Posts made by Fadhila Cahya Ningtyas 2213053271

Analisis Jurnal
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G

Identitas Jurnal
Judul : Pendidikan Moral di Sekolah
Penulis : Rukiyati
Jenis jurnal,no, dan tahun : Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. September 2017
Halaman : 70-80

Abstrak
Abstrak dalam jurnal ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan moral di sekolah dalam membentuk generasi berkualitas. Pada dasarnya, peran utama dalam mendidik moral anak berada di tangan orang tua, namun guru di sekolah juga memiliki peran besar dalam mengembangkan moral peserta didik. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan moral merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mencapai tujuan pendidikan yang mencakup aspek moral dan intelektual.
Kata kunci: tujuan pendidikan, nilai moral, sekolah, komprehensif.

Pendahuluan
Pendahuluan dalam jurnal ini membahas peran penting sekolah sebagai lingkungan mikrosistem dalam membentuk perkembangan individu. Sekolah memiliki pengaruh yang kuat terhadap peserta didik, terutama dalam konteks pendidikan formal. Noeng Muhadjir mengidentifikasi tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas, mengembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi, serta meningkatkan kemampuan kerja produktif. Oleh karena itu, pendidikan moral dan nilai menjadi esensial, di samping pendidikan ilmu.

Sekolah yang baik harus peduli dan fokus pada pendidikan moral, nilai-nilai akademik, sosial, dan religius. Konsep pengembangan manusia dalam pendidikan menekankan pentingnya membantu pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh dalam berbagai aspek, seperti kognitif, emosional, sosial, etik, kreatif, dan spiritual.

Hasil dan Pembahasan dalam jurnal ini membahas beberapa aspek terkait pendidikan moral di sekolah:

1. Pendidik Moral di Sekolah: Pendidikan moral di sekolah melibatkan seluruh komponen sekolah, bukan hanya guru. Guru memiliki peran penting dalam membentuk moral siswa, termasuk dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang mulia.

2. Materi Pendidikan Moral: Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk membentuk moralitas individu terkait dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia, dan moral terhadap alam. Metode inkulkasi nilai, bacaan buku, bercerita, keteladanan, klarifikasi nilai, dan fasilitasi nilai digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral.

3. Evaluasi Pendidikan Moral: Evaluasi dalam pendidikan moral mencakup tiga ranah, yaitu penalaran moral, karakteristik afektif, dan perilaku moral. Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti skala sikap, observasi, dan pengamatan yang panjang dan berkelanjutan.

Selain itu, jurnal juga mengaitkan evaluasi dalam pendidikan Islam dengan penguasaan sikap dan perilaku, mengacu pada empat aspek kunci: hubungan dengan Allah, hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan alam sekitarnya, dan pandangan diri sendiri sebagai hamba Allah dalam masyarakat yang beragam budaya, suku, dan agama.Pendidikan moral di sekolah menjadi suatu wadah untuk membentuk karakter siswa dan memastikan bahwa mereka mampu mengembangkan nilai-nilai moral yang positif dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kesimpulan
Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa pendidikan moral di sekolah merupakan aspek yang penting dan perlu melibatkan guru serta seluruh komponen sekolah untuk mencapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen kunci dalam pendidikan moral meliputi peran guru, cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan aspek-aspek ini, sekolah, dengan guru sebagai peran utama, dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif, sehingga hasilnya adalah perkembangan nilai-nilai moral dalam diri peserta didik, sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G
Analisis Video 2

Pendidikan Nilai dan Moral

Nilai memiliki arti memberikan harga pada suatu konsep yang dihadapi sedangkan moral berasal dari kata morse berarti kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang oleh sekelompok orang. Terdapat beberapa pendekatan dalam penanaman nilai salah satunya pendekatan pentahelix yang mencakup:
1. Pemerintah
Pemerintah membuat undang-undang nomor 12 tahun 2012 mengenai pendidikan tinggi pasal 35 tentang kurikulum ayat 3, di mana agama Pancasila bahasa Indonesia ada dalam dunia pendidikan sebagai upaya penanaman nilai.
2. Masyarakat atau komunitas
Kebiasaan-kebiasaan baik yang ada di masyarakat atau komunitas akan membantu menanamkan nilai.
3. Akademisi
Siapapun orang yang bekerja di bidang akademisi seperti guru dosen pasti akan mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai pada saat proses pembelajaran kepada siswa atau peserta didiknya.
4. Pengusaha atau pemilik modal
Penanaman nilai erat sekali kaitannya dengan pengusaha atau pemilik modal.
5. Media
Penanaman nilai dapat dilakukan melalui berbagai macam media elektronik serta dapat juga dilakukan melalui media sosial.

Herman (1992) menyatakan bahwa "...value is neither taught nor caught, its is learned"
Yang memiliki makna bahwa substansi nilai tidak semata-mata ditangkap dan diajarkan saja. Nilai harus dipahami dicerna lalu di internalisasikan atau dilakukan di dalam diri kita. Untuk melihat kualitas nilai seseorang dapat dinilai dari nilai yang ada dalam diri seseorang itu sendiri.
Ada beberapa aliran Dalam pengajaran nilai
1. Aliran Relativisme
Artinya nilai tidak bisa diajarkan karena hakikat nilai bersifat relatif, subjektif, temporer, dan situasional.
2. Aliran Kebebasan
Kodrat kebebasan dasar manusia untuk menentukan pilihannya secara bebas dan mandiri.

