Kiriman dibuat oleh Meyin syabira 2213053185

Nama: Meyin syabira
Npm:2213053185


Pendidikan moral di Sekolah Dasar (SD) bertujuan untuk membentuk karakter, etika, dan nilai-nilai moral yang baik pada anak-anak. Materi pendidikan moral di SD biasanya mencakup hal-hal berikut:

1. Pengenalan Nilai-Nilai Moral: Anak-anak diajarkan mengenai nilai-nilai seperti jujur, tolong-menolong, rajin, dan peduli kepada sesama. Mereka belajar mengenali perbedaan antara benar dan salah.

2. Cerita Moral: Anak-anak sering diberikan cerita-cerita atau dongeng yang mengandung pesan moral. Melalui cerita ini, mereka belajar dari contoh tindakan dan keputusan karakter dalam cerita.

3. Perilaku Baik: Pendidikan moral di SD mendorong anak-anak untuk berperilaku baik dan menghormati orang lain, termasuk guru, teman sebaya, dan keluarga.

4. Etika dan Norma Sosial: Anak-anak diajarkan etika sosial, norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, serta pentingnya menghormati perbedaan antarindividu.

5. Tanggung Jawab: Mereka juga belajar tentang tanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah, pekerjaan rumah, dan bagaimana menjalankan kewajiban mereka dalam keluarga.

Pendidikan moral di SD bertujuan untuk membantu anak-anak mengembangkan sikap yang positif, menghormati orang lain, serta menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Ini adalah dasar yang penting dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini.
nama:Meyin syabira
Npm:2213053185


Tanggung jawab diri kepada keluarga adalah kewajiban seseorang untuk memberikan dukungan fisik, emosional, dan finansial kepada anggota keluarganya. Ini mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, serta memberikan perhatian dan kasih sayang kepada keluarga. Tanggung jawab ini mencerminkan komitmen dan rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga dan menjadi landasan dalam membangun hubungan yang sehat di dalam keluarga.
Nama:Meyin syabira
Npm:2213053185

Jurnal ini membahas peran penting kalangan milenial dalam masa depan suatu bangsa dan bagaimana fenomena menjauhnya agama dari kehidupan masyarakat, disebabkan oleh perkembangan teknologi digital, berdampak pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia. Penulis, terutama dosen agama dari Universitas Pamulang, mencatat pentingnya mengatasi degradasi moral di era digital. Untuk mengatasi permasalahan ini, mereka mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat selama tiga hari dengan tema "Menangkal Degradasi Moral di Era Digital bagi Kalangan Milenial." Kerjasama dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan Sasmita Jaya dan pengurus di Mts Insan Madani. Hasilnya adalah pemberian bekal softskill kepada anak-anak remaja dalam lingkungan tersebut. Saran yang diajukan adalah partisipasi aktif tim dosen dan pihak lainnya dalam mendukung program-program serupa untuk membekali generasi muda dengan moral yang baik dan softskill yang diperlukan, terutama anak-anak remaja yang sedang mencari identitas. Harapannya adalah pelatihan semacam ini dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan pada setiap jenjang pendidikan. (Kata Kunci: Degradasi Moral)
Nama: Meyin syabira
Npm:2213053185

Jurnal dengan judul "Ekonstruksi Evaluasi Pendidikan Moral Menuju Harmoni Sosial" membahas upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dari kebijakan sentralisasi yang berubah menjadi desentralisasi dan kemudian demokratisasi hingga perubahan kurikulum yang dianggap mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Namun, realitas hasil pendidikan yang terjadi saat ini masih diwarnai oleh masalah-masalah yang semakin kompleks. Dari semua masalah pendidikan, ketidakharmonisan sosial adalah gambaran yang paling mencolok, menunjukkan bahwa pendidikan gagal membentuk manusia yang beradab.

Artikel ini berupaya untuk meninjau evaluasi pendidikan moral pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan. Kedua mata pelajaran ini dianggap paling bertanggung jawab dalam membentuk etika berpikir dan perilaku manusia yang terdidik. Menurut kurikulum yang berlaku saat ini, rencana dan proses pembelajaran telah berjalan dengan baik, tetapi perlu direkonstruksi dalam evaluasi hasil belajar siswa. Harapannya adalah penilaian utama tidak hanya berasal dari ranah kognitif sebagai pembelajaran lengkap di dalam kelas, tetapi lebih dari itu adalah penilaian afektif dan psikomotorik yang nyata dan permanen pada siswa hingga tumbuh dalam masyarakat sosial yang harmonis.

Jurnal ini mencoba menggarisbawahi bahwa pendidikan moral harus lebih dari sekadar pengetahuan di kelas, dan penting untuk mengukur dampaknya pada sikap dan tindakan siswa dalam masyarakat. Evaluasi yang lebih holistik dan berfokus pada aspek afektif dan psikomotorik mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa pendidikan moral benar-benar berkontribusi pada pembentukan masyarakat yang harmonis dan etis.
Nama: Meyin syabira
Npm:2213053185

Instrumen penilaian pengembangan nilai agama dan moral pada anak usia dini adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi perkembangan nilai-nilai agama dan moral pada anak-anak dalam usia dini (biasanya di bawah usia 6 tahun). Analisis materi instrumen ini dapat mencakup beberapa poin penting:

1. Tujuan Instrumen: Pertama, perlu dianalisis tujuan instrumen ini. Apakah instrumen ini dirancang untuk mengukur pemahaman anak terhadap nilai-nilai agama tertentu, moralitas, atau etika dalam konteks agama tertentu?

2. Komponen Penilaian: Instrumen penilaian mungkin mencakup berbagai komponen, seperti pertanyaan, aktivitas, atau observasi yang dirancang untuk mengukur pengembangan nilai agama dan moral anak. Analisis akan melibatkan peninjauan komponen-komponen ini dan sejauh mana mereka mencakup aspek-aspek yang relevan.

3. Metode Pengukuran: Bagaimana instrumen ini mengukur pengembangan nilai agama dan moral? Apakah itu berdasarkan respons anak terhadap cerita-cerita agama, permainan, observasi perilaku, atau jenis metode lainnya? Metode pengukuran ini harus relevan dan sesuai dengan usia anak.

4. Validitas dan Reliabilitas: Instrumen penilaian harus memiliki validitas (mengukur apa yang seharusnya diukur) dan reliabilitas (konsistensi dalam pengukuran). Analisis akan mencakup pertanyaan apakah instrumen ini telah diuji untuk validitas dan reliabilitasnya.

5. Aspek Kultural dan Keagamaan: Penting untuk mempertimbangkan konteks kultural dan agama dalam analisis instrumen ini. Apakah instrumen ini mencerminkan nilai-nilai agama yang berbeda atau budaya tertentu? Apakah itu sensitif terhadap perbedaan keagamaan?

6.Kemampuan Penggunaan: Instrumen ini harus dapat digunakan dengan baik oleh orang tua, guru, atau profesional yang bekerja dengan anak-anak usia dini. Analisis akan mencakup apakah instrumen ini mudah digunakan dan diinterpretasikan.

7. Kegunaan Hasil: Analisis juga akan mempertimbangkan bagaimana hasil dari instrumen ini dapat digunakan untuk mendukung pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini.

Penting untuk memastikan bahwa instrumen penilaian semacam ini dikembangkan dengan cermat dan mempertimbangkan karakteristik anak usia dini serta mematuhi prinsip-prinsip etika dalam penilaian anak-anak.