Nama: Afanin yuli safitri
NPM: 2213053020
ANALISIS VIDEO "Demokrasi Itu Gaduh, tapi Kenapa Bertahan dan Dianut Banyak Negara?"
Jokowi menyatakan pada situasi pandemi yang terpenting adalah menghindari polemik dan tidak membuat kegaduhan kegaduhan. Pernyataan yang tersebut dinilai muskil terpenuhi dalam negara demokrasi. Demokrasi menjamin kebebasan untuk berpendapat dan demokrasi juga memberi ruang atau memfasilitasi perbedaan pendapat. Demokrasi itu berisik dan memang tempat orang berisik dan ribut karena dalam demokrasi terjadi penyampaian argumen yang berbeda-beda. Walaupun berisik, demokrasi harus tetap dalam konteks koridor demokrasi yang prosedural.
Ada beberapa alasan mengapa banyak negara menggunakan demokrasi walaupun itu terkesan berisik. Alasan utamanya yaitu negara dengan sistem demokrasi yang baik lebih mampu mempertahankan keamanan dan kemakmuran negaranya secara jangka panjang. Demokrasi juga dipandang sebagai alat paling efektif untuk mewujudkan kesetaraan, mengurangi konflik, dan meningkatkan partisipasi masyarakat atau publik. Contohnya dari sisi penegakan HAM, negara yang menganut demokrasi mempunyai skor penegakan HAM yang lebih tinggi. Warga negara penganut demokrasi akan cenderung memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Secara umum negara yang menganut demokrasi akan memiliki kekayaan dan tingkat perkembangan manusia yang lebih tinggi dibanding negara yang tidak demokratis. Negara yang demokratis juga punya angka korupsi yang lebih rendah dan warga negaranya lebih bahagia, sehat, dan memiliki jaminan Hak Asasi Manusia.
Setelah terjadinya perang dingin banyak negara menginginkan kebebasan dan kemakmuran seperti negara demokrasi. Negara yang menganut demokrasi meningkat pesat pada akhir tahun 1980-an dan rezim autokrasi semakin banyak yang berjatuhan. Walaupun begitu, demokrasi bukanlah sistem pemerintahan yang sempurna. Para kritikus demokrasi berpikiran bahwa, apakah memberi hak pilih kepada warga mengenai persoalan yang tidak mereka kuasai adalah hal yang tepat? Pernyataan ini terasa relevan ketika demokrasi menghasilkan pimpinan-pimpinan populis yang anti sains. Para politikus juga menolak dikritik dan tidak menerima kebebasan berpendapat. Saat ini beberapa analisis menyatakan bahwa demokrasi berada dalam fase kritis. Pada 2019, skor rata-rata indeks demokrasi di 165 negara merosot dan menjadi skor yang terburuk sejak 2006. Begitupun dengan Indonesia yang mengalami penurunan ranking demokrasi pada tahun 2013 sampai sekarang. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan di berbagai negara bahkan yang sudah estabilized demokrasinya. Berikut ini beberapa alasan yang mengemukakan Mengapa demokrasi dilanda krisis yaitu rendahnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan politikus, penurunan jumlah keanggotaan partai politik dan regulasi pemerintah yang dianggap tidak transparan. Demokrasi bukanlah sebuah tujuan melainkan adalah sebuah perjalanan yang ditempuh bersama sebagai warga negara bangsa dan negara.
Posts made by Afanin Yuli Safitri 2213053020
Izin menjawab pertanyaan dari Adelia yaitu Hal apa saja yang harus diperhatikan dalam mengembangkan isi materi pada bahan ajar?
Jadi dalam pengembanga bahan ajar itu membutuhkan kreativitas untuk membuat sesuatu yang berbeda dan unik. selain itu juga diperlukan pengetahuan terkait lingkungan sekitarnya supaya bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Di samping itu, pendidik juga harus punya pengetahuan tentang beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar seperti karakter peserta didik, kecermatan isi, ketepatan cakupan, ketercernaan, penggunaan bahasa, ilustrasi, perwajahan/pengemasan serta kelengkapan komponen bahan ajar.
Jadi dalam pengembanga bahan ajar itu membutuhkan kreativitas untuk membuat sesuatu yang berbeda dan unik. selain itu juga diperlukan pengetahuan terkait lingkungan sekitarnya supaya bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Di samping itu, pendidik juga harus punya pengetahuan tentang beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan bahan ajar seperti karakter peserta didik, kecermatan isi, ketepatan cakupan, ketercernaan, penggunaan bahasa, ilustrasi, perwajahan/pengemasan serta kelengkapan komponen bahan ajar.