Jadi penanaman dan penerapan nilai sangat penting bagi kehidupan manusia agar manusia dapat menjalani kehidupan.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
NPM : 2213053271
Kelas : 3G
Analisis Video 1

Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral

Peran Pendidik SD Dalam Menanamkam Pendidikan Nilai dan Moral Melalui PPKN

Kesadaran nilai moral mengarahkan anak atau peserta didik agar mampu mempertimbangkan perbuatannya secara matang dalam kehidupan sehari-hari baik itu di rumah, sekolah, maupun di masyarakat. Sampai saat ini kesadaran moral di dalam pendidikan masih rendah sehingga banyak kasus yang berkaitan dengan rendahnya kesadaran moral di dunia pendidikan. Jadi apabila peserta didik tidak dibekali pendidikan moral maka mereka akan memiliki masalah moral. Saat ini dekadensi moral terjadi di mana-mana baik itu diberitakan di media massa maupun di media sosial. Untuk itu saat ini penanggulangan kemerosotan moral pada masyarakat khususnya anak-anak telah banyak dilakukan baik oleh guru, orang tua, lembaga masyarakat, pemuka agama, dan instansi pemerintah.

Pendidikan moral sangat penting disosialisasikan kepada seluruh peserta didik yang ada di Indonesia demi kemajuan bangsa dan kehidupan yang sejahtera dengan membentuk kepribadian karakter pada peserta didik. Apabila peserta didik memiliki karakter yang baik maka akan membentuk masa depan yang lebih cerah.

Pentingnya PPKN dalam pendidikan nilai dan moral diantaranya :
- PPKN sebagai wadah pembangunan watak atau karakter peserta didik.
- secara makro PKN juga merupakan wahana sosial pedagogis kecerdasannya kehidupan bangsa.
- PPKN juga menjadi acuan penerapan keberhasilan pendidikan moral di sekolah dan sebagai jembatan menuju pendidikan moral yang baik.

PPKN juga diharapkan dapat membantu peserta didik untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman tentang nilai dan moral seperti teori yang dikenal luas dalam pendidikan nilai dan moral yaitu
1. Teori kognitif moral yang dikemukakan oleh Vincent dalam Khalberg yang menyatakan bahwa pengetahuan moral dapat mempengaruhi sikap seseorang.

Upaya penanaman moral masih sering dilakukan meskipun banyak terdapat, dengan adanya pendidikan nilai dan moral dapat menjadi acuan keberhasilan penerapan pendidikan nilai dan moral di sekolah.

Adapun tujuan dari Pendidikan kewarganegaraan diantaranya : -Memberikan pengertian, pengetahuan, dan pemahaman tentang Pancasila.
-Menanamkan nilai-nilai moral Pancasila dalam diri peserta didik. -Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila.
- Menggugah kesadaran peserta didik sebagai warga negara. -Memberikan motivasi agar dalam setiap tingkah laku peserta didik dapat berperilaku sesuai dengan Pancasila.
- Membangun watak dan karakter yang baik dalam diri peserta didik guna mempersiapkan peserta didik agar nantinya menjadi warga negara yang baik.
Nama : Fadhila Cahya Ningtyas
Npm : 2213053271
Kelas : 3G
Analisis Jurnal 2
Judul : Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan
Teori Kohlberg
No, volume, halaman : No. 2, Volume 6, 13- 143
Penulis : Enung Hasanah

Abstrak
Pada abstrak yang ditulis dalam dua bahasa menjelaskan bahwa teori Kohlberg merupakan teori yang digunakan untuk mengukur tingkatan moral seseorang.

Pendahuluan
Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal.
Teori Kohlberg
Teori Kohlberg tentang perkembangan disebut jugacognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, jadi dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) seseorang.
Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg ada 3 level dan 6 tahapan.
1. Level pertama yaitu "Pra Konvensional" yang terdiri dari tahap mengindari hukuman dan keuntungan serta minat pribadi.
Pada tahap 1 yaitu menghindari hukuman, pada tahap ini seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak guna menghindari hukuman. Contohnya adalah ketika seseorang tidak menerobos lampu merah, semata-mata agar tidak dikejar oleh polisi. Sedangkan pada tahap 2 yaitu keuntungan dan minat pribadi, pada tahap ini tindakan yang dilakukan seseorang dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.
2. Level kedua yaitu "Konvensional" yang terdiri dari tahap ketiga menjaga sikap orang baik dan tahap keempat yaitu memelihara peraturan. Pada tahap ketiga yaitu menjaga sikap orang baik, seseorang melakukan tindakan pada tahap ini dengan memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya. Sedangkan pada tahap keempat yaitu memelihara peraturan, seseorang pada tahap ini akan berpikir bahwa peraturan harus ditegakkan apabila tidak ada yang mematuhi peraturan maka keadaan akan kacau.
3. Level ketiga yaitu "Pacsa Konvensional" yang terdiri dari tahap kelima orientasi kontrak sosial dan tahap keenam yaitu prinsip etika universal. Tahap orientasi kontrak sosial tahap di mana seseorang mulai berpikir bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda. Tidak ada hal yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus. Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada. Pada tahap yang terakhir yaitu prinsip etika universal, merupakan tahap di mana seseorang menggambarkan prinsip internal seseorang, dan melakukan hal yang dianggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.