གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Deasy Adelia Syahrani 2213053091

Nama: Deasy Adelia Syahrani
NPM: 2213053091
Kelas: 3H

ANALISIS JURNAL
Nama Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Volume : 01
Nomor : 02
Tahun Terbit : 2015
Judul : PENDAPAT TENTANG MORAL DI ZAMAN NOW
Nama Penulis : Ni Komang Rani Pradnyan

Moral adalah karakter atau nilai yang ada atau melekat pada pribadi seseorang atau pada setiap individu, karena moral melekat pada diri setiap manusia dan dalam kapasitas manusia. Tolak ukur dalam berprilaku bermoral sesuai dengan nilai-nilai, etika, atau kesusilaan sesuai dengan nilai-nilai kaidah atau kebenaran. Pencegahan penurunan moral perlu adanya penanaman internalisasi baik bersifat pendidikan kewarganegaraan atau pendidikan pancasila, pendidikan karakter. adanya tripusat yang informal seperti keluarga dan masyarakat misalnya dalam keluarga bagaimana orang tua dalam keluarga mendidik anaknya dengan baik dan benar Moral yang sesuai untuk kedepannya yakni moralitas yang mampu mengedepankan nilai-nilai moral, terutama nilai-nilai pancasila, karena pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang mampu menjadi tolak ukur kehidupan masyarakat indonesia.
Nama: Deasy Adelia Syahrani
NPM: 2213053091
Kelas: 3H

ANALISIS JURNAL
Nama Jurnal : Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA
Volume : 03
Nomor : 03
Halaman : 197-200
Tahun Terbit : 2015
Judul : Solusi Pencegahan Permasalahan Moralitas dalam Masyarakat
Nama Penulis : James

Masalah moralitas merupakan masalah yang tak henti-hentinya menjadi persoalan kita. Karena mau tidak mau kita sebagai manusia yang berada di lingkungan sosial budaya yang beragam. Karena itu mari kita saling menjaga diri dan keluarga masing-masing agar tidak masuk ke dalam permasalahan moralitas tersebut. Kalau kita tidak dapat mencegah orang lain, minimal kita dapat mencegah diri sendiri dan keluarga dari kerusakan moral.
Beberapa faktor yang menyebabkab permasalahan moralitas dalam Masyarakat:
1. Faktor keluarga
Memelihara keharmonisan keluarga dan ketentraman rumah tangga sangat menentukan bagi pencegahan dan keterlibatan anggota keluarga masuk kedalam permasalahan moralitas yand ada.

2. Faktor lingkungan dan pergaulan
Adalah salah satu faktor yang sering menyebabkan orang jatuh kedalam permasalahan moralitas, seperti ungkapan “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik” artinya dimana pun kita berada dan dengan siapa kita bergaul, ini akan berdampak pada cara hidup kita. Oleh karena itu kita harus jeli terhadap situasi lingkungan kita dan juga harus memperhatikan kepada siapa kita bergaul.

3. Faktor Pendidikan
Secara umum semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin luas pengetahuan dan pengalamannya. Dan biasanya tingkat pendidikan yang dijalani seseorang akan juga mempengaruhi cara hidupnya dan cara berpikirnya.
Nama: Deasy Adelia Syahrani
NPM: 2213053091
Kelas: 3H

ANALISIS VIDEO

FLIM PENDEK KORUPSI-PELAJAR ANTI KORUPSI

Kita sebagai pelajar Indonesia, menolak keras adanya korupsi. Korupsi merupakan penyakit bangsa. Oleh karena itu, kita harus mencegah adanya korupsi mulai dari diri kita sendiri.