Nama: Afanin Yuli Safitri
NPM: 2213053020
Kelas: 2G
ANALISIS JURNAL
Judul: INTEGRASI NASIONAL SEBAGAI PENANGKAL ETNOSENTRISME DI INDONESIA
Penulis: Agus Maladi Irianto
Pendahuluan
Indonesia, sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini telah mempunyai sejumlah pengalaman seperti mengalami berbagai perubahan azas, paham, ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal tersebut, menciptakan disintegrasi dan instabilisasi nasional. Tindakan anarkis, pelanggaran moral, etika, dan meningkatnya kriminalitas secara kasat mata terus terjadi sampai sekarang dan kesimpulannya tak menghasilkan solusi. Maka diperlukan suatu strategi kebudayaan nasional.
Identitas dan Integrasi Nasional
Identitas adalah representasi diri seseorang atau masyarakat melihat dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihatnya sebagai sebuah entitas sosial-budaya. Identitas berlangsung secara kompleks. Disatu sisi identitas akan terbentuk atas kemauan diri sendiri, sedangkan di sisi lain identitas akan sangat bergantung pada kekuatan objektif yang terjadi di sekitarnya. Identitas itu dinamis yang selalu disesuaikan kembali, sifatnya akan selalu diperbaharui, dan keadaan yang dinegosiasi terus-menerus, sehingga wujudnya akan selalu bergantung pada proses yang membentuknya. Di tengah kebudayaan massa yang serba cepat dan perkembangan IPTEK ini, beberapa ekspresi tentang nilai, pengetahuan, norma, dan simbol, menjadi tanda kebudayaan masyarakat kita. Identitas dan karakter bangsa menjadi sarana pembentukan pola pikir (mindset) dan sikap mental, memajukan adab dan kemampuan bangsa yang mempunyai tugas utama membangunan kebudayaan nasional. Sebagai sarana pembentukan pola pikir, Identitas masyarakat perlu kesadaran nasional. Selanjutnya kesadaran nasional menjadi dasar keyakinan adanya integrasi nasional yang dapat memelihara dan mengembangkan harga diri bangsa, harkat dan martabat bangsa. integrasi terbentuk jika ada identitas yang mendukungnya seperti kesamaan bahasa, nilai sistem budaya, cita-cita politik, pandangan hidup atau orientasi keagamaan. Integrasi nasional juga dapat terjadi karena pembentukan kelompok yang dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun sosial. Contohnya, kelompok pedangang kaki lima membentuk jaringan untuk menghadapi Perda atau operasi Satpol PP.
Intergrasi Nasional Versus Otonomi Daerah
pluralitas, kekayaan, dan keberagaman Indonesia merupakan takdir, tapi belakangan ini malah memicu pertentangan di antara sejumlah anggota masyarakat. akibatnya muncul faham sentrisme lalu melahirkan etnosentrisme, religisentrisme, politksentrisme, dst. Etnosentrisme menguat justru ditopang dengan kebijakan negara yang mengembangkan otonomi daerah dan pemekaran daerah. Semangat otonomi daerah dan pemekaran daerah menjadi berjalan seiring dengan menguatnya etnosentrisme. Kebijakan otonomi daerah yang kini banyak terjadi di negeri ini, justru menjadi penghambat cita-cita menerapkan konsep integrasi nasional. Birokrasi pemerintah daerah tidak memperhatikan kepentingan daerah, tapi menjadi pelaksana kepentingan pusat di daerah. Strategi kebudayaan disini mengacu pada kekuatan budaya berdasarkan pada kedekatan dan pandangan hidup dalam kaitannya dengan kompleksitas kebudayaan yang dianut.
Penutup
Integrasi nasional adalah jalan keluar untuk menghadapi masalah kesatuan yang terus-menerus melanda Indonesia hingga saat ini. Pengembangan konsep integrasi nasional sebagai strategi kebudayaan Indonesia pada dasarnya menyatukan visi dan misi sejumlah kepentingan dan identitas anggota masyarakat masing" berlatar belakang kebudayaan yang kompleks. Agar konsep integrasi nasional terwujud, sekelompok anggota masyarakat harus bersedia menerobos identitasnya dan mengambil jarak dari kepentingan yang selama ini dianggap membentuk watak dirinya atau kelompoknya. Dengan meninggalkan identitasnya, membuka kemungkinan untuk pembentukan integrasi yang lebih luas.
