Kiriman dibuat oleh Afanin Yuli Safitri 2213053020

Nama: Afanin Yuli Safitri
NPM: 2213053020
Kelas: 3G
Prodi: PGSD
ANALISIS JURNAL 1

Judul Jurnal: PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Penulis: Sudiati
Tahun : Juni 2009

Pelaksanaan pendidikan nilai moral pada empat negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) punya persamaan dan perbedaan, karena masing-masing negara memiliki ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan dasar menunjukkan beberapa kesamaan yaitu berfokus pada nilai tata kepribadian diri dan tata hidup berbangsa dan bernegara. Pendidikan nilai moral di empat negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang pendidikan nilai moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun yang tidak. Namun, pendidikan nilai moral pada hakikatnya inheren dalam setiap mata pelajaran. Ada pula pendidikan nilai moral yang lebih diarahkan pada pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan.


Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Karena itu, diperlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang dikemukakan oleh Capra. Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Pendidikan nilai moral merupakan alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional. Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pedoman hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia.

Dalam mengimplementasikan pendidikan nilai moral diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai. Pengimplementasian pendidikan nilai kepada peserta didik memerlukan adanya kesadaran para pendidik agar senantiasa menjadi contoh bagi peserta didik agar tidak bersikap mendua. Misalnya, jika peserta didik dituntut berperilaku jujur, berucap dengan upacan yang baik, konsekuensinya para pendidik dituntut berperilaku jujur, tidak mengajarkan kebohongan, dan bertutur kata yang baik.

Nama: Afanin Yuli Safitri
NPM: 2213053020
Kelas: 3G
Prodi: PGSD

Melihat kasus degradasi moral seperti pada video tentu membuat kita merasa miris. Bagaimana bisa seorang murid menghabisi nyawa gurunya. Apa yang dilakukan oleh anak sebenarnya tidak berdiri sendiri, pasti ada sebab penyebab seperti:
1. Pola pengasuhan anak di rumah, sehingga saat ia di sekolah atau masyarakat akan menentukan bagaimana sikap dan perilakunya. itu tidak tidak terbentuk begitu saja melainkan sebuah proses panjang dalam hidupnya.
2. Bagaimana guru melakukan pengelola kelas dan menghadapi anak-anak yang memiliki sikap dan perilaku yang berbeda.
Guru harus memiliki kelengkapan utama dalam dirinya sebagai sosok pribadi seperti yang sudah diatur dalam UU, bahwa seorang guru mempunyai 4 standar kompetensi utama yaitu
1. Kompetensi kepribadian
2. Kompetensi sosial
3. Kompetensi profesional
4. Kompetensi pedagogi

Dewasa ini, baik dalam pembekalan sebelum jadi guru apalagi dalam pelatihan setelah menjadi guru kompetensi ini belum dilaksanakan secara holistik. UKG baru berfokus pada pengetahuan tentang profesi dan pengetahuan tentang pedagogi. Guru harus benar-benar siap untuk menjadi seorang pendidik. Guru harus mengenal ragam sekolah, ragam anak-anak,  bagaimana menangani anak dengan perilaku yang berbeda berada di dalam satu kelas. Saat ini pembekalan hanya bersifat pengetahuan, penguatan keterampilan, implementasi, dan pembenahan perilaku belum belum menjadi fokus utama.

Calon guru tidak bisa hanya membekali diri di bangku kampus namun harus berinteraksi dengan sekolah dan mencoba untuk masuk ke dalam proses mendidik. Guru harus bisa membenahi kepribadiannya supaya bisa menjadi teladan bagi muridnya. Kemampuan untuk mengelola emosi juga harus dilatih kepada anak. Level toleransi terhadap stress, tekanan, dan tuntutan pada anak yang semakin besar yang tidak diimbangi dengan kemampuan pribadi dapat menjadi faktor turunya moral.

Nama: Afanin Yuli Safitri
NPM: 2213053020

Judul Vudeo: 6 tahap perkembangan moral menurut Kohlberg

Lawrence Kohlberg melakukan penelitian di Amerika yang menjadi fondasinya untuk merumuskan tahapan perkembangan moral. Menurutnya ada 3 level dalam tahap perkembangan moral, setiap level memiliki dua tahap sehingga seluruhnya menjadi 6 tahap.

1. Pra konvensional
▪︎Tahap 1 menghindari hukuman
Seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu untuk menghindari hukuman. Contohnya tidak menerobos lampu merah karena tidak ingin dikejar atau ditilang polisi.
▪︎Tahap 2 keuntungan dan minat pribadi
Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan diperoleh atau mendapat keuntungan seperti membantu seseorang karena suatu hari dia akan balas membantu.

2. Konvensional
▪︎Tahap 3 menjaga sikap orang baik
Seseorang menghindari pertengkaran karena berpikir bagaimana aturan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya, ia tidak bertengkar karena itu tidak baik dan orang baik tidak melakukannya.
▪︎Tahap 4 memelihara peraturan
Memelihara peraturan dan menegakkanya, seperti menengahi teman yang bertengkar karena Ia berpikir peraturan harus ditegakkan dan jika tidak dipatuhi maka keadaan akan menjadi kacau, jadi peraturan harus selalu dipatuhi

3. Pasca konvensional
▪︎Tahap 5 orientasi kontrak sosial
Seseorang menyadari bahwa setiap orang punya latar belakang dan situasi berbeda. Ia berpikir bahwa tidak ada yang pasti jika melihat sebuah kasus. hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
▪︎Tahap 6 prinsip etika universal
Menggambarkan prinsip internal seseorang, Ia melakukan hal yang dianggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.

Kohlberg menggunakan cerita dilema dalam penelitiannya, salah satunya adalah dilema heinz.

Nama: Afanin Yuli Safitri
NPM: 2213053020
Kelas: 3G
Prodi: PGSD
ANALISIS VIDEO 2

Kekerasan di lingkungan sekolah marak terjadi belakangan ini. Hal ini menunjukkan mulai turunnya nilai-nilai dan moral juga kurangnya pengawasan guru pun orang tua. Seperti pada beberapa kasus yang ada di video, anak dibawah umur terlibat dalam tindak kekerasan. Banyak faktor yang menjadi kemungkinan kasus ini dapat terjadi, seperti kemajuan teknologi, anak menonton sesuatu yang bukan tontonannya dan menirukannya karena kurang pengawasan. Di sekolah, peserta didik juga harus diajarkan nilai dan moral. Di sinilah pentingnya peran guru dan orangtua dalam mendidik anak agar memiliki sikap nilai dan moral yang baik.

Nama: Afanin Yuli Safitri
NPM: 2213053020
Kelas: 3G
Prodi: PGSD
ANALISIS VIDEO 1

Phillip food tahun 1967 mengajukan sebuah eksperimen yang kemudian dikenal sebagai trolly problem eksperimental untuk memahami konteks moral dalam berbagai kondisi seperti perang, penyiksaan, aborsi dan euthanasia. Trolly problem membuat berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Seperti masalah di video semua itu tergantung keputusannya masing-masing , di setiap keputusan memiliki resiko. Apa pun keputusan yang kita ambil pasti ada pemikiran orang lain tentang keputusan yang baik atau buruk. Dan Moral adalah baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Apapun pilihannya kita harus bisa mempertanggungjawabkan pilihan yang telah kita pilih. Moralitas tidak pernah berdiri sendiri di posisi yang netral. Identitas kita dan identitas orang yang dikorbankan selalu menyertai keputusan2 yang berhubungan dengan moralitas.