Dalam flim ini terdapat seorang siswa bernama Hanafi. Ia adalah seorang pelajar dari SMK Nenegri 3 Wonosari.
Hanafi diminta memotokopi tugas oleh temanya, lalu ia memotokopinya. Sebenarnya harga motokopian itu hanya lima ribu namun, Hanafi malah menulisnya sepuluh ribu. Itulah kebiasaan dari Hanafi membuat nota palsu. Hanafi tiba-tiba meresa tidak enak badan mungkin ini dikarenakan kebiasaan buruknya membuat nota palsu.
Lalu seorang temanya mengahampirinya dan menceritakan salah satu ceramah ustad mengenai uang korupsi yang dapat menyebabkan penyakit. Lalu Hanafi pun sadar akan kelakuanya selama ini dan mengganti uang yang telah ia ambil.
Nama: Deasy Adelia Syahrani
NPM: 2213053091
Kelas: 3H

ANALISIS VIDEO
PANTESAN NEGARANYA CEPAT BERKEMBANG! BEGINI PERBEDAAN PENDIDIKAN DASAR JEPANG DAN INDONESIA

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia, oleh karena itu dunia pendidikan masih menjadi perhatian pemerintah di seluruh dunia. Setiap negara pasti memiliki kondisi yang berbeda, mulai dari kebudayaan, ekonomi, penduduk sampai watak masyarakatnya pasti berbeda. Hal ini lah yang menyebabkan system pendidikan disetiap negara berbeda.
Salah satu system pendidikanterbaik di dunia ada di negeri Sakura Jepang apalagi pendidikan dasar disana terbaik.

Perbedaan pendidikan di Jepang dan Indonesia
1) Kebersihan Sejak Dini
Indonesia merupakan salah satu negeri yang paling sering nyampah di dunia, hal ini disebabkan karena kebiasaan membuang sampah pada tempatnya tidak diajarkan didalam kurikulum pendidikan In donesia. Berbeda dengan Jepang, sekolah disana bahkan tidak memiliki petugas kebersihan, hal ini disebabkan kurikulum di Jepang mengaruskan semua siswa bertanggungjawab atas kebersihan kelas masing-masing.

2) Makan Breng
Di Jepang sekolahnya mengatur makan siang siswanya, mulai dari menu yang disisapkan, gizi makanan sampai cara mereka makan. Makan siang dijepang akan dilakukan Bersama-sama dan diikiti oleh para guru

3) Mata Pelajaran Sedikit
Di Indonesia memiliki mata Pelajaran yang banyak dan kadang berulang-ulang dalam seminggu, sedangkankan di Jepang mata pelajaranya tergolong sedikit dan hanya diajarkan hari-hari tertentu doang

4) Pendidikan Karakter
Pendidikan di Indonesia melalui berbagai macam ujian, mulai ujian tulis dan membaca. Sedangankan di Jepang lebih menekankan pada pendidikan karakter seperti sopan santun, tolong menolong.

5) Membaca buku
Indonesia menjadi urutan bawah soal minat baca terjadi karena tidak terbiasa membaca saat disekolah. Sedangkan di Jepang sekolah mewajibkan siswanya untuk membaca selama 10 menit. Hal ini lah yang membuat mereka senang membaca.

6) Perlengkapan Sekolah
Dijepang semua seba sama mulai dari tas sampai sepatu semua sudah disediakan. Perlengkapan ini sengaja disamakan agar tidak ada satu siswa yang minder.
Nama: Deasy Adelia Syahrani
NPM: 2213053091
Kelas: 3H

ANALISIS VIDEO
POTRET PENDIDIKAN DI DUSUN TERPENCIL

Para siswa SD Negeri Glak kabupaten Sikka membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya, sekolah yang terletak di sebuah dusun terpencil itu terpaksa harus melakukan kegiatan belajar mengajar di teras kelas.
Hal ini dikarenakan ketiadaan ruang kelas. Sekolah yang terletak di kaki guung api Egon tersebut hanya memiliki 6 ruangan., dan 1 ruangan yang digunakan sebagai ruang guru. Lebih mirisnya lagi sekolah ini tidak memiliki perpustakaan karena minimnya ruangan.
Meski begitu, para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah. Setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga 2 kilometer agar bisa sampai di sekolah ini. Semangt para siswa ini lah yang menjadi salah satu kekuatan bagi para guru untuk terus mengajar disekolah tersebut meski dengan kondisi yang seadanya.

Dimasa pandemic covid-19 ini, ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar daring, sekolah ini tidak mampu melaksanakanya. Diwilayah ini, belum ada jaringan telekomunikasi sama ssekali. Oleh karena itu, pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan di sekolah. Pihak sekolah pun berharap, agara pemerintah bisa membuka mata dan melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.