NPM: 2213053020
Kelas: 2G
ANALISIS JURNAL
Judul: INTEGRASI NASIONAL SEBAGAI PENANGKAL ETNOSENTRISME DI INDONESIA
Penulis: Agus Maladi Irianto
Pendahuluan
Indonesia, sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini telah mempunyai sejumlah pengalaman seperti mengalami berbagai perubahan azas, paham, ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal tersebut, menciptakan disintegrasi dan instabilisasi nasional. Tindakan anarkis, pelanggaran moral, etika, dan meningkatnya kriminalitas secara kasat mata terus terjadi sampai sekarang dan kesimpulannya tak menghasilkan solusi. Maka diperlukan suatu strategi kebudayaan nasional.
Identitas dan Integrasi Nasional
Identitas adalah representasi diri seseorang atau masyarakat melihat dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihatnya sebagai sebuah entitas sosial-budaya. Identitas berlangsung secara kompleks. Disatu sisi identitas akan terbentuk atas kemauan diri sendiri, sedangkan di sisi lain identitas akan sangat bergantung pada kekuatan objektif yang terjadi di sekitarnya. Identitas itu dinamis yang selalu disesuaikan kembali, sifatnya akan selalu diperbaharui, dan keadaan yang dinegosiasi terus-menerus, sehingga wujudnya akan selalu bergantung pada proses yang membentuknya. Di tengah kebudayaan massa yang serba cepat dan perkembangan IPTEK ini, beberapa ekspresi tentang nilai, pengetahuan, norma, dan simbol, menjadi tanda kebudayaan masyarakat kita. Identitas dan karakter bangsa menjadi sarana pembentukan pola pikir (mindset) dan sikap mental, memajukan adab dan kemampuan bangsa yang mempunyai tugas utama membangunan kebudayaan nasional. Sebagai sarana pembentukan pola pikir, Identitas masyarakat perlu kesadaran nasional. Selanjutnya kesadaran nasional menjadi dasar keyakinan adanya integrasi nasional yang dapat memelihara dan mengembangkan harga diri bangsa, harkat dan martabat bangsa. integrasi terbentuk jika ada identitas yang mendukungnya seperti kesamaan bahasa, nilai sistem budaya, cita-cita politik, pandangan hidup atau orientasi keagamaan. Integrasi nasional juga dapat terjadi karena pembentukan kelompok yang dipersatukan oleh suatu isu bersama, baik yang bersifat ideologis, ekonomis, maupun sosial. Contohnya, kelompok pedangang kaki lima membentuk jaringan untuk menghadapi Perda atau operasi Satpol PP.
Intergrasi Nasional Versus Otonomi Daerah
pluralitas, kekayaan, dan keberagaman Indonesia merupakan takdir, tapi belakangan ini malah memicu pertentangan di antara sejumlah anggota masyarakat. akibatnya muncul faham sentrisme lalu melahirkan etnosentrisme, religisentrisme, politksentrisme, dst. Etnosentrisme menguat justru ditopang dengan kebijakan negara yang mengembangkan otonomi daerah dan pemekaran daerah. Semangat otonomi daerah dan pemekaran daerah menjadi berjalan seiring dengan menguatnya etnosentrisme. Kebijakan otonomi daerah yang kini banyak terjadi di negeri ini, justru menjadi penghambat cita-cita menerapkan konsep integrasi nasional. Birokrasi pemerintah daerah tidak memperhatikan kepentingan daerah, tapi menjadi pelaksana kepentingan pusat di daerah. Strategi kebudayaan disini mengacu pada kekuatan budaya berdasarkan pada kedekatan dan pandangan hidup dalam kaitannya dengan kompleksitas kebudayaan yang dianut.
Penutup
Integrasi nasional adalah jalan keluar untuk menghadapi masalah kesatuan yang terus-menerus melanda Indonesia hingga saat ini. Pengembangan konsep integrasi nasional sebagai strategi kebudayaan Indonesia pada dasarnya menyatukan visi dan misi sejumlah kepentingan dan identitas anggota masyarakat masing" berlatar belakang kebudayaan yang kompleks. Agar konsep integrasi nasional terwujud, sekelompok anggota masyarakat harus bersedia menerobos identitasnya dan mengambil jarak dari kepentingan yang selama ini dianggap membentuk watak dirinya atau kelompoknya. Dengan meninggalkan identitasnya, membuka kemungkinan untuk pembentukan integrasi yang lebih luas.