Nama: Melda Setialista
NPM: 2253053047
Kelas: 2C
Analisis jurnal!
"Dinamika Sosial Politik Menjelang Pemilu Serentak 2019"
Setelah menganalisis jurnal tersebut saya simpulkan bahwa sejak era Reformasi, Indonesia sudah menggelar empat kali pemilu. Indonesia sudah melakukan Pemilihan Umum presiden (Pilpres) kelima kalinya pada tahun 2019. Ajang pemilihan umum ini merupakan salah satu sarana untuk memilih pemimpin secara demokratis.Tetapi, pemilu ke lima tahun 2019, khususnya, pemilu presiden (pilpres) memiliki konstelasi politik yang lebih menyita perhatian publik.Pembangunan demokrasi Indonesia yang tercermin dari pilpres masih mengalami banyak masalah. Pendalaman demokrasi belum terwujud dengan baik karena pilar-pilar demokrasi yang menjadi faktor penguat konsolidasi demokrasi belum efektif. Pilpres 2019 belum mampu menghasilkan suksesi kepemimpinan yang baik dan belum mampu pula membangun kepercayaan publik. Sebagai pilar utama demokrasi, pemilu merupakan sarana dan momentum terbaik bagi rakyat, khususnya, untuk menyalurkan aspirasi politiknya, memilih wakil-wakil terbaiknya di lembaga legislatif dan presiden/wakil presidennya secara damai. Pemilu bukan hanya penanda suksesi kepemimpinan, tapi juga merupakan koreksi/ evaluasi terhadap pemerintah dan proses deepening democracy untuk meningkatkan kualitas demokrasi yang sehat dan bermartabat.
Dinamika politik menjelang pemilu pada tahun 2019 lalu cenderung memanas terutama terkait kecenderungan kecurangan, hal ini berdampak dari demokrasi sendiri yaitu dampaknya dari demokrasi adalah yang membangun atau menafkahi nilai-nilai budaya positif seperti saling menghargai atau menghormati dan juga saling mempercayai dan saling berempati. Pemilu yang berkualitas memerlukan parpol dan koalisi perpol yang berkualitas juga, karena pemilu tidak hanya sarana suksesi kepemimpinan yang aspiratif, adil dan damai, tetapi dapat menjadi taruhan bagi katahanan sosial rakyat dan ekstansi NKRI. Tantangan pada pemilu 2019 membuat konsolidasi demokrasi sulit dibangun, nilai-nilai demokrasi saat pemilu tidak dikedepankan. Sehingga Indonesia menjadi negara demokrasi nomor 4 terbesar didunia belum mampu memperlihatkan sebagai negara yang menjalankan demokrasi substantif.