a.Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Perkembangan moral dipahami sebagai suatu internalisasi langsung norma-norma budaya eksternal. Sedangkan pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan.
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalahpendidikan yang berupaya mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. John P. Miller (1976: 5), mengemukakan kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik yaitu pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya, dan pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Dalam pendidikan nilai dan moral ada banyak model yang dapat diterapkan, model pendidikan afektif yang dipandang relevan dengan pendidikan nilai adalah model komunikasi, model kepekaan perhatian, model analisis transaksional, model membangun hubungan manusiawi, dan model kejiwaan sosial.
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) Pendekatan komprehensif pendidikan nilai meliputi pendekatan
1. Inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas
2. Modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas
3. Facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral
4. Skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif. Pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan.
d. Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral Dalam menerapkan konsep pendidikan nilai diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.(Muhadjir, 1988:161) mengemukakan endidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan beberapa metode yaitu metode dogmatis, metode deduktif, metode induktif, atau metode reflektif. Adapun Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai menurut (Muhadjir, 1988: 199) di antaranya ialah teknik indoktrinasi, teknik moral reasoning, teknik meramalkan konsekuensi, teknik klarifikasi, danteknik internalisasi.
Penutup
Berdasarkan jurnal tersebut didapatkan bahwa pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan kebutuhan pada tatanan global bagi seluruh masyarakat di dunia. Nilai moral juga sebagai alternatif pemecahan isu yang bersifat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Nilai moral yang dilaksanakan di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, India, dan Cina memiliki perbedaan dan kesamaan. Namun di keempat negara tersebut memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global. Penerapan pendidikan nilai moral diperlukan strategi yang tepat melalui pemilihan pendekatan, metode, dan teknik yang sesuai.
NPM : 2213053271
Kelas : 3G
Analisis Jurnal
Judul : Pendidikan Nilai Moral Ditinjau dari Perspektif Global
Penulis : Sudiati
A. Pendahuluan
Revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi serta semakin kompleksnya kehidupan ditandai munculnya berbagai masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Oleh karna itu dibutuhkan adanya nilai intrumental dan nilai terminal yang dapat ditanamkan melalui pendidikan nilai moral bagi setiap jenis dan jenjang pendidikan; terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Tentunya pendidikan nilai moral disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing negara berdasarkan ideologi yang dianut.
Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Pendidikan nilai moral yang dilaksanakan di empat negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena setiap negara mempunyai ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan dasar menunjukkan beberapa kesamaanpada fokusnya yaitunilai moral pada jenjang pendidikan tersebut berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara. Pendidikan nilai moral di empat negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang pendidikan nilai moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun yang tidak. Akan tetapi, pendidikan nilai moral pada hakikatnya inheren dalam setiap mata pelajaran. Terdapat jugapendidikan nilai moral yang lebih diarahkan pada pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan.
2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
a.Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Perkembangan moral dipahami sebagai suatu internalisasi langsung norma-norma budaya eksternal. Sedangkan pertimbangan moral adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan.
b.Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalahpendidikan yang berupaya mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. John P. Miller (1976: 5), mengemukakan kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik yaitu pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya, dan pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Dalam pendidikan nilai dan moral ada banyak model yang dapat diterapkan, model pendidikan afektif yang dipandang relevan dengan pendidikan nilai adalah model komunikasi, model kepekaan perhatian, model analisis transaksional, model membangun hubungan manusiawi, dan model kejiwaan sosial.
c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) Pendekatan komprehensif pendidikan nilai meliputi pendekatan
1. Inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas
2. Modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas
3. Facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral
4. Skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif. Pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan.
d. Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral Dalam menerapkan konsep pendidikan nilai diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.(Muhadjir, 1988:161) mengemukakan endidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan beberapa metode yaitu metode dogmatis, metode deduktif, metode induktif, atau metode reflektif. Adapun Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai menurut (Muhadjir, 1988: 199) di antaranya ialah teknik indoktrinasi, teknik moral reasoning, teknik meramalkan konsekuensi, teknik klarifikasi, danteknik internalisasi.
Penutup
Berdasarkan jurnal tersebut didapatkan bahwa pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan kebutuhan pada tatanan global bagi seluruh masyarakat di dunia. Nilai moral juga sebagai alternatif pemecahan isu yang bersifat lokal, regional, nasional, maupun internasional. Nilai moral yang dilaksanakan di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, India, dan Cina memiliki perbedaan dan kesamaan. Namun di keempat negara tersebut memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global. Penerapan pendidikan nilai moral diperlukan strategi yang tepat melalui pemilihan pendekatan, metode, dan teknik yang sesuai.